Basarnas Ungkap 31 Penumpang KMP Tunu Pratama Selamat karena Pakai Pelampung
Kamis, 03 Juli 2025 - 16:15 WIB
loading...
Sebanyak 31 orang penumpang KMP Tunu Pratama Jaya ditemukan selamat usai kapal yang merekai naiki tenggelam di Selat Bali, pada Kamis (3/7/2025) dini hari. Foto/Avirista Midaada
A
A
A
BANYUWANGI - Sebanyak 31 orang penumpang KMP Tunu Pratama Jaya ditemukan selamat usai kapal yang merekai naiki tenggelam di perairan Selat Bali, pada Kamis (3/7/2025) dini hari. Basarnas menyatakan para penumpang yang selamat tersebut karena menggunakan pelampung atau life jacket.
"Mereka memang rata-rata yang selamat ini menggunakan pelampung," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii kepada wartawan, Kamis (3/7/2025).
Baca juga: Ini Identitas 29 Penumpang Selamat dan 4 Meninggal Akibat Tenggelamnya Kapal Tunu Pratama
Sementara itu, empat orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh tim Basarnas. Korban ditemukan terdampar di Pantai Pebuahan, Kabupaten Jembrana, Bali.
"Jadi saya sampaikan kira-kira di 12 nautical mile itu ada di pantai Pebuahan di daerah Jembrana makanya dari situ kita bisa melihat ternyata faktor arus sangat kuat," tuturnya.
Sedangkan, 30 orang lainnya yang sebelumnya berada di kapal tersebut kini masih dalam proses pencarian. Syafii menyampaikan ada dua kemungkinan posisi korban atas tenggelam kapal tersebut.
Pertama, penumpang telah terseret arus laut atau menjauh dari kapal. Kemungkinan kedua, penumpang yang masih dalam pencarian itu terjebak di dalam kapal.
Baca juga: Angin Kencang dan Arus Kuat Jadi Tantangan Evakuasi Korban KMP Tunu Pratama Jaya
"Ada dua kemungkinan kalau korban ini sudah meninggalkan kapal atau bisa saja ada kemungkinan apakah ada yang terjebak, jadi kemungkinan ada di dua itu," ujar Syafii.
Terkait korban yang diduga telah meninggalkan kapal, pencarian akan difokuskan melihat arus laut yang diduga menyeret penumpang.
"Kalau kita bicara masalah yang bisa meninggalkan kapal pasti kita akan menghitung dari kecepatan arus, kondisi ombak dan juga angin, itu mungkin yang menjadi referensi untuk teman-teman di lapangan," tuturnya.
Syafii menyebut bahwa kapal tenggelam di kedalaman 50 meter. Diketahui, Kapal Feri KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali.
Kapal feri tersebut sedianya berangkat dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali sekitar pukul 23.05 WIB, Rabu malam, 2 Juli 2025.
Tapi ombak besar di tengah Selat Bali pada Rabu tengah diduga membuat kapal mengalami kebocoran. Dari informasi yang dihimpun, sekitar pukul 00.15 WITA pada Kamis (3/7/2025) adanya kode merah operator Pelabuhan Gilimanuk dan salah satu nakhoda kapal lain, terhadap kapal KMP Tunu Pratama Jaya.
KMP Tunu Pratama Jaya meminta tolong dan mengalami kebocoran mesin kapal. Sekitar pukul 00.19 WITA KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan mengalami black out alias insiden di tengah laut.
Selanjutnya, pukul 00.22 WITA kapal lain berusaha mengejar dan mengevakuasi KMP Tunu Pratama Jaya. Tapi posisinya sudah terbalik dan hanyut ke arah selatan tepat di titik koordinat -08°09.371' S, 114°25, 1569' T.
"Mereka memang rata-rata yang selamat ini menggunakan pelampung," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii kepada wartawan, Kamis (3/7/2025).
Baca juga: Ini Identitas 29 Penumpang Selamat dan 4 Meninggal Akibat Tenggelamnya Kapal Tunu Pratama
Sementara itu, empat orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh tim Basarnas. Korban ditemukan terdampar di Pantai Pebuahan, Kabupaten Jembrana, Bali.
"Jadi saya sampaikan kira-kira di 12 nautical mile itu ada di pantai Pebuahan di daerah Jembrana makanya dari situ kita bisa melihat ternyata faktor arus sangat kuat," tuturnya.
Sedangkan, 30 orang lainnya yang sebelumnya berada di kapal tersebut kini masih dalam proses pencarian. Syafii menyampaikan ada dua kemungkinan posisi korban atas tenggelam kapal tersebut.
Pertama, penumpang telah terseret arus laut atau menjauh dari kapal. Kemungkinan kedua, penumpang yang masih dalam pencarian itu terjebak di dalam kapal.
Baca juga: Angin Kencang dan Arus Kuat Jadi Tantangan Evakuasi Korban KMP Tunu Pratama Jaya
"Ada dua kemungkinan kalau korban ini sudah meninggalkan kapal atau bisa saja ada kemungkinan apakah ada yang terjebak, jadi kemungkinan ada di dua itu," ujar Syafii.
Terkait korban yang diduga telah meninggalkan kapal, pencarian akan difokuskan melihat arus laut yang diduga menyeret penumpang.
"Kalau kita bicara masalah yang bisa meninggalkan kapal pasti kita akan menghitung dari kecepatan arus, kondisi ombak dan juga angin, itu mungkin yang menjadi referensi untuk teman-teman di lapangan," tuturnya.
Syafii menyebut bahwa kapal tenggelam di kedalaman 50 meter. Diketahui, Kapal Feri KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali.
Kapal feri tersebut sedianya berangkat dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali sekitar pukul 23.05 WIB, Rabu malam, 2 Juli 2025.
Tapi ombak besar di tengah Selat Bali pada Rabu tengah diduga membuat kapal mengalami kebocoran. Dari informasi yang dihimpun, sekitar pukul 00.15 WITA pada Kamis (3/7/2025) adanya kode merah operator Pelabuhan Gilimanuk dan salah satu nakhoda kapal lain, terhadap kapal KMP Tunu Pratama Jaya.
KMP Tunu Pratama Jaya meminta tolong dan mengalami kebocoran mesin kapal. Sekitar pukul 00.19 WITA KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan mengalami black out alias insiden di tengah laut.
Selanjutnya, pukul 00.22 WITA kapal lain berusaha mengejar dan mengevakuasi KMP Tunu Pratama Jaya. Tapi posisinya sudah terbalik dan hanyut ke arah selatan tepat di titik koordinat -08°09.371' S, 114°25, 1569' T.
(shf)
Lihat Juga :