alexametrics

Hutan Jati Binong, Saksi Bisu Jejak Ratu Pajajaran Nyai Subang Larang

loading...
Hutan Jati Binong, Saksi Bisu Jejak Ratu Pajajaran Nyai Subang Larang
Gerbang Menuju Situs Nyai Subang Larang di tengah hutan jati di Desa Naggerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Foto/SINDOnews/Didin Jalaludin
A+ A-
SUBANG - Mata hari mulai terbenam, hari berganti malam. Peziarah yang datang ke salah satu makam kuno di tengah hutan jati di Desa Naggerang, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang, Jawa Barat itu mulai terlihat berdatangan.

Meskipun tidak banyak, namun tempat itu tidak pernah sepi. Makam yang didatangi perziarah tersebut diyakini adalah makam seorang ratu pajajaran yang bernama Nyai Subang Larang.
Hutan Jati Binong, Saksi Bisu Jejak Ratu Pajajaran Nyai Subang Larang

Hutan jati tersebut disebut Muara Jati dan Teluk Agung yang juga dikenal dengan sebutan Astana Panjang. Tempat ini diyakini sebagai situs peninggalan Nyai Subang Larang didasari hasil penelusuran sejarawan dari Bogor bernama Abah Dasep Arifin yang sudah puluhan tahun mencari jejak makam istri Perabu Siliwangi tersebut.

Berbagai peninggalan yang ditemukan dan kesamaan nama-nama tempat dengan latar belakang kehidupan Subang Larang zaman dulu semakin menguatkan tempat ini merupakan saksi sejarah perjalanan sang ratu Pajajaran. Selain itu di daerah Cipunagara juga terdapat makam Eyang Gelok yang diyakini sebagai pengiring Nyai Subang Larang semasa hidupnya.



"Dari beberapa tempat yang diteliti oleh Abah Dasep itu, tempat ini lah yang paling sempurna. Di mana unsur-usur penamaan tempat dan kondisi alam serta didukung dengan temuan sejumlah puing-puing bekas bangunan kuno, diyakini hutan ini adalah tempat Nyai Subang Larang bermukim. Termasuk temuan koin kuno dan juga perhaiasan berupa kalung dan gelang yang terbuat dari batu yang berusia ratusan tahun," tutur Usman Salim (46) warga setempat yang mengaku kuncen Makam Subang Larang itu saat berbincang dengan SINDOnews, pekan lalu.
Hutan Jati Binong, Saksi Bisu Jejak Ratu Pajajaran Nyai Subang Larang

Meskipun dikalaim merupakan makam Nyai Subang Larang dan menjadi wisata religi, namun secara pasti kebenaranya masih diragukan sebagian pihak. Terlebih hingga saat ini belum ada catatan sejarah yang disertai bukti ilmiah yang mendukung Nyai Subang Larang dimakamkan di tempat itu. Hanya beberapa jejak kehidupannya saja yang dapat ditelusuri berdasarkan catatan sejarah yang juga masih terbatas. Tidak heran jika sebagian masyarakat ada yang menyebut makam Nyai Subang Larang di Hutan Jati Astana Panjang lebih kepada sebuah maqom atau kedudukan. Maqom (makom) adalah "petilasan" yang mengacu bahwa seseorang pernah ada di tempat itu.

“Selain seorang istri seorang raja, Nyai Subang Larang adalah seorang santri. Dan beliau juga memiliki padepokan untuk belajar mengaji atau pesantren, yang juga berjasa menyebarkan agama islam di tatar pasundan. Jejak-jejak ada sebuah kehidupan pada jaman dulu di kawasan hutan jati ini bisa dibuktikan. Jika kita mau teliti sepintas saja, liahat di sekeliling kawasan ini, ada sisa-sisa banyak puing bangunan kuno,”tutur pria bertubuh kurus ini.

“Bisa saja karena konflik politik pada jamannya bangunan di kawasan ini dihancurkan. Dan itu tidak mustahil dampak kisruh politik, bukti sejarah tentang bunda ratu (Nyai Subang Larang) sengaja ada yang dirahasiakan dan sebagian masih belum terungkap,”tambah Usman Salim.

Usman Salim meyakini jika Hutan Jati Astana Panjang di Subang ini menjadi tempat peristirahatan terakhir Nyai Subang Larang. Setelah meninggal dunia Nyai Subang Larang dimakamkan di kawasan ini. Terlebih dia menceritakan, sejak dulu warga setempat sering menemukan benda-benda kuno di hutan jati kawasan Astana Panjang. Bahkan, sejak dirinya kecil tetangganya sering menemukan benda berharga berupa potongan emas dan perak di tempat itu. Namun karena ketidak tahuan benda-benda itu dijual.
Hutan Jati Binong, Saksi Bisu Jejak Ratu Pajajaran Nyai Subang Larang

Kemudian, memasuki era 90-an kata dia tempat ini diusulkan oleh pemerintah desa setempat untuk segera dilakukan penelitian. Baru memasuki awal tahun 2000-an usulan tersebut mendapat respon. Hingga akhirnya tempat ini menjadi kawasan penelitian dan pada 30 Juni 2011 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat mengukuhkan cagar budaya Teluk Agung sebagai cagar budaya baru di Jawa Barat.

"Hutan jati yang dijadikan objek penelitian tersebut seluas 2 hektare, meskipun secara keseluruhan luas tempat yang sering ditemukan benda kuno mencapai 70 hektare, yang kini sebagian besar arealnya berubah menjadi areal pertanian berupa sawah," ujar Usman, yang juga berperan sebagai pemandu wisata religi Situs Nyai Subang Larang tersebut.

Tidak hanya manik-manik atau perhiasan kuno yang diklaim milik Nyai Subang Larang dan masyarakat masa kerajaan pajajaran saja yang ditemukan, belakangan peneliti juga menemukan situs kono lain yang diyakini berusia ribuan tahun. Salah satu di ataranya temuan fosil kerangka manusia yang diprediksi usianya sudah puluhan ribuan tahun. Posil itu diklaiam merupakan manusia prasejarah pada bangsa austronesia.

"Setelah tiga kali ekskavasi, tim arkeolog menenukan lima bagian kerangka manusia. Dua di antaranya hasil ekskavasi tahun 2016 dan tiga lagi ditemukan 2018 lalu," ungkap Usman Salim, yang mengaku mendampingi peroses penelitian para arkeolog dari awal hingga akhir di lokasi tersebut.

Sejumlah temuan dari zaman prasejarah di Situs Nyi Subang Larang itu tentunya tidak ada kaitannya dengan tokoh wanita legendaris di tatar Pasundan yang hidup sekitar abad 16-17 masehi tersebut. Salah satu alasannya karena secara periode kehidupannya jelas jauh berbeda.

Sebelumnya, Ketua Tim Arkeolog, Lutfi Yondri yang ditunjuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang menegaskan, situs Nyi Subang Larang bisa naik statusnya menjadi Cagar Budaya Provinsi atau Nasional, bahkan bisa menjadi pusat study Austronesia. Meskipun temuan kerangka manusia dari bangsa Austronesia di Situs Nyi Subang Larang ini bukan merupakan yang tertua di Jawa Barat, ada yang lebih tua yakni yang ditemukan di Banjar Ciamis. Namun temuan di Situs Nyi Subang Larang ini setidaknya bisa disambungkan dengan keberadaan Gunung Padang di Cianjur.

"Walaupun jarak kedua situs itu berjauhan, dari kacamata arkeolog, tak mustahil bila kedua situs itu punya keterkaitan. Sebab, jarak tersebut masih termasuk terjangkau untuk ukuran manusia zaman dahulu," jelas dia.

Sosok Nyai Subang Larang

Kisah Nyai Subang Larang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) karya Pangeran Arya Cerbon yang dibuat pada tahun 1720. Dalam catatan itu Nyai Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum. Dia lahir tahun 1404 dari ayah yang bernama Ki Gedeng Tapa yang merupakan syahbandar Pelabuhan Muara Jati, sebuah pelabuhan penting di utara Jawa Barat yang termasuk kekuasaan kerajaan kecil Singapura.

Sedangkan suami Nyai Subang Larang bernama Prabu Siliwangi awalnya bernama Pamanah Rasa putra dari Prabu Anggalarang dari Kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh berpusat di Ciamis dan masih berkerabat dengan Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran (Bogor). Dua kerajaan besar ini yang menguasai Jawa Barat saat itu.
Hutan Jati Binong, Saksi Bisu Jejak Ratu Pajajaran Nyai Subang Larang

Kerajaan Sunda dipimpin oleh Raja Susuk Tunggal yang masih bersaudara dengan Prabu Anggalarang. Dua kerajaan besar ini menguasai beberapa kerajaan kecil seperti Singapura, Japura, Wanagiri dan lainnya.

Semasa hidupnya, Nyai Subang Larang dikaruniai tiga orang anak yaitu Raden Walangsungsang yang lahir 1423, Nyai Lara Santang lahir 1426, dan Raja Sangara lahir 1428. Nyai Subang Larang wafat sekitar tahun 1441 di Keraton Pakuan, kemudian jenazahnya dibawa oleh abdi dalemnya untuk dimakamkan di Muara Jati. Salah satu abdi dalemnya dikenal dengan nama Eyang Gelok yang dimakamkan di Kampung Cipicung, Desa Kosambi, Kecamatan Cipunagara, Subang.

Sepeninggalnya Subang Larang anak-anaknya keluar dari Keraton Pakuan untuk memperdalam agama Islam. Ketiga anaknya inilah yang kemudian memegang peranan penting mengubah Jawa Bagian Barat menjadi daerah penyebaran Islam.

Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana kemudian menjadi penguasa Cirebon (Pendiri Kesultanan Cirebon). Larasantang kemudian memiliki anak bernama Syarif Hidayatullah yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunungjati. Raja Sangara kemudian dikenal dengan nama Kian Santang. Konon menurut sebuah legenda, Prabu Siliwangi memilih pergi meninggalkan keraton Pakuan dan menghilang di Hutan Sancang di selatan Garut dari pada masuk Islam dihadapan anaknya sendiri Kian Santang.

Sebelum Nyai Subang Larang diperistri oleh Perabu Siliwangi, dia adalah seorang santri. Saat itu Nyai Subang Larang tengah mengaji di Pesantren Syekh Quro, Pamanah Rasa atau Prabu Siliwangi yang kebetulan lewat dan terpesona dengan suara merdu Subang Larang hingga akhirnya jatuh cinta. Pamanah Rasa pun meminang Nyai Subang Larang untuk dijadikan istrinya, kemudian mereka pun menikah.

Sementara di tahun yang sama terjadi peperangan antara Nagari Singapura yang dipimpin Pamanah Rasa dan Nagari Japura yang dipimpin Amuk Marugul. Pamanah Rasa memenangkan peperangan tersebut.

Pamanah Rasa kemudian pergi ke Pakuan, kerajaan Sunda, di sana ia bertemu dengan Kentring Manik Mayang Sunda adik Amuk Marugul yang juga putri dari Prabu Susuk Tunggal yang tak lain adalah kakak ayahnya. Meski pun sudah menikahi Subang Larang, ia juga kemudian menikahi Kentring Manik Mayang Sunda.

Setelah pernikahannya ini Pamanah Rasa kemudian diangkat menjadi putra mahkota oleh Susuk Tunggal karena dianggap lebih cakap daripada Amuk Marugul. Pamanah Rasa kemudian memboyong Subang Larang untuk tinggal di Keraton Pakuan Pajajaran (Bogor) bersama istri yang lain. Di kemudian hari Pamanah Rasa diangkat menjadi raja dan bergelar Prabu Siliwangi.

Semasa hidupnya Subang Larang dipercaya mendirikan pesantren dengan nama Kobong Amparan Alit di Teluk Agung yg kini berada di Desa Nanggerang Kecamatan Binong. Nama Kobong Amparan Alit ini diperkirakan berubah menjadi daerah yang kini disebut Babakan Alit yang juga di sekitar kawasan Teluk Agung, Desa Nanggerang.

Sekitar tahun 1415 datanglah rombongan armada Cina yang dipimpin Laksamana Zheng He (Cheng Ho) yang beragama Islam di Muara Jati. Pada 1418 tiba pula seorang ulama Islam bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik yang menumpang perahu dagang dari Campa yang kini termasuk wilayah Vietnam dan sebagian Kamboja. Ada pula yang berpendapat keduanya datang dalam rombongan yang sama. Syekh Hasanuddin kemudian bersahabat dengan Ki Gedeng Tapa. Kemungkinan besar, kedekatan itu yang melatar belakangi Ki Gendeng Tapa memeluk agama Islam.

Kemudian Syekh Hasanudin pergi ke Karawang dan mendirikan pasantren di daerah Pura, Desa Talagasari, Karawang, dengan nama Pesantren Quro, Dari situ kemudian Syekh Hasanudin lebih dikenal dengan nama Syekh Quro.

Setelah mendirikan pesantren di Karawang, Ki Gendeng Tapa menitipkan anaknya Nyai Subang Larang untuk belajar Islam kepada Syekh Quro. Nyai Subang Larang belajar Islam di sana selama dua tahun. Di tempat inilah Syeh Quro memberikan gelar Sub Ang larang (Pahlawan berkuda) kepadanya. Sekitar tahun 1420 Subang Larang Kembali ke Muara Jati.

Ada beberapa versi berbeda mengenai riwayat dan perjalanan Nyai Subang Larang ini termasuk tempat-tempat yang pernah ia singgahi semasa hidupnya. Terlepas dari perbedaan tersebut sebagai sosok historis, keberadaan Nyai Subang Larang sangat penting dalam perjalanan sejarah sosial, religi, dan politik di Tatar Sunda di kemudian hari. Islam yang kini menjadi agama mayoritas di Jawa Barat dan Banten tidak lepas dari sosok Nyai Subang Larang.
(shf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak