Pilu! Balita di Sukabumi Meninggal Dunia Akibat Sekujur Tubuh Dipenuhi Cacing
Selasa, 19 Agustus 2025 - 20:59 WIB
loading...
RSUD R. Syamsudin, Sukabumi. Foto/Dharmawan Hadi
A
A
A
SUKABUMI - Video anak balita meninggal dunia dengan sekujur tubuhnya dipenuhi cacing viral di media sosial. Rekaman perjuangan relawan kemanusiaan dari Rumah Teduh Sukabumi untuk menyelamatkan nyawa Raya (3) pupus sudah setelah 9 hari membawanya ke rumah sakit.
Dalam kondisi kritis dalam video tersebut, cacing gelang dengan panjang 15 sentimeter yang masih hidup dikeluarkan dari hidung dan mulutnya. Tidak hanya itu, ratusan cacing juga keluar dari anus dan alat kelaminnya dengan sebagian besar dari cacing tersebut masih dalam keadaan hidup.
Bahkan walaupun ratusan cacing sudah dikeluarkan dari tubuh Raya mencapai berat 1 kilogram, namun jumlah cacing tersebut masih tetap banyak. Menurut hasil CT scan dan rontgen, ratusan telur cacing sudan bersemayam di kepala balita malang tersebut.
Baca juga: Kecelakaan Maut Mobil Tabrak Truk di Tol Jombang Akibatkan 3 Orang Tewas
Saat dikonfirmasi, humas RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi, dr Irfan mengatakan, Raya dibawa oleh relawan kemanusiaan Rumah Teduh Sukabumi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada Minggu (13/7/2025) sekira pukul 20.00 WIB.
"Pasien datang dibawa keluarga dan tim pengantar dalam keadaan tidak sadar. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan syok atau kekurangan cairan berat," ujar Irfan, Selasa (19/8/2025).
Lebih lanjut Irfan menjelaskan, kondisi syok pasien berhasil ditangani, namun penyebab penurunan kesadaran belum diketahui pasti. Pada saat pasien di IGD, tiba-tiba keluar cacing dari hidungnya.
"Dari situ, kita mulai menduga ada kaitannya dengan infeksi cacing. Setelah kondisinya sedikit stabil, Pasien dirujuk ke ruang PICU untuk mendapat penanganan intensif anak," jelas Irfan.
Dari hasil pemeriksaan medis, lanjut Irfan, tubuh Raya terserang infeksi penyakit askariasis yang diakibatkan cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang umumnya hidup di tanah.
"Infeksi bisa terjadi ketika telur cacing tertelan, baik melalui makanan, minuman, maupun tangan yang kotor. Telur akan menetas di usus, lalu berkembang jadi larva yang bisa menyebar lewat aliran darah ke organ-organ, bahkan otak. Itu sebabnya pasien bisa tidak sadar," ujar Irfan.
Irfan menduga, penyebabnya adalah pasien sering main di tanah tanpa menggunakan sandal dan juga kondisi lingkungan tempat tinggal Raya yang ikut mempengaruhi karena tinggal di rumah panggung sederhana dengan tanah terbuka di bawahnya.
"Kasus parah seperti ini sangat jarang hingga berujung kematian. Pasien juga diduga mengalami komplikasi tuberkulosis meningitis, mengingat orang tuanya sedang dalam pengobatan TB paru. Jadi kemungkinan penyebabnya kombinasi antara infeksi cacing dan TB," ujar Irfan.
Irfan menambahkan, segala upaya medis untuk menyelamatkan nyawa Raya sudah ditempuh, namun kondisi yang kritis sejak awal membuat obat cacing tak bekerja optimal.
"Raya dibawa ke rumah sakit dalam kondisi terminal. Kalau penilaian saya pribadi sudah amat sangat terlambat dibawa ke rumah sakit. Obat yang kita berikan tidak bisa seefektif itu. Pada akhirnya, Raya meninggal dunia pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB," ujar Irfan.
Dalam kondisi kritis dalam video tersebut, cacing gelang dengan panjang 15 sentimeter yang masih hidup dikeluarkan dari hidung dan mulutnya. Tidak hanya itu, ratusan cacing juga keluar dari anus dan alat kelaminnya dengan sebagian besar dari cacing tersebut masih dalam keadaan hidup.
Bahkan walaupun ratusan cacing sudah dikeluarkan dari tubuh Raya mencapai berat 1 kilogram, namun jumlah cacing tersebut masih tetap banyak. Menurut hasil CT scan dan rontgen, ratusan telur cacing sudan bersemayam di kepala balita malang tersebut.
Baca juga: Kecelakaan Maut Mobil Tabrak Truk di Tol Jombang Akibatkan 3 Orang Tewas
Saat dikonfirmasi, humas RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi, dr Irfan mengatakan, Raya dibawa oleh relawan kemanusiaan Rumah Teduh Sukabumi ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada Minggu (13/7/2025) sekira pukul 20.00 WIB.
"Pasien datang dibawa keluarga dan tim pengantar dalam keadaan tidak sadar. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan syok atau kekurangan cairan berat," ujar Irfan, Selasa (19/8/2025).
Lebih lanjut Irfan menjelaskan, kondisi syok pasien berhasil ditangani, namun penyebab penurunan kesadaran belum diketahui pasti. Pada saat pasien di IGD, tiba-tiba keluar cacing dari hidungnya.
"Dari situ, kita mulai menduga ada kaitannya dengan infeksi cacing. Setelah kondisinya sedikit stabil, Pasien dirujuk ke ruang PICU untuk mendapat penanganan intensif anak," jelas Irfan.
Dari hasil pemeriksaan medis, lanjut Irfan, tubuh Raya terserang infeksi penyakit askariasis yang diakibatkan cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang umumnya hidup di tanah.
"Infeksi bisa terjadi ketika telur cacing tertelan, baik melalui makanan, minuman, maupun tangan yang kotor. Telur akan menetas di usus, lalu berkembang jadi larva yang bisa menyebar lewat aliran darah ke organ-organ, bahkan otak. Itu sebabnya pasien bisa tidak sadar," ujar Irfan.
Irfan menduga, penyebabnya adalah pasien sering main di tanah tanpa menggunakan sandal dan juga kondisi lingkungan tempat tinggal Raya yang ikut mempengaruhi karena tinggal di rumah panggung sederhana dengan tanah terbuka di bawahnya.
"Kasus parah seperti ini sangat jarang hingga berujung kematian. Pasien juga diduga mengalami komplikasi tuberkulosis meningitis, mengingat orang tuanya sedang dalam pengobatan TB paru. Jadi kemungkinan penyebabnya kombinasi antara infeksi cacing dan TB," ujar Irfan.
Irfan menambahkan, segala upaya medis untuk menyelamatkan nyawa Raya sudah ditempuh, namun kondisi yang kritis sejak awal membuat obat cacing tak bekerja optimal.
"Raya dibawa ke rumah sakit dalam kondisi terminal. Kalau penilaian saya pribadi sudah amat sangat terlambat dibawa ke rumah sakit. Obat yang kita berikan tidak bisa seefektif itu. Pada akhirnya, Raya meninggal dunia pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB," ujar Irfan.
(rca)
Lihat Juga :