alexametrics

Festival Babukung 2019 Masuk 100 Kalender Event Wonderful Indonesia Kemenpar RI

loading...
Festival Babukung 2019 Masuk 100 Kalender Event Wonderful Indonesia Kemenpar RI
Bupati dan Wakil Bupati Lamandau duduk di panggung beserta tamu undangan saat membuka Festival Babukung 2019 di Nanga Bulik, Jumat (11/10/2019) sore.
A+ A-
LAMANDAU - Keindahan alam Indonesia memang tidak perlu diragukan lagi. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki garis pantai yang panjang, deretan gunung-gunung yang megah, serta keanekaragaman hayati.

Potensi alam yang berlimpah tersebut kemudian disempurnakan dengan kekayaan budaya dan adat istiadat lokal. Menariknya, sektor budaya inilah yang diklaim sebagai salah satu daya tarik di mata wisatawan mancanegara. Salah satunya adat budaya unik ada di Kabupaten Lamandau, Kalteng.

Di Lamandau ada Festival Babukung. Babukung adalah festival tahunan yang digelar di Nanga Bulik, Ibu Kota Kabupaten Lamandau, Provinsi Kalimantan Tengah . Festival ini pertama kali digelar pada 2014 dan tahun ini memasuki tahun kelima. Bahkan dua tahun terakhir, Festival Babukung masuk dalam 100 Kalender Event Wonderful Indonesia Kemenpar RI.



Festival tersebut berawal dari Babukung atau sejenis tarian ritual adat kematian Suku Dayak Tomun di Lamandau. Tarian ini menggunakan topeng dengan karakter hewan tertentu yang disebut Luha, sedangkan para penari disebut Bukung.

Bukung-bukung ini datang dari desa tetangga atau kelompok masyarakat dengan tujuan menghibur keluarga duka sembari menyerahkan bantuan. Melihat keunikan dan keeksotisan Babukung, Pemerintah Kabupaten Lamandau mengangkatnya menjadi salah satu agenda rutin festival budaya.

“Babukung erat kaitannya dengan ritual kematian, terutama bagi warga dayak. Biasanya dilaksanakan pada saat ada orang yang meninggal. Mereka datang menggunakan topeng atau luha, lalu menggunakan pakaian khusus, sehingga tidak ada yang mengenalinya,” tutur Hendra Lesmana, Bupati Lamandau, saat ditemui sindonews.com dalam pembukaan Festival Babukung 2019, di Nanga Bulik, Jumat (11/10/2019).

Lebih lanjut, Hendra menjelaskan, selain menghibur dengan tarian, para penari juga memberikan sumbangan tapi tidak diketahui oleh pihak keluarga. Nah, yang hendak dikedepankan dalam festival ini adalah budaya dan seni tari dalam bukung itu sendiri.

“Musik dan tariannya yang akan dilestarikan. Pada 2015 lalu, kami sudah memecahkan rekor MURI dengan menampilkan lebih dari 1000 bukung (penari topeng). Dan sekarang Babukung ini masuk 100 kalender event di Kemenpar RI,” ungkap orang nomor satu di Lamandau ini.

“Di hari pertama pembukaan kita laksanakan Karnaval Topeng yang diikuti ribuan perwakilan dari seluruh kecamatan di Lamandau dan juga perwakilan dari kabupaten tetangga,” imbuhnya.

Sesuai jadwal, Festival Babukung 2019 akan digelar selama 3 hari mulai 11-13 Oktober. Sejumlah acara sudah disusun untuk mendongkrak kunjungan wisata baik lokal maupun waisatawan mancanegara.

“Bahkan ini kita jadikan sebagai pendongkrak perekonomian warga dengan sajian wadai (kue) lokal Lamandau yang dijual para pedagang. Dan ribuan penonton tak hanya dari lokal Lamandau tapi banyak juga dari warga kabupaten tetangga bahkan wisatawan mancanegara,” pungkasnya. (KS)
(alf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak