Mahasiswa Unila Meninggal Diduga Akibat Kekerasan saat Diksar di Gunung Betung
Selasa, 03 Juni 2025 - 18:25 WIB
loading...
Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) Pratama Wijaya Kusuma meninggal dunia diduga akibat tindakan kekerasan saat pendidikan dasar (diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel). Foto/Ilustrasi/SindoNews
A
A
A
BANDAR LAMPUNG - Mahasiswa Universitas Lampung ( Unila ) Pratama Wijaya Kusuma meninggal dunia diduga akibat tindakan kekerasan saat pendidikan dasar (diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel). Diksar tersebut dilaksanakan pada 10-14 November 2024 di kaki Gunung Betung, Pesawaran, Lampung.
Salah satu mahasiswa, Zidan mengatakan, korban Pratama pulang dari Diksar dengan kondisi tubuh tak sesehat sebelumnya, dan sering sakit hingga akhirnya meninggal dunia pada 28 April 2025. Zidan menyebutkan, terdapat 6 orang yang mengikuti Diksar, 2 di antaranya menjadi korban hingga mengalami pecah gendang telinga.
“Korban 2 orang yang parah, yang satu pecah gendang telinga dan almarhum teman saya ini, itu mulai dari ditendang perutnya dadanya ditonjok bahkan almarhum sangking tidak boleh minum jadi meminum spritus, menurut kami tidak itu tidak manusiawi. Itu di luar kampus tapi kegiatan itu atas persetujuan dari Dekan," ungkapnya, Selasa (3/6/2025).
Baca juga: Pilu Mahasiswa UGM Argo Tewas Ditabrak di Sleman, Ibunda: Berniat Kuliah S2 di Luar Negeri lewat LPDP
“Untuk korban lain pasti kena mental dan takut ketemu senior, dan senior ini memastikan korban lain untuk tidak cerita dan dipastikan akan hilang. Rata-rata bagian sikut perut dan kaki. Yang gendang telinga pecah itu mengundurkan diri,” sambungnya.
Zidan mengungkapkan, hasil diagnosa rekam medis korban terdapat pembuluh darah di kepala menggumpal menjadi tumor otak kecil sebelah kiri. "Korban diperlakukan seperti ditampar jika mengeluh ditampar lagi, ditendang tonjok seperti dia merangkak di sawah itu ditoyor kepalanya hingga diinjak," tuturnya.
Disinggung baru ketahuan sekarang, Zidan mengungkapkan, setelah Pratama meninggal dunia, orang tuanya menceritakan kekerasan yang dialami korban hingga akhirnya meninggal dunia.
“Kemarin almarhum meninggal malamnya orang tuanya nangis kepada kami mahasiswa beliau cerita kalau almarhum ini mendapatkan tindakan kekerasan dari ormawa (organisasi mahasiswa) itu sehingga korban meninggal,” ungkapnya.
Usai kejadian tersebut, lanjut Zidan, kondisi tubuh korban Pratama lemah. Bahkan sampai 1 bulan tidak masuk kuliah. Zidan menambahkan, Diksar tersebut terjadi di luar lingkungan universitas, namun kegiatan itu dilakukan atas persetujuan dan diketahui pihak fakultas.
Salah satu mahasiswa, Zidan mengatakan, korban Pratama pulang dari Diksar dengan kondisi tubuh tak sesehat sebelumnya, dan sering sakit hingga akhirnya meninggal dunia pada 28 April 2025. Zidan menyebutkan, terdapat 6 orang yang mengikuti Diksar, 2 di antaranya menjadi korban hingga mengalami pecah gendang telinga.
“Korban 2 orang yang parah, yang satu pecah gendang telinga dan almarhum teman saya ini, itu mulai dari ditendang perutnya dadanya ditonjok bahkan almarhum sangking tidak boleh minum jadi meminum spritus, menurut kami tidak itu tidak manusiawi. Itu di luar kampus tapi kegiatan itu atas persetujuan dari Dekan," ungkapnya, Selasa (3/6/2025).
Baca juga: Pilu Mahasiswa UGM Argo Tewas Ditabrak di Sleman, Ibunda: Berniat Kuliah S2 di Luar Negeri lewat LPDP
“Untuk korban lain pasti kena mental dan takut ketemu senior, dan senior ini memastikan korban lain untuk tidak cerita dan dipastikan akan hilang. Rata-rata bagian sikut perut dan kaki. Yang gendang telinga pecah itu mengundurkan diri,” sambungnya.
Zidan mengungkapkan, hasil diagnosa rekam medis korban terdapat pembuluh darah di kepala menggumpal menjadi tumor otak kecil sebelah kiri. "Korban diperlakukan seperti ditampar jika mengeluh ditampar lagi, ditendang tonjok seperti dia merangkak di sawah itu ditoyor kepalanya hingga diinjak," tuturnya.
Disinggung baru ketahuan sekarang, Zidan mengungkapkan, setelah Pratama meninggal dunia, orang tuanya menceritakan kekerasan yang dialami korban hingga akhirnya meninggal dunia.
“Kemarin almarhum meninggal malamnya orang tuanya nangis kepada kami mahasiswa beliau cerita kalau almarhum ini mendapatkan tindakan kekerasan dari ormawa (organisasi mahasiswa) itu sehingga korban meninggal,” ungkapnya.
Usai kejadian tersebut, lanjut Zidan, kondisi tubuh korban Pratama lemah. Bahkan sampai 1 bulan tidak masuk kuliah. Zidan menambahkan, Diksar tersebut terjadi di luar lingkungan universitas, namun kegiatan itu dilakukan atas persetujuan dan diketahui pihak fakultas.
(rca)
Lihat Juga :