Pengamat: Berantas Mafia Bongkar Muat yang Beratkan Pengusaha dan Sopir

Kamis, 27 Agustus 2020 - 07:29 WIB
loading...
Pengamat: Berantas Mafia...
Persoalan overdimension overload (odol) bukan persoalan sederhana yang hanya terkait pelanggaran kelebihan muatan yang berakibat kemacetan, kerusakan jalan, dan tidak efisiennya biaya logistik darat. Foto: Dok SINDOnews
A A A
JAKARTA - Pengamat Transportasi Djoko Setidjowarno mengatakan, persoalan overdimension overload (odol) bukan persoalan sederhana yang hanya terkait pelanggaran kelebihan muatan yang berakibat kemacetan , kerusakan jalan, dan tidak efisiennya biaya logistik darat selama ini.

"Persoalan odol dimulai dari titik loading atau muat barang, misalnya di pelabuhan atau area industri atau pusat logistik lainnya," ujarnya, Rabu (26/8/2020). (Baca juga: Pemkot Bogor: Kontak Erat Positif COVID-19 Jadi Prioritas Swab Test)

Hasil pengamatan di lapangan ditemukan berbagai persoalan keamanan dan pungli yang sangat besar serta menahun tanpa dapat diselesaikan baik oleh regulator maupun aparat keamanan. Persoalan tersebut menjadi salah satu penyebab utama tidak efektifnya sistem logistik darat di Indonesia.

"Pengusaha logistik atau truk bisa berhemat, tapi perawatan jalan menghabiskan dana yang tak sedikit baik bagi Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR melalui APBN maupun Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) melalui anggaran perawatan yang memberatkan ketika tarif dan pengguna belum sampai pada nilai ekonominya," ungkapnya.

Menurut Djoko, kerugian akibat truk melebihi muatan menyebabkan banyak kecelakaan yang merenggut nyawa manusia dan kerugian material lainnya. Regulator dan aparat sangat mengetahui kondisi tersebut, tapi tidak dapat berbuat apa-apa karena patut diduga termasuk oknum yang menikmati buruknya manajemen logistik darat di Indonesia. (Baca juga: Ini Alasan Bioskop Boleh Buka Lagi pada Masa Pandemi Covid-19)

Sehingga, regulator dan aparat hanya fokus pada truk kelebihan muatan saja dan ini tidak menyelesaikan akar permasalahannya. Para pemilik dan awak truk lebih senang tidak odol karena kerugian kerusakan truknya pun makin kecil. Namun, kalau tidak melebihi muatan, biaya angkut tidak tertutupi.

"Bereskan akar masalah truk melebihi muatan. Kir tak taat aturan dan hapuskan mafia bongkar muat yang memberatkan pengusaha dan sopir truk," kata Djoko.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
DPR Tunggu Hasil Pembahasan...
DPR Tunggu Hasil Pembahasan Tim Perumus Buruh dan Apindo untuk RUU Ciptaker
Rupiah Ambruk Tembus...
Rupiah Ambruk Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pengusaha Ritel Sport Jantung
2 Pengusaha Penyuap...
2 Pengusaha Penyuap Noel Ebenezer Cs Divonis 1,5 Tahun Penjara, Lebih Rendah dari Tuntutan Jaksa
Rekomendasi
Ole Romeny Bawa Timnas...
Ole Romeny Bawa Timnas Indonesia Unggul Cepat atas Mozambik
Akulaku Finance Kantongi...
Akulaku Finance Kantongi Fasilitas Pendanaan Rp500 Miliar dari Danamon
Geledah Kantor Wika,...
Geledah Kantor Wika, Kortas Tipikor Polri Sita Dokumen hingga Barbuk Elektronik
Berita Terkini
PTUN Serang Tutup Gugatan...
PTUN Serang Tutup Gugatan Yayasan Syarif Hidayatullah, Pengacara: Kepemilikan UIN Jakarta Kian Tegas
SDN di NTT Dibongkar...
SDN di NTT Dibongkar untuk KDMP, Andreas PDIP: Jangan Korbankan Program Lainnya
Program Perempuan Berdaya...
Program Perempuan Berdaya Sandiaga Uno, Peserta Raup Pesanan Jutaan Rupiah
129 Sampul Paspor Bekas...
129 Sampul Paspor Bekas Jemaah Haji Ditemukan Tercecer di Serpong, Imigrasi: Dokumen Lama
Operasi SAR Ledakan...
Operasi SAR Ledakan Bom Peninggalan Perang Dunia II di Biak Ditutup
BRI Kokohkan Dominasi,...
BRI Kokohkan Dominasi, Raih Penghargaan Best Private Bank Skala Internasional
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved