Penyerbuan Belanda ke Benteng Warisan Mataram Dibalas Serangan Balasan Pasukan Diponegoro
Selasa, 19 Agustus 2025 - 12:50 WIB
loading...
Pasukan Belanda mengobrak-abrik Benteng Plered warisan Kerajaan Mataram. Foto/SindoNews
A
A
A
SEMARANG - Pasukan Belanda mengobrak-abrik Benteng Plered warisan Kerajaan Mataram. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel Cochius berkekuatan 7.342 orang yang menyerbu Benteng Plered dari empat penjuru pada 9 Juni 1826. Pertempuran itu banyak memakan korban dari kedua belah pihak.
Operasi pengejaran terhadap Pangeran Diponegoro pun dilakukan oleh pasukan Belanda hingga Jekso. Sang Pangeran berhasil meloloskan diri hingga ke barat melarikan diri. Pasukan Belanda itu memanfaatkan spionase dari penduduk lokal.
Di Jekso Diponegoro menerima pelbagai laporan mengenai jalannya peperangan. Operasi pengejaran ke Jekso dipimpin oleh Kolonel Cochius. Sebelum memasuki daerah lawan, pasukan Cochius dihadang oleh prajurit-prajurit Diponegoro.
Baca juga: Penguasaan Belanda di Kalimantan Tertunda Akibat Kewalahan Hadapi Pasukan Pangeran Diponegoro
Dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia", pada tanggal 8 Juli 1826 di sekitar Jekso terjadi pertempuran yang menelan banyak korban. Akibat operasi pengejaran yang terus-menerus, Diponegoro bergerak ke arah utara, menuju lereng selatan Gunung Merapi. Sampai di Kejiwan, gerakan pasukannya ditahan oleh pasukan Sollewijn.
Pada 9 Agustus 1826 terjadi pertempuran hebat. Pasukan Sollewijn mengalami kekalahan. Beberapa pucuk meriam, mortir, dan beberapa ekor kuda jatuh ke tangan pasukan Diponegoro. Mayor Sollewijn tertembak sebelah matanya. Gerakan pasukan Diponegoro tidak bisa ditahan.
Baca juga: 6 Brigjen Pol Naik Pangkat Setelah Dapat Promosi Jabatan dari Kapolri Awal Agustus 2025
Pada 23 Agustus 1826, desa Gading diduduki oleh pasukan Diponegoro untuk memutuskan jalur komunikasi Surakarta-Klaten. Dengan kekuatan 10.000 prajurit, pada 28 Agustus 1826 Delanggu yang dipertahankan 500 orang jatuh ke tangan Diponegoro. Sejumlah kereta pengangkut uang dan logistik dirampas.
Sementara itu, pasukan Diponegoro yang berasal dari Mataram link-up dengan pasukan prajurit Kiai Mojo dari Pajang, bergerak menuju Surakarta. Namun, gerakan pasukan ini berhasil ditahan di Desa Gawok. Pasukan Diponegoro mengalami kekalahan, pada tanggal 26 Oktober 1926.
Pangeran Diponegoro terluka, tetapi berhasil meloloskan diri. Sejak kekalahannya di Gawok, offensive Diponegoro terhenti, pasukannya mundur ke wilayah Pajang, dan tersebar di beberapa tempat, antara lain, Prambanan, Kalasan, Pulowatu, Jatinom, dan Delanggu.
Operasi pengejaran terhadap Pangeran Diponegoro pun dilakukan oleh pasukan Belanda hingga Jekso. Sang Pangeran berhasil meloloskan diri hingga ke barat melarikan diri. Pasukan Belanda itu memanfaatkan spionase dari penduduk lokal.
Di Jekso Diponegoro menerima pelbagai laporan mengenai jalannya peperangan. Operasi pengejaran ke Jekso dipimpin oleh Kolonel Cochius. Sebelum memasuki daerah lawan, pasukan Cochius dihadang oleh prajurit-prajurit Diponegoro.
Baca juga: Penguasaan Belanda di Kalimantan Tertunda Akibat Kewalahan Hadapi Pasukan Pangeran Diponegoro
Dikutip dari "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia", pada tanggal 8 Juli 1826 di sekitar Jekso terjadi pertempuran yang menelan banyak korban. Akibat operasi pengejaran yang terus-menerus, Diponegoro bergerak ke arah utara, menuju lereng selatan Gunung Merapi. Sampai di Kejiwan, gerakan pasukannya ditahan oleh pasukan Sollewijn.
Pada 9 Agustus 1826 terjadi pertempuran hebat. Pasukan Sollewijn mengalami kekalahan. Beberapa pucuk meriam, mortir, dan beberapa ekor kuda jatuh ke tangan pasukan Diponegoro. Mayor Sollewijn tertembak sebelah matanya. Gerakan pasukan Diponegoro tidak bisa ditahan.
Baca juga: 6 Brigjen Pol Naik Pangkat Setelah Dapat Promosi Jabatan dari Kapolri Awal Agustus 2025
Pada 23 Agustus 1826, desa Gading diduduki oleh pasukan Diponegoro untuk memutuskan jalur komunikasi Surakarta-Klaten. Dengan kekuatan 10.000 prajurit, pada 28 Agustus 1826 Delanggu yang dipertahankan 500 orang jatuh ke tangan Diponegoro. Sejumlah kereta pengangkut uang dan logistik dirampas.
Sementara itu, pasukan Diponegoro yang berasal dari Mataram link-up dengan pasukan prajurit Kiai Mojo dari Pajang, bergerak menuju Surakarta. Namun, gerakan pasukan ini berhasil ditahan di Desa Gawok. Pasukan Diponegoro mengalami kekalahan, pada tanggal 26 Oktober 1926.
Pangeran Diponegoro terluka, tetapi berhasil meloloskan diri. Sejak kekalahannya di Gawok, offensive Diponegoro terhenti, pasukannya mundur ke wilayah Pajang, dan tersebar di beberapa tempat, antara lain, Prambanan, Kalasan, Pulowatu, Jatinom, dan Delanggu.
(cip)
Lihat Juga :