alexametrics

Fenomena Tanah Berasap di Surabaya Diduga Sisa Batu Bara dan Biomassa

loading...
Fenomena Tanah Berasap di Surabaya Diduga Sisa Batu Bara dan Biomassa
Tim dari ITS dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya meneliti fenomena tanah berasap yang muncul di kawasan Dipo Sidotopo, Surabaya, Jawa Timur. Foto/SINDOnews/Aan Haryono
A+ A-
SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya meneliti fenomena tanah berasap yang muncul di kawasan Dipo Sidotopo, Surabaya, Jawa Timur.

Tim mengambil contoh tanah serta survei untuk mengetahui penyebab dari fenomena yang masih menyimpan banyak misteri. Sampel tersebut selanjutnya akan diuji di Laboratorium Energi ITS. (Baca juga: Kabut Asap Tebal Masih Terdeteksi di Wilayah Udara Sumatera)

Tim dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS dipimpin Amien Widodo menuturkan, asap tersebut keluar dari tanah hingga menyebabkan kayu dan kertas koran yang coba dimasukkan langsung terbakar.



Dosen Departemen Teknik Geofisika ini datang langsung bersama tim menemukan beberapa fakta menarik. Salah satunya, tanah berasap tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dengan tanah yang ada di sekitarnya. Tanah berasap memiliki ukuran pasir, sedangkan tanah sekitarnya memiliki ukuran lempung dari endapan aluvial.

"Dari segi warnanya juga berbeda, tanah berasap memiliki warna yang lebih hitam dan mengkilap," kata Amien, Rabu (8/1/2020).

Ia melanjutkan, fenomena tersebut tidak hanya sekali terjadi di Jawa Timur. Sebelumnya di kawasan Kutisari, Surabaya dan Sampang, Madura juga pernah mengalami kejadian serupa.

"Memang secara alami daerah di Jawa Timur ini adalah cekungan minyak dan gas bumi," sambungnya.

Namun setelah diamati, Amien berpendapat, kemungkinan tanah berasap di daerah Dipo Sidotopo tersebut tidak berasal dari gas alam. Pihaknya meyakini hal tersebut, lantaran asap yang keluar dinilai masih normal. "Asapnya tidak besar, jadi kemungkinan bukan dari gas alam," ungkapnya.

Dosen lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menambahkan, ada beberapa kemungkinan faktor penyebab fenomena tersebut. Kemungkinan pertama yaitu keberadaan sisa batubara yang dibuang di area Dipo Sidotopo. "Batu bara ini berasal dari bahan bakar kereta api zaman dahulu yang tersisa dan menumpuk sehingga keluar asap," jelasnya.

Selain itu, katanya, kemarau panjang juga bisa menjadi faktor berikutnya. "Kemarau panjang ini semakin membuat tumpukan batubara membara dan mengeluarkan asap," ucapnya.

Faktor lain tentu saja adanya sampah dari beberapa tahun lalu yang sengaja dibuang ke area tersebut. Sampah-sampah ini kemudian memicu terbentuknya biomassa. "Biomassa inilah yang mungkin menyebabkan tanah tersebut berasap," ujarnya.

Amien menyampaikan, sampai saat ini sampel tanah dari Dipo Sidotopo masih diteliti bersama dengan melibatkan beberapa dosen Departemen Teknik Geomatika dan juga DLH Kota Surabaya. "Jangan terlalu panik, ini adalah fenomena yang sering dan lumrah terjadi," tegasnya.

Sebelumnya, warga sekitar lokasi dibuat geger dalam beberapa hari terakhir ini ketika melihat ada asap yang keluar dari tanah.
(shf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak