Pakar Transportasi Ungkap Faktor Penyebab KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali
Jum'at, 04 Juli 2025 - 11:08 WIB
loading...
Pakar transportasi laut dari ITS Dr Ing Ir Setyo Nugroho memaparkan berbagai faktor penyebab tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali. Foto/Masdarul Khoiri
A
A
A
SURABAYA - Tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali menandai pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi laut di Indonesia. Khususnya pada jalur penyeberangan antarpulau.
![Pakar Transportasi Ungkap Faktor Penyebab KMP Tunu Pratama Jaya Tenggelam di Selat Bali]()
Foto/Ist
Pakar transportasi laut dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ing Ir Setyo Nugroho memaparkan berbagai faktor penyebab kecelakaan kapal sebagai upaya mitigasi di jalur perairan.
Baca juga: Mencekam! Kesaksian Korban Selamat KMP Tunu Pratama Jaya, Cuma 3 Menit Kapal Langsung Tenggelam
Dosen yang akrab disapa Yoyok ini menjelaskan, kecelakaan pada kapal jenis feri ini seringkali terjadi karena beberapa faktor yang berkesinambungan. Kecelakaan pada kapal tersebut terjadi tidak hanya karena faktor alam, namun juga karena kelalaian manusia.
“Hampir 90 persen kecelakaan kapal terjadi karena kelalaian manusia,” ungkap lelaki yang juga Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS tersebut.
Alumnus Magister Delft University of Technology, Belanda ini menambahkan bahwa kurangnya pemeliharaan pada mesin kapal hingga tidak dilakukannya perhitungan stabilitas muatan secara tepat menjadi pemicu utama terjadinya kecelakaan kapal karena faktor manusia.
Baca juga: Update Korban KMP Tunu Pratama Jaya: 35 Penumpang Ditemukan, 30 Orang Masih Hilang
"Dari faktor kelalaian manusia tersebut, sebanyak 80 persennya terjadi karena muatan yang tidak ditangani dengan benar,” ujar Yoyok.
Selain ketidaksesuaian muatan, dosen Departemen Teknik Transportasi Laut ITS ini menyebut bahwa cuaca ekstrem juga menjadi faktor penyebab yang tidak bisa diabaikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi cuaca laut yang sulit untuk diprediksi memperbesar risiko gangguan stabilitas pada kapal.
“Cuaca yang tidak stabil menyebabkan tingginya gelombang air laut yang membahayakan kapal,” tandasnya.
Ahli perencanaan muatan itu mengungkapkan, kecelakaan laut yang dialami KMP Tunu Pratama Jaya menunjukkan adanya indikasi-indikasi penyebab kecelakaan yang terjadi secara bersamaan.
Beberapa faktor seperti cuaca buruk, pengoperasian kapal yang tidak sesuai prosedur, hingga kondisi mesin yang kurang dirawat menjadi kombinasi yang memicu risiko tinggi terjadinya kecelakaan.
“Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan pelayaran di Indonesia perlu menjadi perhatian serius,” tambahnya.
Yoyok menekankan pentingnya dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional pelayaran. Di antaranya adalah prosedur pemuatan, perawatan kapal, hingga pengelolaan navigasi.
Selain itu, sistem manajemen muatan pun perlu diperbaiki agar setiap kapal memuat sesuai kapasitas dan stabilitasnya diperhitungkan secara akurat.
Untuk mengakselerasi upaya tersebut, akademisi berperan penting dalam memberikan solusi bagi kemudahan sistem transportasi laut di Indonesia. Salah satunya melalui upaya digitalisasi yang telah dikembangkan Yoyok pada aplikasi iStow. Aplikasi ini dibuat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal akibat kesalahan pada proses penataan muatan di atas kapal.
Upaya tersebut juga turut mendukung pencapaian Suistainable Development Goals (SDGs) pada poin ke-9 dan 14, yakni infrastruktur, industri dan inovasi serta untuk menjaga ekosistem laut.
Dia berharap agar perguruan tinggi mampu memberikan kontribusi luas untuk meningkatkan sistem keamanan laut global.

Foto/Ist
Pakar transportasi laut dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Ing Ir Setyo Nugroho memaparkan berbagai faktor penyebab kecelakaan kapal sebagai upaya mitigasi di jalur perairan.
Baca juga: Mencekam! Kesaksian Korban Selamat KMP Tunu Pratama Jaya, Cuma 3 Menit Kapal Langsung Tenggelam
Dosen yang akrab disapa Yoyok ini menjelaskan, kecelakaan pada kapal jenis feri ini seringkali terjadi karena beberapa faktor yang berkesinambungan. Kecelakaan pada kapal tersebut terjadi tidak hanya karena faktor alam, namun juga karena kelalaian manusia.
“Hampir 90 persen kecelakaan kapal terjadi karena kelalaian manusia,” ungkap lelaki yang juga Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS tersebut.
Alumnus Magister Delft University of Technology, Belanda ini menambahkan bahwa kurangnya pemeliharaan pada mesin kapal hingga tidak dilakukannya perhitungan stabilitas muatan secara tepat menjadi pemicu utama terjadinya kecelakaan kapal karena faktor manusia.
Baca juga: Update Korban KMP Tunu Pratama Jaya: 35 Penumpang Ditemukan, 30 Orang Masih Hilang
"Dari faktor kelalaian manusia tersebut, sebanyak 80 persennya terjadi karena muatan yang tidak ditangani dengan benar,” ujar Yoyok.
Selain ketidaksesuaian muatan, dosen Departemen Teknik Transportasi Laut ITS ini menyebut bahwa cuaca ekstrem juga menjadi faktor penyebab yang tidak bisa diabaikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi cuaca laut yang sulit untuk diprediksi memperbesar risiko gangguan stabilitas pada kapal.
“Cuaca yang tidak stabil menyebabkan tingginya gelombang air laut yang membahayakan kapal,” tandasnya.
Ahli perencanaan muatan itu mengungkapkan, kecelakaan laut yang dialami KMP Tunu Pratama Jaya menunjukkan adanya indikasi-indikasi penyebab kecelakaan yang terjadi secara bersamaan.
Beberapa faktor seperti cuaca buruk, pengoperasian kapal yang tidak sesuai prosedur, hingga kondisi mesin yang kurang dirawat menjadi kombinasi yang memicu risiko tinggi terjadinya kecelakaan.
“Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan pelayaran di Indonesia perlu menjadi perhatian serius,” tambahnya.
Yoyok menekankan pentingnya dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional pelayaran. Di antaranya adalah prosedur pemuatan, perawatan kapal, hingga pengelolaan navigasi.
Selain itu, sistem manajemen muatan pun perlu diperbaiki agar setiap kapal memuat sesuai kapasitas dan stabilitasnya diperhitungkan secara akurat.
Untuk mengakselerasi upaya tersebut, akademisi berperan penting dalam memberikan solusi bagi kemudahan sistem transportasi laut di Indonesia. Salah satunya melalui upaya digitalisasi yang telah dikembangkan Yoyok pada aplikasi iStow. Aplikasi ini dibuat untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal akibat kesalahan pada proses penataan muatan di atas kapal.
Upaya tersebut juga turut mendukung pencapaian Suistainable Development Goals (SDGs) pada poin ke-9 dan 14, yakni infrastruktur, industri dan inovasi serta untuk menjaga ekosistem laut.
Dia berharap agar perguruan tinggi mampu memberikan kontribusi luas untuk meningkatkan sistem keamanan laut global.
(shf)
Lihat Juga :