Pendidikan Agama Moderat Kunci Kebangkitkan Nasionalisme di Era Digital

Jum'at, 23 Mei 2025 - 18:25 WIB
loading...
Pendidikan Agama Moderat...
Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati, Prof Bambang Qomaruzzaman menyatakan pendidikan agama moderat menjadi kunci untuk membangkitkan nasionalisme di era digital. Foto/Ist
A A A
BANDUNG - Pendidikan agama moderat menjadi salah satu kunci untuk bangkitkan nasionalisme di era digital. Terutama untuk membangun semangat kebangsaan dan melindungi generasi muda dari radikalisme serta intoleransi.

Moderasi beragama dalam konteks pendidikan dapat menjadi salah satu solusi atas ancaman ideologi transnasional yang dapat merusak nasionalisme anak bangsa.

Baca juga: Menag Minta Ekoteologi dan Pelestarian Alam Masuk Kurikulum Pendidikan Agama

“Pendidikan agama moderat bukan mengubah agama itu sendiri, tetapi mengubah cara beragama agar dapat diterima oleh semua kalangan di ruang publik,” ujar Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD), Prof Bambang Qomaruzzaman di Bandung, Kamis (22/5/2025).

Dia menyebut beragama secara moderat berarti menerima keberagaman sebagai modal untuk hidup bersama, dan bukan sebagai penghalang.



Bambang menyakini pendidikan agama moderat akan membantu menciptakan kesadaran pentingnya bekerja sama antar umat beragama untuk memperkuat solidaritas nasional.

Namun, pendidikan agama di era sekarang telah kehilangan konteks dan relevansi terhadap kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Bingung Pilih Prodi UM PTKIN? Ini 25 Jurusan Pendidikan Agama Islam Terakreditasi Unggul

Pendidikan agama cenderung hanya berfokus pada tekstual, ajaran inti agama tanpa mengaitkannya dengan isu sosial yang dihadapi bangsa.

"Pendidikan agama yang hanya mengajarkan nilai-nilai spiritual tanpa mengaitkannya dengan masalah nyata di masyarakat, membuat ajaran tersebut kehilangan relevansi dan terasa kosong," ujar Guru Besar Ilmu Kebijakan Pendidikan ini.

Oleh karena itu, penting bagi para pendidik maupun pemuka agama untuk beradaptasi, menyelesaikan persoalan yang ada, seiring dengan berkembangnya zaman.

Kemudian, berupaya untuk mengemas materi agama yang dapat diterima generasi masa kini, guna menarik kesadaran mereka untuk beragama sekaligus bernegara secara baik.

“Beragama itu bukan hanya aksi untuk mati, melainkan juga untuk hidup lebih baik di konteks kehidupan sosial masyarakatnya,” tegas Bambang.

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Jawa Barat ini menganggap eksklusivisme beragama lahir dari rasa curiga. Karenanya, hidup bersama dalam perbedaan, saling toleransi adalah cara efektif untuk menghilangkan eksklusivisme.

Menurutnya, jika generasi muda memiliki spirit moderat dalam beragama di ruang publik, maka akan timbul semangat untuk menjaga persatuan dan kerjasama untuk berjuang menciptakan bangkitnya semangat nasionalisme.

Bambang mengklaim momen kebangkitan nasional terjadi ketika semua warga bangsa merasa perlu membangun ikatan bersama menghadapi persoalan bersama saat itu, yakni kolonialisme.

Saat ini, Indonesia memiliki banyak tantangan yang lebih berat dari kolonialisme pra-1945.

Sayangnya, tantangan intoleransi, radikalisme dan terorisme belum disadari bersama, sehingga masing-masing warga masih belum terpanggil untuk bergerak bersama.

“Pada titik inilah pendidikan agama secara moderat diperlukan untuk mendorong pentingnya hidup bersama dengan penganut agama apapun, demi menciptakan kebangkitan nasional yang kedua,” ujar Bambang.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemilu 2029 Didominasi...
Pemilu 2029 Didominasi Pemilih Muda, PKB Jabar Siapkan Ribuan Pengurus Muda
Generasi Hijau dari...
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Ratusan Pelajar di Jaktim...
Ratusan Pelajar di Jaktim Ikuti Pelatihan Penguatan Karakter dan Kepemimpinan Inovatif
Keberhasilan Memanfaatkan...
Keberhasilan Memanfaatkan Bonus Demografi Bergantung pada Kualitas Generasi Muda
Program Suara Warga,...
Program Suara Warga, Generasi Muda Kaltim Kawal IKN sebagai Ibu Kota Politik
Gelar Gen Sawit 2026...
Gelar Gen Sawit 2026 di Udayana, BPDP Edukasi Generasi Muda
Krakatau Posco Tanamkan...
Krakatau Posco Tanamkan Budaya Keselamatan kepada Generasi Muda
Kolaborasi Generasi...
Kolaborasi Generasi Muda Jadi Penggerak Perubahan Lingkungan
Implementasi PP TUNAS...
Implementasi PP TUNAS Harus Bisa Jaga Daya Saing Generasi Muda di Ekonomi Digital
Rekomendasi
Hidayat Batubara Daftar...
Hidayat Batubara Daftar Balon Ketua POBSI Sumut
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Perkuat Penetrasi Pasar,...
Perkuat Penetrasi Pasar, EVO Group Perbarui Kemasan Life Cat dan Ori Cat
Berita Terkini
Begal dan Curanmor,...
Begal dan Curanmor, Kasus Besar yang Diungkap Polda Riau dalam Semalam
Stafsus Menag Tinjau...
Stafsus Menag Tinjau GKJ Nusukan Solo, Jamin Kebebasan Beribadah
Unjuk Rasa Mahasiswa...
Unjuk Rasa Mahasiswa Bubar, Polisi Mulai Buka Jalan Jenderal Sudirman Arah Bundaran HI
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Situ Rompong Tangsel...
Situ Rompong Tangsel Menyusut Tinggal 1,7 Hektare, Warga Duga Ada Maladminsitrasi
Roy Suryo Titip Pesan...
Roy Suryo Titip Pesan ke Massa Aksi Demo: Jangan Disusupi, Aparat Harus Humanis
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved