alexametrics

Usaha Pertambangan Menjaga Pertumbuhan Ekonomi di Sultra

loading...
Usaha Pertambangan Menjaga Pertumbuhan Ekonomi di Sultra
Pertumbuhan ekonomi di kawasan perusahaan smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), cukup menjanjikan. Foto iNews TV/Asdar Z
A+ A-
KONAWE - Pertumbuhan ekonomi di kawasan perusahaan smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), cukup menjanjikan. Banyak warga lokal dan luar daerah memilih menyerbu kawasan ini, bukan hanya untuk menjadi pekerja, tapi membuka usaha di kawasan PT VDNI.

Seperti kisah ibu Dwi Sri wahyuningsih (29) bersama suaminya Zainal (30). Pasangan suami istri ini, memulai usaha warung makan seafood di Desa Purui, Kecamatan Morosi, setelah berdiri kawasan industri VDNI. (Baca: Ini Dampak Hadirnya Kawasan Industri di Wilayah Morosi Sultra)

Saat itu, suami Dwi, Zainal, memilih keluar dari tempat kerjanya sebagai koki di salah satu rumah makan di Kota Kendari.



Keputusan ini, membawa kesuksesan Dwi dan Zainal. Lokasi warung makan mereka, berada di daerah padat Tenaga Kerja Asing (TKA).

Menurut Dwi, menjual seafood, menghasilkan keuntungan cukup banyak, dibading daging sapi atau ayam. TKA, lebih memilih udang atau kepiting untuk disantap.

"Syukur, karena bukan cuma orang China. Warga lokal juga suka disini karena kami memasak menu beragam," ujar Sri.

Ragam menu makanan ini, seperti udang dan kepiting, dijual Dwi, dengan harga berbeda kepada pekerja lokal dan TKA. Sebab gaji TKA lebih tinggi dibanding pekerja lokal.

"Kalau pekerja lokal, kami jual Rp80 ribu hingga 90 ribu untuk seporsi kepiting. Untuk TKA, kami patok Rp120 ribu," kata Dwi.

Dwi menyebut, TKA China suka datang bergerombol setelah jam kerja selesai. Saat ini, Dwi bersama suaminya Zainal, telah mempekerjakan 5 karyawan, gaji mereka cukup tinggi, bisa mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta, setiap bulan. Omsetnya juga bisa mencapai 4 sampai 5 juta rupiah perhari.

Masuknya perusahaan VDNI, juga membuat pemilik tanah di sekitar kawasan industri memasang harga tinggi kepada setiap pedagang.

Sebidang tanah ukuran 10x4 meter, disewakan Rp15 juta hingga Rp25 juta pertahun. Supaya ringan, pedagang diizinkan mencicil setiap bulan.

"Dulu sebelum 2017, di jejeran toko ini masih hutan rimbun dan jarang orang tinggal. Sekarang ramai sekali," ujar Asma, salah seorang pedagang makanan.

Menurut Asma, harga ini sebanding dengan penghasilannya setiap bulan. Hanya tiga hari, dagangannya laku terjual.

"Stok cepat habis karena pengunjung banyak. Setiap 3 hari sekali saya berbelanja di kota (Kendari)" katanya.

Data PT VDNI, jumlah TKA hingga Agustus 2019, sebanyak 861 orang. Jumlah ini lebih sedikit dibanding pekerja lokal yang mencapai 8.975 orang.

"Para TKA ini, akan kembali ke negaranya jika habis masa kontrak. Namun, kehadiran mereka diakui para pekerja lokal memberikan pengaruh positif," ujar HRD PT VDNI, Aries.

Aries menyebut, TKA China juga terkenal dengan etos kerja tinggi. Sikap disiplin dan ulet, menjadikan pekerja lokal banyak belajar.

"Misalnya, jam istirahat digunakan untuk tidur, tidak keluyuran. Saat makan ya makan. Mereka kerja teratur dan disiplin," ujar Aries.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Tenggara, Saemu Alwi mengatakan, kehadiran PT VDNI di Sultra memberikan nilai tambah bagi pekerja lokal. Hampir setiap tahun, ada program magang bagi calon tenaga kerja.

"Meskipun demikian, faktanya belum semua pasar kerja di lapangan sudah dipenuhi oleh pencari kerja dengan kemampuan mereka," ujarnya.

Saemu juga memastikan, ada pengawasan rutin dan khusus bagi pekerja asing. Disisi lain, dorongan terus diberikan kepada pekerja lokal agar berbenah dan menyamai kualitas TKA. Kehadiran kawasan industri VDNI ini, menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi positif di Sultra.

Pihak Bank Indonesia (BI) mencatat, pada triwulan III 2019, perekonomian Sulawesi Tenggara, pertumbuhan positif sebesar 6,2% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, sebesar 5,0% (yoy).

Dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya tercatat sebesar 6,3% (yoy), ekonomi Sulawesi Tenggara, mengalami moderasi pertumbuhan sejalan dengan penurunan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode laporan.

Menurut Deputi Direktur Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, Suharman Tabrani, dari sisi penawaran, moderasi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara, disebabkan oleh perlambatan pada beberapa lapangan usaha utama seperti pertanian, kehutanan dan perikanan, serta lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran.

Di tengah kondisi menurunnya kinerja beberapa lapangan usaha, Suharman menyebut, akselerasi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian mampu menjaga pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara, tetap berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional.

"Hal ini didukung oleh meningkatnya kinerja pertambangan nikel untuk memenuhi kuota ekspor dan untuk memenuhi permintaan dari smelter di Sulawesi Tenggara. Sementara itu akselerasi pada lapangan usaha konstruksi didorong oleh kondisi cuaca yang kondusif turut memberikan dampak positif pada kinerja kedua lapangan usaha tersebut," jelas Suharman.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak