alexametrics

Dua Kakek Peladang Jadi Terdakwa Karhutla, Warga Kobar Geruduk Pengadilan

loading...
Dua Kakek Peladang Jadi Terdakwa Karhutla, Warga Kobar Geruduk Pengadilan
Warga mendesak para hakim pengadilan untuk membebaskan dua kakek yang menjadi terdakwa dalam kasus kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang berimbas munculnya kabut asap pada Agustus dan September 2019. iNews TV/Sigit
A+ A-
KOTAWARINGIN BARAT - Puluhan masyarakat Kotawaringin Barat (Kobar), Kalteng yang tergabung dalam Alinasi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mendatangi PN Pangkalan Bun.

Mereka mendesak para hakim pengadilan untuk membebaskan dua kakek yang menjadi terdakwa dalam kasus kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang berimbas munculnya kabut asap pada Agustus dan September 2019.

Aksi ini dimulai pukul 09.00 WIB di depan jalan PN Pangkalan Bun. Puluhan masyarakat ini membawa sejumlah spanduk bertuliskan di antaranya, 'Bebaskan Kakek Maulidin dan Kakek Sarwani dari Dakwan Karhutla, Peladang dengan Kearifan Lokal Bukan Penjahat Lingkungan'



Dua terdakwa kakek Gusti Maulidin (63) dan Sarwani (50) warga Desa Rungun, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). "Kami minta kedua kakek ini untuk dibebaskan. Aturan hukum kita ini carut marut. Dua kakek ini membakar lahan di tanahnya sendiri dan untuk berladang bukan untuk membuka lahan baru. Dan luasannya juga sangat kecil di bawah 1 hektare," ujar Ketua AMAN, Mardani usai demo.

Ia mendesak para hakim PN Pangkalan Bun untuk bertindak adil dan membebaskan kedua kakek peladang ini dalam putusannya. "Tuntutan kami hanya satu yakni membebeskan dua kakek ini dari jeratan hukum. Mereka peladang bukan penjahat. Kabut asap yang menyelimuti Pangkalan Bun bukan disebabkan dari pembakaran lahan yang mereka lakukan. Banyak korporasi sawit yang justru membakar lahan tidak diproses hukum," sebut Mardani.

Usai berorasi, perwakilan massa bertemu pihak pengadilan untuk menyampaikan aspirasinya. Demo pun berlangsung damai dengan dikawal puluhan anggota Polisi dari Polres Kotawraingin Barat. Pengamanan cukup ketat dan arus lalu lintas di depan PN Pangkalan Bun dialihkan ke sejumlah jalur alternatif lainnya.

Untuk diketahui, terdakwa Gusti Maulidin mata kirinya sudah tidak bisa melihat lagi itu harus duduk sebagai pesakitan karena membuka ladang untuk menanam padi dengan luasan kurang dari satu hektare.

Sidang kasus kebakaran hutan dan lahan ini sudah berjalan sekitar 3 kali. Saat sidang perdana pada Senin (25/11/2019), sidang diiringi isak tangis keluarga terdakwa.

Menurut pihak keluarga kakek Maulidin sudah secara turun temurun mewarisi budaya bercocok tanam (menugal) dengan membuka lahan terbatas untuk berladang dengan cara membakar.
(nag)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak