alexametrics

Gunung Merapi Masih Sering Erupsi, Hal Ini Ditengarai Pemicunya

loading...
Gunung Merapi Masih Sering Erupsi, Hal Ini Ditengarai Pemicunya
Gunung Merapi terlihat mengeluarkan awan panas letusan dari Kaliadem, Cangkringan, Sleman, Sabtu (9/11/2019) pagi. Foto: Dok TRC BPBD Sleman
A+ A-
SLEMAN - Merapi yang berada di perbatasan Sleman DIY, Magelang, Boyolali dan Klaten, Jawa Tengan, kembali mengeluarkan awan panas letusan, Sabtu (9/11/2019) pagi. Kolom abu teramati berawarna putih hingga kelabu denga intensitas sedang hingga tebal.
Erupsi Merapi masih terjadi relatif cukup sering. Lantas apa penyebab Gunung Merapi kerap erupsi? Dikutip dari laman Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), http://merapi.bgl.esdm.go.id, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi karakteristik atau perilaku erupsi, di antaranya sifat magma, termasuk komposisi kimia, kekentalan, kandungan gas dan air. Kemudian, struktur dan dimensi pipa saluran magma, serta posisi serta volume kantong magma yang menentukan besarnya pasokan. Besarnya suplai magma dari zona yang lebih dalam adalah motor utama dari aktivitas vulkanis dan yang membuat sistim vulkanis berjalan.
Suplai magma Merapi dari kedalaman terkait dengan sistim tektonik yaitu subduksi oleh tumbukan antara lempeng samudera Indo-australia dan lempeng benua Asia. Dalam zona subduksi, pada kedalaman antara 60-150 km, terjadi pelelehan karena tekanan dan suhu tinggi. Pelelehan tersebut memproduksi magma asal, disebut juga magma primitif. (Baca juga: Gunung Merapi Semburkan Awan Panas Setinggi 1.500 Meter)

Kedalaman zona pelelehan, tingginya tekanan dan suhu mempengaruhi jenis atau komposisi kimia magma primitif. Tiga parameter ini menyebabkan gunung api di Indonesia mempunyai magma yang komposisinya berbeda satu sama lain. Magma primitif akan bermigrasi menuju permukaan yang digerakan oleh energi permukaan dari cairan hasil lelehan, faktor gravitasi dan efek tektonik.

Dalam proses migrasi magma sistim tektonik termasuk evolusinya merupakan faktor penting. Aktivitas tektonik menghasilkan zona lemah yang memberi kemudahan bagi magma untuk menerobos mencapai permukaan menjamin kontinuitas suplai magma. Konstelasi tektonik ini juga yang memungkinkan, dua gunung yang berdekatan bisa berbeda keadaannya, misalnya yang satu "mati", yang lain sangat aktif.

Erupsi Merapi terjadi relatif sering ditengarai karena faktor geometri internal system vulkanis. Dari data kegempaan Merapi tahun 1991 yang kaya gempa vulkanik dari berbagai jenis, terlihat bahwa distribusi gempa Merapi lateral tidak jauh dari garis vertikal puncak Merapi ke bawah dan tidak tersebar luas. (Baca juga: Gunung Merapi Muntahkan 2 Kali Lava Pijar dan 3 Kali Awan Panas)



Pada kedalaman 1,5 - 2 km di bawah puncak, tidak dijumpai adanya hiposenter gempa. Demikian pula pada kedalaman kurang dari 5 km. Gempa volkano-tektonik (VT) memerlukan medium yang solid dan bisa patah (brittle) sehingga zona-zona tidak terdapat hiposenter dianggap zona yang lembek (duktil) karena pengaruh suhu tinggi magma.

Dalam proses perjalanan menuju ke permukaan magma memasuki zona tampungan magma, dapat disebut sebagai kantong magma atau dapur magma apabila ukurannya lebih besar. Di Merapi terdapat dua zona tampungan magma yang menentukan sifat khas Merapi. Karena letaknya relatif tidak jauh, maka kenaikan tekanan di dapur magma akan menyebabkan aliran magma menuju kantong magma di atasnya menyebabkan naiknya tekanan di sana.

Dalam hal ini kantong magma berfungsi sebagai katup bagi magma yang naik ke permukaan. Waktu tenang antar erupsi di Merapi merupakan fase dimana terjadi proses peningkatan tekanan magma di dalam kantong magma. Apabila tekanan melebihi batas ambang tertentu magma akan keluar dalam bentuk erupsi explosive atau efusif berupa pembentukan kubah lava. (Baca juga: 7 Kali Muntahkan Lava Pijar, Gunung Merapi Masih Berstatus Waspada)

Volume produk yang dikeluarkan kira-kira sebesar 0,1% dari volume kantong/dapur magma. Produk erupsi Merapi rata-rata 10 juta m3 dalam suatu erupsi, bahkan sering di bawah 4 juta m3, yang artinya volume kantong magma relative kecil. Sangat kecil bila dibandingkan dengan Kilauea dan Reunion yang dalam sekali fase erupsi mengeluarkan masing–masing lebih dari 40 juta m3 dan 100 juta m3 lava. Kantong magma dangkal di Merapi menyebabkan hanya dengan peningkatan tekanan yang tidak terlalu besar sudah dapat mengalirkan magma cukup lancar sampai permukaan tanpa perlu waktu panjang.
(thm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak