alexametrics

Koran SINDO Soroti Fenomena Maraknya Kemunculan Keraton Dadakan

loading...
Koran SINDO Soroti Fenomena Maraknya Kemunculan Keraton Dadakan
Raja Keraton Agung Sejagat Totok Santoso (42) dan Permaisuri Fanni Aminadia (41) ternyata bukan pasangam suami istri. Foto Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Koran SINDO edisi Sabtu (18/1/2020) menyoroti masalah maraknya kemunculan keraton dadakan di sejumlah daerah yang berasal dari keturunan Majapahit.

Hasil penelusuran menunjukkan, kemunculan Keraton Agung Sejagat di Purworejo (Jawa Tenaga) dan Sunda Empire Earth Empire di Bandung (Jawa Barat) tanpa dilandasi sejarah yang kuat. Bahkan pemimpin-pemimpin mereka seolah berhalusinasi saat menyampaikan program dan harapannya.

Wakil Ketua Komisi II DPR Yaqut Cholil Quomas juga menilai munculnya kerajaan-kerajaan baru tersebut tidak perlu ditanggapi serius.



“Anggap saja orang-orang frustrasi yang ingin mencari jalan keluar atas problem hidup sendiri. Meskipun, tidak tertutup kemungkinan ada yang memainkan ini,” tutur politikus PKB ini.

Sedangkan Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily meminta masyarakat waspada terhadap fenomena munculnya kerajaan atau kekaisaran baru. Masyarakat jangan sampai terbuai janji-janji atau harapan-harapan yang berlebihan. “Misalnya bahwa jika masuk kedalam kerajaan-kerajaan mereka akan menciptakan satu harapan baru yang di luar rasionalitas dan logika commonsense,” ujarnya.

Sementara itu, Budayawan Yogyakarta Djoko Dwiyanto menilai, fenomena munculnya kerajaan-kerajaan baru dibeberapa tempat ini merupakan upaya mewujudkan keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehidupan sehari hari. Muaranya muncul halusinasi.

"Gampangnya masyarakat percaya pada ide keraton atau kerajaan baru karena selama ini mereka kurang mengerti sejarah. Padahal sejarah ada sebuah cerita yang runtut dan tidak terputus,” paparnya.
(ysw)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak