Penguasaan Belanda di Kalimantan Tertunda Akibat Kewalahan Hadapi Pasukan Pangeran Diponegoro
Senin, 11 Agustus 2025 - 06:32 WIB
loading...
Kisah penguasaan kolonialisme Belanda di Kalimantan tertunda akibat kewalahan menghadapi pasukan Pangeran Diponegoro. Foto/Ilustrasi/Istimewa
A
A
A
BELANDA berusaha mengambil alih kekuasaan Kalimantan Barat dari Inggris pada 1819. Perlahan tapi pasti beberapa wilayah di Kalimantan bagian barat itu dikuasai oleh Belanda, salah satunya wilayah Kerajaan Sintang, yang mulai merasakan kolonialisme Belanda pada 1822.
Belanda mengirimkan ekspedisi ke kerajaan - kerajaan di sepanjang aliran Sungai Kapuas. Tujuannya mereka hendak memperbarui dan membuat perjanjian dengan kerajaan - kerajaan itu tadi.
Saat itu, Belanda belum memperlihatkan tanda-tanda hendak menguasai kawasan pedalaman Kapuas. Setahun berikutnya perjanjian antara Sintang dan Belanda dibuat, yang di masa berikutnya diperbarui beberapa kali. Pedalaman Kapuas dianggap tidak lebih sebagai pos pengamat terluar (outpost).
Baca juga: 2 Cara Jenderal Belanda Rebut Wilayah dari Pangeran Diponegoro dan Pasukannya
Apalagi pada 1825-1830 kolonialisme Belanda masih sibuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro, yang menyita hampir seluruh perhatian sehingga wilayah pedalaman Kalimantan Barat menjadi terabaikan, sebagaimana dikisahkan pada buku "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia".
Perhatian Belanda timbul kembali pada 1840-an ketika seorang James Brooke asal Inggris tiba di daerah Serawak, Kalimantan Utara. Kemudian Brooke menjadi raja di Serawak, yang dikenal sebagai the White Rajah (Raja Berkulit Putih).
la gencar dalam menjalin hubungan dengan daerah sekitarnya, hingga ke pedalaman Kapuas. Kerajaan Sintang dapat dicapai dari Serawak melalui sungai Ketunggau yang bermuara hingga ke Kalimantan Utara. Kerajaan Sintang menyambut baik upaya Brooke untuk menjalin hubungan niaga.
Perkembangan itu tidak lepas dari pengamatan pejabat kolonial Belanda di Pontianak. Khawatir bahwa Brooke akan memperluas pengaruh dan kekuasaannya di pedalaman Kalimantan Barat, Residen Belanda segera mengirim sejumlah pejabat ke daerah aliran Sungai Kapuas.
Pemberontakan buruh China dari kongsi Tay Kong di pertambangan emas daerah Sambas terhadap Belanda pada 1850 memperparah kondisi. Pemberontakan itu memang dapat dipadamkan, meski demikian sejumlah pelakunya melarikan diri hingga ke pedalaman Kapuas, dan tak lagi ditemukan keberadaannya.
Kejadian ini membuat Belanda kembali mendatangi Kerajaan Sintang pada 1855. Rombongan pejabat militer Belanda ini memaksa kerajaan di Sintang itu mengukuhkan kembali kekuasaannya.
Ketika itu kerajaan Sintang tengah menghadapi suksesi atau peralihan kekuasaan. Raja yang sedang berkuasa telah merasa tua dan hendak mewariskan takhtanya kepada putra mahkota kerajaan. Menurut adat istiadat kerajaan, pengangkatan itu harus melalui persetujuan dari para bangsawan dan pemuka kerajaan.
Raja Sintang telah mengirim surat kepada sultan Pontianak sehubungan dengan pengunduran dirinya. Karena rombongan Belanda berada di Sintang, mereka juga dimintai pendapat dan diizinkan ikut serta dalam pertemuan kerajaan.
Belanda mengirimkan ekspedisi ke kerajaan - kerajaan di sepanjang aliran Sungai Kapuas. Tujuannya mereka hendak memperbarui dan membuat perjanjian dengan kerajaan - kerajaan itu tadi.
Saat itu, Belanda belum memperlihatkan tanda-tanda hendak menguasai kawasan pedalaman Kapuas. Setahun berikutnya perjanjian antara Sintang dan Belanda dibuat, yang di masa berikutnya diperbarui beberapa kali. Pedalaman Kapuas dianggap tidak lebih sebagai pos pengamat terluar (outpost).
Baca juga: 2 Cara Jenderal Belanda Rebut Wilayah dari Pangeran Diponegoro dan Pasukannya
Apalagi pada 1825-1830 kolonialisme Belanda masih sibuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro, yang menyita hampir seluruh perhatian sehingga wilayah pedalaman Kalimantan Barat menjadi terabaikan, sebagaimana dikisahkan pada buku "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia".
Perhatian Belanda timbul kembali pada 1840-an ketika seorang James Brooke asal Inggris tiba di daerah Serawak, Kalimantan Utara. Kemudian Brooke menjadi raja di Serawak, yang dikenal sebagai the White Rajah (Raja Berkulit Putih).
la gencar dalam menjalin hubungan dengan daerah sekitarnya, hingga ke pedalaman Kapuas. Kerajaan Sintang dapat dicapai dari Serawak melalui sungai Ketunggau yang bermuara hingga ke Kalimantan Utara. Kerajaan Sintang menyambut baik upaya Brooke untuk menjalin hubungan niaga.
Perkembangan itu tidak lepas dari pengamatan pejabat kolonial Belanda di Pontianak. Khawatir bahwa Brooke akan memperluas pengaruh dan kekuasaannya di pedalaman Kalimantan Barat, Residen Belanda segera mengirim sejumlah pejabat ke daerah aliran Sungai Kapuas.
Pemberontakan buruh China dari kongsi Tay Kong di pertambangan emas daerah Sambas terhadap Belanda pada 1850 memperparah kondisi. Pemberontakan itu memang dapat dipadamkan, meski demikian sejumlah pelakunya melarikan diri hingga ke pedalaman Kapuas, dan tak lagi ditemukan keberadaannya.
Kejadian ini membuat Belanda kembali mendatangi Kerajaan Sintang pada 1855. Rombongan pejabat militer Belanda ini memaksa kerajaan di Sintang itu mengukuhkan kembali kekuasaannya.
Ketika itu kerajaan Sintang tengah menghadapi suksesi atau peralihan kekuasaan. Raja yang sedang berkuasa telah merasa tua dan hendak mewariskan takhtanya kepada putra mahkota kerajaan. Menurut adat istiadat kerajaan, pengangkatan itu harus melalui persetujuan dari para bangsawan dan pemuka kerajaan.
Raja Sintang telah mengirim surat kepada sultan Pontianak sehubungan dengan pengunduran dirinya. Karena rombongan Belanda berada di Sintang, mereka juga dimintai pendapat dan diizinkan ikut serta dalam pertemuan kerajaan.
(rca)
Lihat Juga :