Aib Politik Perang Bubat Kerajaan Majapahit Vs Sunda Tak Dijelaskan pada Nagarakretagama
Selasa, 26 Agustus 2025 - 06:16 WIB
loading...
Mpu Prapanca dikenal sebagai penggubah Kakawin Nagarakretagama sekaligus yang menggambarkan sejarah Kerajaan Majapahit. Namun, dari beberapa frase sejarah di Majapahit ada satu peristiwa Perang Bubat yang tidak digambarkannya. Foto: Ist
A
A
A
MPU Prapanca dikenal sebagai penggubah Kakawin Nagarakretagama sekaligus yang menggambarkan sejarah Kerajaan Majapahit . Namun, dari beberapa frase sejarah di Kerajaan Majapahit ada satu momen peristiwa Perang Bubat yang tidak digambarkannya.
Mungkin bagi Mpu Prapanca yang juga bagian dari pejabat keagamaan di Majapahit itu merasa sesuatu aib. Hubungan antara Kerajaan Majapahit dan Sunda saat itu tidak baik, apalagi berujung dengan Perang Bubat.
Baca juga: Kisah Warga Daha dan Tumapel Tinggal di Hutan Tarik Cikal Bakal Kerajaan Majapahit
Bagi Prapanca, Perang Bubat dan kegagalan penaklukan Sunda oleh Gajah Mada merupakan suatu aib besar. Apalagi ditambah Perang Bubat yang merupakan miskomunikasi antara dua petinggi kerajaan yakni Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Sejarawan Prof Slamet Muljana dalam bukunya "Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit" menyebutkan peperangan antara pasukan Majapahit dan Sunda dicatatkan pada Kidung Sundayana dan Kakawin Pararaton.
Bagaimana pun kekuasaan Kerajaan Majapahit pada zaman Gajah Mada terlalu besar. Majapahit disegani di seluruh Nusantara. Dengan sendirinya wilayah Majapahit juga luas sekali mencapai daerah di luar Jawa, meskipun mungkin pemerintahan Majapahit di luar Jawa tidak dijalankan seintensif di Jawa.
Di Jawa, pemerintahan daerah diserahkan kepada pelbagai raja-raja kecil atau juru yang boleh dikatakan mempunyai kedudukan swatantra. Pungutan pajak daerah berupa upeti pada hakikatnya tak lain dari soal pengakuan akan kekuasaan Kerajaan Majapahit, jumlahnya terlalu sedikit.
Mungkin sekali, kota-kota pelabuhan yang disebut dalam daftar tanah jajahan Majapahit di luar Jawa itu hanya diharuskan membayar upeti yang sangat ringan. Upeti itu dipungut oleh bujangga dan mantri atau sejenis pegawai Kerajaan Majapahit yang dikirim dari pusat kerajaan.
Jadi, tidak semuanya diantar ke Majapahit oleh utusan dari daerah yang bersangkutan. Hubungan dagang antara Majapahit dan berbagai kota pelabuhan ketika itu pasti ramai sekali. Untuk mendapatkan berbagai kemudahan, pedagang tidak segan-segan menghadap raja, mempersembahkan upeti dan mengaku sebagai utusan kerajaan tertentu tempat asalnya.
Mungkin bagi Mpu Prapanca yang juga bagian dari pejabat keagamaan di Majapahit itu merasa sesuatu aib. Hubungan antara Kerajaan Majapahit dan Sunda saat itu tidak baik, apalagi berujung dengan Perang Bubat.
Baca juga: Kisah Warga Daha dan Tumapel Tinggal di Hutan Tarik Cikal Bakal Kerajaan Majapahit
Bagi Prapanca, Perang Bubat dan kegagalan penaklukan Sunda oleh Gajah Mada merupakan suatu aib besar. Apalagi ditambah Perang Bubat yang merupakan miskomunikasi antara dua petinggi kerajaan yakni Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Sejarawan Prof Slamet Muljana dalam bukunya "Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit" menyebutkan peperangan antara pasukan Majapahit dan Sunda dicatatkan pada Kidung Sundayana dan Kakawin Pararaton.
Bagaimana pun kekuasaan Kerajaan Majapahit pada zaman Gajah Mada terlalu besar. Majapahit disegani di seluruh Nusantara. Dengan sendirinya wilayah Majapahit juga luas sekali mencapai daerah di luar Jawa, meskipun mungkin pemerintahan Majapahit di luar Jawa tidak dijalankan seintensif di Jawa.
Di Jawa, pemerintahan daerah diserahkan kepada pelbagai raja-raja kecil atau juru yang boleh dikatakan mempunyai kedudukan swatantra. Pungutan pajak daerah berupa upeti pada hakikatnya tak lain dari soal pengakuan akan kekuasaan Kerajaan Majapahit, jumlahnya terlalu sedikit.
Mungkin sekali, kota-kota pelabuhan yang disebut dalam daftar tanah jajahan Majapahit di luar Jawa itu hanya diharuskan membayar upeti yang sangat ringan. Upeti itu dipungut oleh bujangga dan mantri atau sejenis pegawai Kerajaan Majapahit yang dikirim dari pusat kerajaan.
Jadi, tidak semuanya diantar ke Majapahit oleh utusan dari daerah yang bersangkutan. Hubungan dagang antara Majapahit dan berbagai kota pelabuhan ketika itu pasti ramai sekali. Untuk mendapatkan berbagai kemudahan, pedagang tidak segan-segan menghadap raja, mempersembahkan upeti dan mengaku sebagai utusan kerajaan tertentu tempat asalnya.
(jon)
Lihat Juga :