Tingkatkan Daya Saing Kota Global, Literasi Digital Sasar Anak Muda Jakarta
Selasa, 16 September 2025 - 12:54 WIB
loading...
Demi meningkatkan daya saing Jakarta sebagai kota global, sejumlah anak muda diberi pembekalan literasi digital ekonomi. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Demi meningkatkan daya saing Jakarta sebagai kota global, sejumlah anak muda diberi pembekalan literasi digital ekonomi. Hal itu terlihat dalam 'Nyala Festival' yang diselenggarakan di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, 12-14 September 2025.
Beragam pelatihan, materi pengembangan ekonomi, pameran produk, Pekan QRIS Nasional, hingga hiburan musik. Marketing Communication Division Head OCBC Jeannette Erena Kristy Tampi mengatakan, pemahaman literasi keuangan akan menyiapkan seseorang untuk menghadapi masa depan.
Baca juga: Mengenal Literasi Digital Sejak Dini
Karena itu, dia mengajak anak muda untuk bijak dalam menabung dan mencatat pengeluaran hingga bijak dalam mengelola uang. "Inilah kunci untuk benar-benar win this economy,” ujarnya, Senin (15/9/2025).
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dengan laju 5,12 persen pada kuartal II 2025. Ini mencerminkan daya tahan ekonomi di tengah gejolak global.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Yosamartha mengakui ada banyak ruang yang perlu dioptimalkan di tengah akseptasi digital Jakarta yang terus tumbuh. Salah satunya penggunaan QRIS.
“Penggunaan QRIS masih relatif terkonsentrasi di beberapa wilayah Jakarta, sehingga perlu upaya lebih lanjut untuk memperluas akseptasi QRIS dan pendalaman literasi digital melalui sinergi dan kolaborasi inovatif guna meningkatkan inklusivitas sistem pembayaran QRIS di seluruh wilayah Jakarta," ungkapnya.
Baginya melalui penguatan literasi keuangan digital, termasuk pembayaran non-tunai lewat QRIS menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung perekonomian Jakarta yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Tingkat literasi masyarakat Jakarta yang semakin kuat terhadap keuangan digital akan memperluas layanan jasa dan keuangan sekaligus memperkokoh daya saing Jakarta sebagai kota global.
Director Strategic Analytics & Insights NielsenIQ (NIQ) Indonesia Inggit Primadevi memaparkan dalam sisi demograsi bahwa kelompok berpenghasilan di atas Rp40 juta justru mencatat peningkatan skor ke 59,95, naik dari 58,72 tahun lalu, ini memperlihatkan resiliensi mereka.
Namun, kelompok middle income (Rp8-15 juta) mengalami penurunan ke 44,15, dan kelompok Rp5-8 juta turun ke 36,76. Tekanan juga paling terasa di usia 25–29 tahun baik yang belum ataupun sudah menikah, dengan skor 39,00, turun dari 40,27.
“Kami melihat adanya kehati-hatian lebih dalam perencanaan keuangan jangka panjang, karena peningkatan kepemilikan investasi jangka panjang berasal dari mereka yang sudah punya kebiasaan menabung secara rutin dan memiliki dana darurat," ujar Inggit.
Artinya, sebagian anak muda Indonesia yang sudah memiliki kebiasaan finansial dasar yang baik terus mencari cara untuk lebih sehat finansial menyongsong masa depan.
Beragam pelatihan, materi pengembangan ekonomi, pameran produk, Pekan QRIS Nasional, hingga hiburan musik. Marketing Communication Division Head OCBC Jeannette Erena Kristy Tampi mengatakan, pemahaman literasi keuangan akan menyiapkan seseorang untuk menghadapi masa depan.
Baca juga: Mengenal Literasi Digital Sejak Dini
Karena itu, dia mengajak anak muda untuk bijak dalam menabung dan mencatat pengeluaran hingga bijak dalam mengelola uang. "Inilah kunci untuk benar-benar win this economy,” ujarnya, Senin (15/9/2025).
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid dengan laju 5,12 persen pada kuartal II 2025. Ini mencerminkan daya tahan ekonomi di tengah gejolak global.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Yosamartha mengakui ada banyak ruang yang perlu dioptimalkan di tengah akseptasi digital Jakarta yang terus tumbuh. Salah satunya penggunaan QRIS.
“Penggunaan QRIS masih relatif terkonsentrasi di beberapa wilayah Jakarta, sehingga perlu upaya lebih lanjut untuk memperluas akseptasi QRIS dan pendalaman literasi digital melalui sinergi dan kolaborasi inovatif guna meningkatkan inklusivitas sistem pembayaran QRIS di seluruh wilayah Jakarta," ungkapnya.
Baginya melalui penguatan literasi keuangan digital, termasuk pembayaran non-tunai lewat QRIS menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung perekonomian Jakarta yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Tingkat literasi masyarakat Jakarta yang semakin kuat terhadap keuangan digital akan memperluas layanan jasa dan keuangan sekaligus memperkokoh daya saing Jakarta sebagai kota global.
Director Strategic Analytics & Insights NielsenIQ (NIQ) Indonesia Inggit Primadevi memaparkan dalam sisi demograsi bahwa kelompok berpenghasilan di atas Rp40 juta justru mencatat peningkatan skor ke 59,95, naik dari 58,72 tahun lalu, ini memperlihatkan resiliensi mereka.
Namun, kelompok middle income (Rp8-15 juta) mengalami penurunan ke 44,15, dan kelompok Rp5-8 juta turun ke 36,76. Tekanan juga paling terasa di usia 25–29 tahun baik yang belum ataupun sudah menikah, dengan skor 39,00, turun dari 40,27.
“Kami melihat adanya kehati-hatian lebih dalam perencanaan keuangan jangka panjang, karena peningkatan kepemilikan investasi jangka panjang berasal dari mereka yang sudah punya kebiasaan menabung secara rutin dan memiliki dana darurat," ujar Inggit.
Artinya, sebagian anak muda Indonesia yang sudah memiliki kebiasaan finansial dasar yang baik terus mencari cara untuk lebih sehat finansial menyongsong masa depan.
(jon)
Lihat Juga :