alexametrics

Cerita Pagi

Kisah Rumah Bolon Raja Sibandang yang Dicat dengan Darah Manusia

loading...
Kisah Rumah Bolon Raja Sibandang yang Dicat dengan Darah Manusia
Rumah Bolon atau rumah adat milik Raja Pertama Sibandang Opung Jautan Rajagukguk yang terdapat di Kecamatan Muara, Pulau Sibanding, Kabupaten Tapanuli Utara kerap menjadi perhatian wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sibandang. Foto SINDOnews
A+ A-
Rumah Bolon atau rumah adat milik Raja Pertama Sibandang Opung Jautan Rajagukguk yang terdapat di Kecamatan Muara, Pulau Sibanding, Kabupaten Tapanuli Utara kerap menjadi perhatian wisatawan yang berkunjung ke Pulau Sibandang.
Kisah Rumah Bolon Raja Sibandang yang Dicat dengan Darah Manusia

Karena selain bentuknya unik, rumah bolon yang kini usianya telah lebih dari 300 tahun tersebut warna cat rumahnya dicampur dengan darah manusia. Konon, dahulu dilakukan untuk memperkuat aura rumah, dimana cat merah dicampur dengan darah darah musuh atau darah tawanan yang dipersembahkan pada waktu pesta memasuki rumah baru.
Dimana rumah bolon ini adalah simbol dari identitas masyarakat Batak yang tinggal di Sumatera Utara.
Kisah Rumah Bolon Raja Sibandang yang Dicat dengan Darah Manusia

Untuk mencapai rumah peninggalan Raja Opung Jautan Rajagukguk tersebut dari Bandara Silangit, Tapanuli Utara dapat ditempuh dengan waktu 1 jam dengan kendaraan pribadi ke Dermaga Muara di Pulau Sibandang. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan naik feri atau kapal penyeberangan dengan waktu tempuh 10 menit. Lalu setelah sampai di Pulau Sibandang, dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit.

Sebelum mencapai rumah bolon tersebut terdapat situs berupa Partukkoan, yakni kursi batu tempat raja-raja dahulu bermusyawarah dan makam Hunsa Rajagukguk yang merupakan kerabat dari Opung Jautan Rajagukguk.

Menurut Bengkel Rajagukguk, salah satu keturunan Hunsa Rajagukguk, rumah bolon peninggalan raja tersebut hanya boleh ditinggali oleh anak laki-laki pertama. Sementara anak perempuan diberikan rumah lainnya.
"Rumah itu dibuat dengan kayu pilihan lalu untuk merekatkan kayunya hanya menggunakan tali untuk menyatukan bahan-bahan rumah. Tali ini diikatkan kepada kayu dengan kuat agar rangka rumah tidak longgar ataupun roboh suatu saat," kata Bengkel Rajagukguk, kepada SINDOnews saat berkunjung bersama rombongan Familiarization Trip Media Digital Nasional ke Destinasi Super Prioritas Danau Toba, awal Desember lalu.



Pria paruh baya ini juga menerangkan jika hiasan singa-singa di kanan kiri rumah tersebut sempat hendak dicuri namun tidak bisa, karena konon ada hal gaib yang melindunginya. "Ya memang kalau berhasil dicuri dan dijual harga singa-singa tersebut bisa mencapai ratusan juta bahkan miliaran," kata Bengkel Rajagukguk.

Berdasarkan pengamatan SINDOnews, rumah tersebut sangat berbeda dengan rumah lainnya karena memiliki gorga yang unik dan bersambung. Namun saat ini rumah tersebut, mulai lapuk karena selain dimakan usia dan cuaca rumah tersebut kurang terurus.

Camat Muara Josua Napitupulu mengatakan, pihak kecamatan telah mengusulkan agar rumah tersebut dapat dipugar secara resmi dan menjadi cagar budaya. Namun dari pihak keturunan Hunsa Rajagukguk yang menjadi kerabat dari Opung Jautan Rajagukguk agak sungkan kalau rumah tersebut dipugar.

"Alasannya mereka masih mengumpulkan barang-barang peninggalan raja. Ya sekarang ini kita biarkan dulu mereka menatanya. Nanti jika telah tertata baru akan diusulkan pemugaran secara resmi. Saya sih minta usulan pemugaran diusulkan dari bawah baru ke pemerintah pusat," tandasnya.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak