Hadapi Krisis Iklim, Ditjen Bimas Islam Ajak Mahasiswa UIN Yogyakarta Perkuat Ekoteologi
Selasa, 16 September 2025 - 07:07 WIB
loading...
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengatakan, penguatan ekoteologi menjadi salah satu prioritas Kemenag. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) menyebut penguatan ekoteologi menjadi salah satu prioritas Kemenag. Sebab pelestarian alam merupakan amanah.
Hal itu terungkap dalam kegiatan Bincang Syariah Goes To Campus yang mengangkat tema Mawlid For Earth: Sharia and Eco Wisdom yang diselenggarakan di Masjid Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin, 15 September 2025.
Diskusi yang menghadirkan dosen UIN Sunan Kalijaga Fahruddin Faiz, dan influencer muda Kalis Mardiasih dan 1.000 peserta ini mengulas isu lingkungan dari perspektif keagamaan.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengatakan, penguatan ekoteologi menjadi salah satu prioritas Kemenag.
Baca juga: Atasi Krisis Iklim, Dai Muda Diajak Gemakan Kesadaran Lingkungan
“Menjaga lingkungan bukan hanya kebutuhan duniawi, tetapi juga bagian dari tujuan agama. Dalam Islam, pelestarian alam adalah amanah yang harus kita rawat,” ujarnya.
Arsad mengingatkan dunia tengah menghadapi krisis lingkungan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, banjir, degradasi tanah, hingga deforestasi disebutnya sebagai ancaman nyata yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
“Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut kesadaran spiritual. Kemenag mendorong lahirnya gerakan kolektif berbasis nilai agama untuk merespons krisis iklim. Setiap ayat Al-Qur’an dan hadis yang menyinggung pentingnya menjaga bumi adalah panggilan moral bagi umat Islam untuk bertindak nyata,” tegasnya.
Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW, Menag Kenalkan Konsep Ekoteologi ke Presiden dan Wapres
Arsad menilai, konsep ekoteologi selaras dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan. Menurutnya, pelestarian lingkungan harus ditempatkan sejajar dengan upaya menjaga jiwa, akal, agama, keturunan, dan harta. Hal ini sekaligus memperluas dimensi tujuan syariat dalam konteks kekinian.
Acara yang dikemas interaktif ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat baru di kalangan mahasiswa dan sivitas akademika untuk menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari pengamalan agama.
“Belajar dari keteladanan Nabi, kita diajarkan untuk hidup sederhana, tidak merusak, dan selalu berpihak pada kelestarian bumi. Spirit inilah yang kami harap tumbuh dalam setiap aktivitas keagamaan di kampus maupun masyarakat,” kata Arsyad.
Hal itu terungkap dalam kegiatan Bincang Syariah Goes To Campus yang mengangkat tema Mawlid For Earth: Sharia and Eco Wisdom yang diselenggarakan di Masjid Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin, 15 September 2025.
Diskusi yang menghadirkan dosen UIN Sunan Kalijaga Fahruddin Faiz, dan influencer muda Kalis Mardiasih dan 1.000 peserta ini mengulas isu lingkungan dari perspektif keagamaan.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, mengatakan, penguatan ekoteologi menjadi salah satu prioritas Kemenag.
Baca juga: Atasi Krisis Iklim, Dai Muda Diajak Gemakan Kesadaran Lingkungan
“Menjaga lingkungan bukan hanya kebutuhan duniawi, tetapi juga bagian dari tujuan agama. Dalam Islam, pelestarian alam adalah amanah yang harus kita rawat,” ujarnya.
Arsad mengingatkan dunia tengah menghadapi krisis lingkungan yang semakin kompleks. Perubahan iklim, banjir, degradasi tanah, hingga deforestasi disebutnya sebagai ancaman nyata yang memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
“Kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut kesadaran spiritual. Kemenag mendorong lahirnya gerakan kolektif berbasis nilai agama untuk merespons krisis iklim. Setiap ayat Al-Qur’an dan hadis yang menyinggung pentingnya menjaga bumi adalah panggilan moral bagi umat Islam untuk bertindak nyata,” tegasnya.
Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW, Menag Kenalkan Konsep Ekoteologi ke Presiden dan Wapres
Arsad menilai, konsep ekoteologi selaras dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan. Menurutnya, pelestarian lingkungan harus ditempatkan sejajar dengan upaya menjaga jiwa, akal, agama, keturunan, dan harta. Hal ini sekaligus memperluas dimensi tujuan syariat dalam konteks kekinian.
Acara yang dikemas interaktif ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat baru di kalangan mahasiswa dan sivitas akademika untuk menjadikan isu lingkungan sebagai bagian dari pengamalan agama.
“Belajar dari keteladanan Nabi, kita diajarkan untuk hidup sederhana, tidak merusak, dan selalu berpihak pada kelestarian bumi. Spirit inilah yang kami harap tumbuh dalam setiap aktivitas keagamaan di kampus maupun masyarakat,” kata Arsyad.
(cip)
Lihat Juga :