alexametrics

Rumah Sakit Tua Melintasi Zaman

Tertua di Indonesia, Lantai RSMM Bogor Pakai Batu Alam

loading...
Tertua di Indonesia, Lantai RSMM Bogor Pakai Batu Alam
Kota Bogor juga memiliki rumah sakit tua berusia lebih dari 100 tahun, yakni Rumah Sakit dr Marzoeki Mahdi (RSMM). Foto/Koran SINDO
A+ A-
SELAIN memiliki keindahan alam, Bogor juga kaya akan nilai sejarah dan cagar budaya. Banyak bangunan kuno dan situs zaman kerajaan masih berdiri kokoh di beberapa titik di daerah berjuluk Kota Hujan ini.

Selain Istana Bogor yang begitu kesohor dan sederet bangunan lawas di sekelilingnya, Kota Bogor juga memiliki rumah sakit tua berusia lebih dari 100 tahun, yakni Rumah Sakit dr Marzoeki Mahdi (RSMM). Namun rumah sakit yang dibangun Kolonial Belanda pada 1882 ini terbilang kalah pamor. Padahal sejak berdiri hingga kini, rumah sakit yang masih mempertahankan bangunan-bangunan lawasnya ini tetap memberikan pelayanan normal. Bak rumah sakit modern, fasilitas dan peralatan di RS ini juga tak ketinggalan zaman. Bahkan RSMM telah lama di kenal sebagai RS rujukan nasional untuk penderita gangguan jiwa.

Rumah sakit yang terletak di Jalan Semeru, Kelurahan Menteng, Bogor Barat, Kota Bogor ini diketahui merupakan layanan kesehatan pertama yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia, tepatnya pada 1 Juli 1882.



Ada dua alasan penting mengapa Pemerintah Hindia Belanda ingin mendirikan rumah sakit jiwa saat itu. Pertama hasil sensus yang dilakukan pada 1862 telah memperlihatkan simpulan tentang banyaknya pasien gangguan jiwa berkeliaran bebas dimasyarakat. Kedua ada keyakinan bahwa penyakit jiwa dapat disembuhkan jika diberi perhatian dan perawatan yang layak. Awalnya RSMM bernama Rumah Sakit Jiwa Pusat (RSJP).

Penggantian nama menjadi RSMM ini tak lepas dengan kiprah dr Marzoeki Mahdi. Marzoeki dikenal sebagai pelopor Gerakan Kesehatan Jiwa di Indonesia. Bahkan dia pernah memimpin Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bogor. Pada 1942, dia dipercaya menjadi direktur RSJ Bogor dan pada 1945 menjadi inspektur kesehatan RSJ Bogor. Marzoeki dikenal sebagai seorang dokter pejuang. Putra Minang kelahiran 14 Mei 1890 ini merupakan dokter lulusan STOVIA. Ia masuk STOVIA pada 9 November 1908 dan lulus pada 23 Mei 1918.

RSMM Bogor yang sejak dulu dikenal sebagai pusat rujukan nasional pelayanan kesehatan jiwa ini berdiri di atas lahan 578,765 m2 dan luas bangunan 26.862 m2. Meski berusia hampir 1,5 abad, banyak bangunan lama masih kokoh. Hingga kini di antara bangunan yang masih bertahan bentuknya adalah di bagian layanan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) serta rehabilitasi psikososial. “Masih kita pertahankan dan tidak pernah direnovasi. Lantainya itu masih pakai batu alam, sedangkan bangunan depan sudah diubah semua,” ujar Kasubag Hukum Organisasi dan Hubungan Masyarakat(Hukormas) RSMM Bogor Prahardian Priatama.

Meski sarat dengan sejarah, Prahardian mengaku bingung RSMM belum terdaftar atau didaftarkan dalam bangunan atau benda cagar budaya (BCB). “Ini belum didaftarkan sebagai benda cagar budaya, mungkin (bangunannya) sudah terlalu banyak yang diubah dulunya. Soalnya saya sendiri baru empat tahun (kerja) di sini,” ujarnya.

RSMM juga membuka layanan kesehatan umum karena di Kota Bogor awalnya jarang ada rumah sakit umum. RSUD Kota Bogor diketahui baru berdiri empat tahun silam. Meski sebagai RS penunjang kesehatan warga Bogor, layanan RSMM juga lengkap mulai dari dokter gigi, spesialis gigi, jantung, saraf, anak, obgine, hemodialisa, obstetri dan ginekologi (obgyn), telinga hidung tenggorokan(THT), mata.

Usia tua pun tak lantas menjadikan fasilitas kesehatan di RSMM apa adanya. Kini RSMM juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang terbilang lengkap seperti assesment center, radiologi, laboratorium, dan hemodialisa. “Untuk umum ada ruang kelas I, II, dan III. Bahkan untuk jiwa juga ada kelas I, II dan III. Tapi tidak terlalu terpakai untuk yang jiwa karena pada saat pasien masuk ke sini misalnya awal datang sudah harus masuk ke ruang PHCU (psychiatric high care unit),” katanya.

RSMM juga telah banyak menyediakan fasilitas penunjang kedokteran jiwa, antara lain transcranial magnetic stimulation (TMS) atau terapi modern untuk gangguan jiwa. TMS membantu mengobati gejala depresi. Alat baru ini dibeli Oktober 2019.

Ketua Bogor Historian Yudi Irawan menyayangkan RSMM belum didaftarkan sebagai bangunan cagar budaya atau BCB ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Ini harus jadi perhatian kita semua, khususnya stakeholder terkait. Dalam hal ini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor karena RSMM ini berada di Kota Bogor,” ujarnya.

Belum terdaftarnya bangunan RSMM sebagai BCB menunjukkan kekurang pekaan dan proaktifnya Pemkot Bogor dalam menginventarisasi situs, bangunan atau benda, baik itu peninggalan zaman Kerajaan Pajajaran maupun zaman kolonial Belanda. RSMM yang didirikan pada 1882 sudah memenuhi kriteria sebagai BCB. Sebab Kampus IPB Baranangsiang yang dibangun pada 1952 pun sudah terdaftar sebagai BCB.

Menurutnya, Bogor memang dikenal sebagai pusat kerajaan dan pemerintahan era kolonial Hindia Belanda. Dengan demikian banyak situs bersejarah di dalamnya dan patut dilestarikan.

Disparbud Kota Bogor hingga 2015 sudah mendaftarkan 487 benda/bangunan cagar budaya sebagai upaya perlindungan dan pelestarian nilai sejarah di kota tersebut. Kepala Disparbud Shahlan Rasyidi menyebutkan, secara keseluruhan hasil pendataan awal jumlah benda cagar budaya(BCB) di Kota Bogor tercatat sebanyak 600. Dari jumlah tersebut sebanyak 27 BCB telah didaftarkan dan mendapat SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada 2007.

Menurut Shahlan, proses pendaftaran benda cagar budaya tersebut tahun ini cukup rumit lantaran harus menggunakan sistem online. Dengan demikian dia berdalih dari 600 BCB yang sudah terdata, baru 487 yang sudah didaftarkan.
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak