Praktisi Dukung Pemerintah Susun Draf Standar Kompetensi Lulusan Artificial Intelligence
Jum'at, 20 Juni 2025 - 15:25 WIB
loading...
Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) menggelar Review Draf SKL Nasional. Foto/Ist
A
A
A
BANDUNG - Seiring percepatan adopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di berbagai sektor, permintaan terhadap tenaga ahli AI pun meningkat tajam. Namun hingga kini belum tersedia Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Nasional yang spesifik mengatur kompetensi lulusan vokasi di bidang AI.
Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terstandar nasional secara kompetensi.
Baca juga: UGM Bentuk Artificial Intelligence Society, Untuk Apa?
Untuk mengatasi kesenjangan itu, pemerintah merespons dengan menyusun draf SKL Nasional melalui proses kolaboratif lintas sektor, melibatkan unsur pemerintah, pendidikan, dan industri.
Langkah nyata yang dilakukan adalah Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) menggelar Review Draf SKL Nasional.
Forum yang berlangsung dua hari, 16-17 Juni 2025 di Kalibata, Jakarta itu merupakan bagian dari upaya pemerintah menyusun SKL untuk sejumlah keterampilan baru yang sangat dibutuhkan pasar kerja, termasuk AI.
Acara tersebut diharapkan menghasilkan standard yang dapat menjadi acuan nasional bagi lembaga pelatihan dan kursus dalam merancang program berbasis kebutuhan nyata.
Baca juga: Artificial Intelligence Dinilai Akan Tentukan Masa Depan Dunia
Direktur Langgeng Inovasi Teknologi (LANGIT) Archy Renaldy Pratama Nugraha berpartisipasi dalam acara itu sebagai reviewer bidang keahlian AI.
LANGIT merupakan perusahaan teknologi inovatif asal Bandung yang fokus pada pengembangan solusi Artificial Intelligence, Blockchain, Cloud, dan Data (ABCD).
Dalam forum strategis itu, Archy hadir sebagai representasi praktisi industri sekaligus asosiasi pengusaha digital, dengan misi utama menyuarakan kebutuhan kompetensi terkini dari sektor teknologi.
Archy menggarisbawahi pentingnya membangun SKL Nasional yang tidak hanya teoritis, namun siap diterapkan di lapangan.
“Saya percaya pendidikan vokasi akan menjadi tulang punggung pembangunan SDM digital Indonesia. Kolaborasi antarpemangku kepentingan sangat penting untuk memastikan output lulusan relevan dengan tantangan dan dinamika dunia kerja berbasis AI,” kata Archy.
Dalam acara itu, Archy merekomendasikan sejumlah masukan. Pertama, pemetaan peran dan keterampilan kunci di dunia kerja AI, mulai dari data engineer hingga machine learning developer.
Kedua, penyusunan struktur pembelajaran modular yang fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Ketiga, penanaman nilai-nilai soft skill dan etika digital sebagai bagian dari kompetensi inti.
Keempat, penguatan pendekatan microlearning dan outcome-based training agar lebih cepat menjawab kebutuhan industri.
Archy Renaldy Pratama Nugraha SKom MT merupakan tokoh muda dengan latar belakang kuat di bidang Teknologi Informasi (TI), akademik, dan kewirausahaan.
Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Komputer Indonesia (Unikom) dan program magister di STEI ITB. Saat ini, Archy tengah menempuh program doktoral di IPB University dengan fokus riset teknologi ABCD.
Selain itu, dia aktif dalam berbagai forum profesional dan komunitas wirausaha, termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan terlibat dalam ekosistem riset inovasi melalui BRAIN IPB dan ITRHub IWU.
Keterlibatan Archy dalam penyusunan SKL ini mempertegas komitmen LANGIT untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, namun juga kontributor dalam membentuk masa depan pendidikan dan sumber daya manusia digital Indonesia.
Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terstandar nasional secara kompetensi.
Baca juga: UGM Bentuk Artificial Intelligence Society, Untuk Apa?
Untuk mengatasi kesenjangan itu, pemerintah merespons dengan menyusun draf SKL Nasional melalui proses kolaboratif lintas sektor, melibatkan unsur pemerintah, pendidikan, dan industri.
Langkah nyata yang dilakukan adalah Direktorat Kursus dan Pelatihan, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) menggelar Review Draf SKL Nasional.
Forum yang berlangsung dua hari, 16-17 Juni 2025 di Kalibata, Jakarta itu merupakan bagian dari upaya pemerintah menyusun SKL untuk sejumlah keterampilan baru yang sangat dibutuhkan pasar kerja, termasuk AI.
Acara tersebut diharapkan menghasilkan standard yang dapat menjadi acuan nasional bagi lembaga pelatihan dan kursus dalam merancang program berbasis kebutuhan nyata.
Baca juga: Artificial Intelligence Dinilai Akan Tentukan Masa Depan Dunia
Direktur Langgeng Inovasi Teknologi (LANGIT) Archy Renaldy Pratama Nugraha berpartisipasi dalam acara itu sebagai reviewer bidang keahlian AI.
LANGIT merupakan perusahaan teknologi inovatif asal Bandung yang fokus pada pengembangan solusi Artificial Intelligence, Blockchain, Cloud, dan Data (ABCD).
Dalam forum strategis itu, Archy hadir sebagai representasi praktisi industri sekaligus asosiasi pengusaha digital, dengan misi utama menyuarakan kebutuhan kompetensi terkini dari sektor teknologi.
Archy menggarisbawahi pentingnya membangun SKL Nasional yang tidak hanya teoritis, namun siap diterapkan di lapangan.
“Saya percaya pendidikan vokasi akan menjadi tulang punggung pembangunan SDM digital Indonesia. Kolaborasi antarpemangku kepentingan sangat penting untuk memastikan output lulusan relevan dengan tantangan dan dinamika dunia kerja berbasis AI,” kata Archy.
Dalam acara itu, Archy merekomendasikan sejumlah masukan. Pertama, pemetaan peran dan keterampilan kunci di dunia kerja AI, mulai dari data engineer hingga machine learning developer.
Kedua, penyusunan struktur pembelajaran modular yang fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Ketiga, penanaman nilai-nilai soft skill dan etika digital sebagai bagian dari kompetensi inti.
Keempat, penguatan pendekatan microlearning dan outcome-based training agar lebih cepat menjawab kebutuhan industri.
Archy Renaldy Pratama Nugraha SKom MT merupakan tokoh muda dengan latar belakang kuat di bidang Teknologi Informasi (TI), akademik, dan kewirausahaan.
Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Komputer Indonesia (Unikom) dan program magister di STEI ITB. Saat ini, Archy tengah menempuh program doktoral di IPB University dengan fokus riset teknologi ABCD.
Selain itu, dia aktif dalam berbagai forum profesional dan komunitas wirausaha, termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan terlibat dalam ekosistem riset inovasi melalui BRAIN IPB dan ITRHub IWU.
Keterlibatan Archy dalam penyusunan SKL ini mempertegas komitmen LANGIT untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, namun juga kontributor dalam membentuk masa depan pendidikan dan sumber daya manusia digital Indonesia.
(shf)
Lihat Juga :