Hasil Riset UGM dan SAIL Sebut Teknologi AI Perbesar Penyebaran Misinformasi
Jum'at, 22 Agustus 2025 - 08:11 WIB
loading...
Riset yang dilakukan oleh Safer Internet Lab (SAIL) menunjukkan teknologi AI berpotensi memperbesar penyebaran misinformasi yang mengancam demokrasi, Foto/SindoNews
A
A
A
YOGYAKARTA - Terbukanya akses terhadap teknologi Generative Artificial Intelligence (GenAI menandai masuknya manusia ke babak baru. Demokratisasi AI membuka berbagai peluang baru sekaligus membawa risiko serius.
Riset yang dilakukan oleh Safer Internet Lab (SAIL) menunjukkan teknologi AI berpotensi memperbesar penyebaran misinformasi yang mengancam demokrasi, mendorong penipuan daring yang merugikan ekonomi digital, bahkan memengaruhi geopolitik melalui praktik Foreign Information Manipulation and Intervention (FIMI) di kawasan Asia-Pasifik.
Sejalan dengan itu, penelitian dari Center for Digital Society (CfDS) juga menyoroti hal serupa mengenai risiko penggunaan AI dalam Pemilu 2024. Beragam risiko yang dapat ditimbulkan teknologi AI perlu direspons dengan tanggap, baik dari sisi pembuat kebijakan melalui regulasi ketat, sisi perusahaan melalui pendekatan yang humanis, sisi masyarakat melalui pendidikan dan literasi digital, hingga kolaborasi antara ketiganya.
Baca juga: NeutraDC Summit 2025 Hadir Kembali di Bali, Angkat Tema AI Collaboration
Menjawab tantangan tersebut, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) melalui Safer Internet Lab (SAIL) bersama Center for Digital Society (CfDS) menyelenggarakan Information Resilience and Integrity Symposium (IRIS), sebuah forum akademik dan kebijakan internasional yang digelar pada 21 Agustus 2025 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM).
Simposium ini dirancang untuk membahas bagaimana kawasan Asia-Pasifik dapat bersama menghadapi gelombang inovasi teknologi sekaligus menjaga integritas dan ketahanan ruang digital.
Acara IRIS 2025 ini dibuka oleh Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Wening Udasmoro dengan menekankan peran akademisi dalam menjembatani kebijakan, penelitian, dan pemahaman publik terkait GenAI.
Baca juga: Indonesia Future of Learning Summit 2025 Soroti Peran AI dalam Dunia Pendidikan
Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri yang memaparkan peluang sekaligus risiko GenAI di kawasan Asia-Pasifik.
Menteri Komunikasi dan Urusan Digital (Komdigi) Meutya Viada Hafid menyampaikan pidato kunci mengenai kesiapan kebijakan Indonesia dalam menghadapi tantangan GenAI.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan kuliah umum oleh Prof. Ang Peng Hwa dari Nanyang Technological University, Singapura, yang mengulas potensi kerja sama regional dalam memperkuat resiliensi informasi.
Sesi berikutnya adalah strategic dialogue yang menghadirkan Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, Komdigi Maria Monica Wihardja, Visiting Fellow dan Co-Coordinator Media, Technology and Society Programme, ISEAS–Yusof Ishak Institute, serta Poppy Sulistyaning Winanti sebagai moderator.
Dalam pidatonya, Yose Rizal Damuri menekankan risiko dari teknologi AI mencakup penipuan finansial, manipulasi informasi asing, hingga ancaman terhadap privasi dan integritas demokrasi. Untuk menjawab tantangan ini, CSIS melalui SAIL, menyelenggarakan IRIS, sebuah platform lintas sektor yang menjembatani kajian akademis dengan kebijakan untuk mendukung rekomendasi berbasis data.
Riset yang dilakukan oleh Safer Internet Lab (SAIL) menunjukkan teknologi AI berpotensi memperbesar penyebaran misinformasi yang mengancam demokrasi, mendorong penipuan daring yang merugikan ekonomi digital, bahkan memengaruhi geopolitik melalui praktik Foreign Information Manipulation and Intervention (FIMI) di kawasan Asia-Pasifik.
Sejalan dengan itu, penelitian dari Center for Digital Society (CfDS) juga menyoroti hal serupa mengenai risiko penggunaan AI dalam Pemilu 2024. Beragam risiko yang dapat ditimbulkan teknologi AI perlu direspons dengan tanggap, baik dari sisi pembuat kebijakan melalui regulasi ketat, sisi perusahaan melalui pendekatan yang humanis, sisi masyarakat melalui pendidikan dan literasi digital, hingga kolaborasi antara ketiganya.
Baca juga: NeutraDC Summit 2025 Hadir Kembali di Bali, Angkat Tema AI Collaboration
Menjawab tantangan tersebut, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) melalui Safer Internet Lab (SAIL) bersama Center for Digital Society (CfDS) menyelenggarakan Information Resilience and Integrity Symposium (IRIS), sebuah forum akademik dan kebijakan internasional yang digelar pada 21 Agustus 2025 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM).
Simposium ini dirancang untuk membahas bagaimana kawasan Asia-Pasifik dapat bersama menghadapi gelombang inovasi teknologi sekaligus menjaga integritas dan ketahanan ruang digital.
Acara IRIS 2025 ini dibuka oleh Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Wening Udasmoro dengan menekankan peran akademisi dalam menjembatani kebijakan, penelitian, dan pemahaman publik terkait GenAI.
Baca juga: Indonesia Future of Learning Summit 2025 Soroti Peran AI dalam Dunia Pendidikan
Diskusi kemudian dilanjutkan oleh Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri yang memaparkan peluang sekaligus risiko GenAI di kawasan Asia-Pasifik.
Menteri Komunikasi dan Urusan Digital (Komdigi) Meutya Viada Hafid menyampaikan pidato kunci mengenai kesiapan kebijakan Indonesia dalam menghadapi tantangan GenAI.
Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan kuliah umum oleh Prof. Ang Peng Hwa dari Nanyang Technological University, Singapura, yang mengulas potensi kerja sama regional dalam memperkuat resiliensi informasi.
Sesi berikutnya adalah strategic dialogue yang menghadirkan Wijaya Kusumawardhana, Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi, dan Budaya, Komdigi Maria Monica Wihardja, Visiting Fellow dan Co-Coordinator Media, Technology and Society Programme, ISEAS–Yusof Ishak Institute, serta Poppy Sulistyaning Winanti sebagai moderator.
Dalam pidatonya, Yose Rizal Damuri menekankan risiko dari teknologi AI mencakup penipuan finansial, manipulasi informasi asing, hingga ancaman terhadap privasi dan integritas demokrasi. Untuk menjawab tantangan ini, CSIS melalui SAIL, menyelenggarakan IRIS, sebuah platform lintas sektor yang menjembatani kajian akademis dengan kebijakan untuk mendukung rekomendasi berbasis data.
(cip)
Lihat Juga :