alexametrics

Cerita Pagi

Kisah Raden Karlan Pejuang OKD Melawan DI/TII di Pangandaran

loading...
Kisah Raden Karlan Pejuang OKD Melawan DI/TII di Pangandaran
Raden Karlan (81) merupakan salah satu warga Dusun/Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran yang ikut terlibat menjadi Organisasi Keamanan Desa (OKD) dan Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR) di tahun 1956 hingga 1960. Foto SINDOnews/Syamsul M
A+ A-
Raden Karlan (81) merupakan salah satu warga Dusun/Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran yang ikut terlibat menjadi Organisasi Keamanan Desa (OKD) dan Organisasi Pertahanan Rakyat (OPR) di tahun 1956 hingga 1960.

Sosok Raden Karlan pernah menjadi buah bibir karena kemampuannya mengusir pemberontak Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di wilayah Pangandaran. Bahkan Raden Karlan yang lahir pada 14 Juni 1938 ini konon tidak mempan ditembak peluru pemeberontak. Dia pun kerap selamat saat ditawan pemberontak DI/TII yang terkenal ganas.

Raden Karlan merupakan salah satu putra Raden Tisnawijaya seorang tokoh masyarakat di wilayah Parigi ini mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) dengan tanggal kelulusan 24 Juli 1954.



Meski sudah lanjut usia, keseharian Raden Karlan masih terlihat segar dan tidak pernah mengeluh merasakan rasa sakit seperti orang lanjut usia pada umumnya.

Bahkan di usia 81 tahun Raden Karlan sering berangkat pepergian menggunakan sepeda ontel tua miliknya pulang pergi dari Kabupaten Pangandaran ke Kota Tasikmalaya.

"Sekarang saya tidak punya teman se umur yang dulu sepermainan kecil atau waktu remaja, semuanya sudah wafat," kata Raden Karlan saat dijumpai di rumahnya.

Dia mengaku, pernah ikut berjuang mengusir pemberontak DI/TII dengan menjadi OKD dan OPR.

OKD merupakan pemuda Desa yang diperbantukan untuk mempertahankan kemerdekaan di tingkat Desa, sedangkan OPR pemuda Desa keterwakilan dari tiap OKD yang berkedudukan di tingkat Kecamatan.

"Anggota OPR Kecamatan Parigi dulu berjumlah 40 orang yang merupakan OKD dari 6 Desa," kenang Raden Karlan.

Masa itu, Raden Karlan juga pernah mengikuti latihan perang selama 3 bulan setiap hari hingga malam terus berlatih dibawah pimpinan Letnan Iskandar dari Badan Organisasi Daerah Militer (BODM).

"Antara OKD atau OPR sering terjadi kontak senjata dengan pemberontak DI/TI di daerah jalur jalan Sier, Dusun Kemplung, Desa Karangbenda dan saya beberapa kali mengalami ancaman keselamatan nyawa waktu itu," timpalnya.

Raden Karlan memaparkan, perjalanan hidupnya banyak mengalami peristiwa genting dan gawat di saat kondisi negara belum kondusif.

Dirinya mengaku, keterbatasan senjata atau peralatan perang tidak menjadi alasan baginya untuk menjadi seorang pengecut jika berhadapan dengan musuh.

Bahkan Raden Karlan memiliki ide cerdas dikala dirinya tidak memiliki senjata, namun masih tetap menjadi sosok pemberani.

"Senjata paling ampuh menaklukan musuh adalah PDTB yang artinya Pembelaan Diri Tak Bersenjata dengan cara mengantongi pasir dalam saku celana atau baju yang dipakai," paparnya.

Cara menggunakan pasir tersebut, saat dikepung musuh, pasir di lemparkan ke mata musuh hingga musuh tidak berdaya, cara tersebut merupakan jurus ampuh yang dilakukan Raden Karlan setiap bertemu dengan pemberontak negara.

Selain menjadi pejuang OKD, Raden Karlan juga memiliki talenta bermain musik, sejak muda dirinya sering menjadi pengisi acara-acara bergengsi melantunkan lagu keroncong.

"Belajar musik dan bernyanyi dari seorang warga Tionghoa bernama Yanpo, sampai saya bisa manggung dari satu tempat ke tempat lain," terangnya.

Masa kejayaan bermain musik Raden Karlan tergolong lama sejak tahun 1956 hingga 1965. Biasanya lagu yang sering menjadi request penonton keroncong judul lagu mengapa kau menangis dan Bandung Selatan.

Kini Raden Karlan hanya menjadi pemungut sampah di daerah perkotaan Kabupaten Pangandaran. Meski begitu dia tetap semangat dalam menjalani sisa hidupnya.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak