Tekan Kasus Bullying, RS Bhayangkara Gelar Pendekatan ke Orang Tua dan Sekolah
Kamis, 29 Agustus 2024 - 21:10 WIB
loading...
RS Bhayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri gelar pendekatan ke orang tua dan sekolah serta pondok pesantren terkait maraknya kasus perundungan (bullying). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - RS Bhayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri memberikan perhatian untuk menekan kasus perundungan (bullying). Dalam hal ini RS Bhayangkara melakukan pendekatan ke pihakorang tua siswa, pengelola sekolah, dan pondok pesantren.
Melalui Program Official Hospital ini, Tim RS Bhayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri melakukan pendekatan berupa sosialisasi, edukasi, mitigasi serta pemahaman bagaimana mencegah bullying yang bisa terjadi di sekolah atau pondok pesantren.
Waka RS Bhy Tk I Pusdokkes Polri, Kombes Pol Dr Erwinn Zainul Hakim menjelaskan, kegiatan inidigelar di RS Bhayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri di kawasan Kramat Jati-Jakarta Timur, Kamis (29/8/2024).
"Selain menghadirkan Tim Dokter Ahli RS Bhayangkara yang berkompeten dalam Kasus Perudungan atau Bullying, dalam Seminar yang diikuti ratusan orang tua dan pengasuh serta Guru Sebuah Pondok Pesantren Besar di kawasan Muncul Cibubur-Jakarta Timur ini, juga dihadirkan Perwakilan dari Kementrian PPA dan Kemenag yang memberikan Edukasi terkait Masalah Bullying yang marak terjadi disejumlah daerah di Indonesia," kata Erwinn.
Sebagai tindak lanjut dari seminar tersebut, pihak RS Bhayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri akan melakukan Program Official Hospital Rumah Sakit dengan mendatangi langsung ke pondok pesantren untuk berinteraksi langsung dengan siswa dan guru berikut pengasuh sekolah dan Ponpes untuk memberikan edukasi langsung dalam rangka mencegah aksi perundungan atau bullying di sekolah atau pesantren.
"Ide dan Gagasan ini muncul karena maraknya aksi perundungan atau bullying di sejumlah sekolah, daerah di Indonesia yang melibatkan siswa sebagai korban dan pelaku perundungan. Untuk itu kita akan melakukan Pendekatan langsung ke siswa, guru, pengasuh ponpes, dan orang tua di sekolah agar tidak terjadi lagi Aksi Bullying yang bisa mempengaruhi sikap dan psikologis siswa, baik sebagai korban atau pelaku," tegas Kombes Erwinn.
Menurut Perwira Menengah Polri yang pernah menjabat sebagai Kabiddokes Polda Jatim ini, aksi perudungan atau bullying ini bisa dicegah dengan memberikan edukasi dan pemahaman terkait Bagaimana caranya mencegah dan mengantisipasi aksi yang bisa mempengaruhi masa depan siswa.
Melalui Program Official Hospital ini, Tim RS Bhayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri melakukan pendekatan berupa sosialisasi, edukasi, mitigasi serta pemahaman bagaimana mencegah bullying yang bisa terjadi di sekolah atau pondok pesantren.
Waka RS Bhy Tk I Pusdokkes Polri, Kombes Pol Dr Erwinn Zainul Hakim menjelaskan, kegiatan inidigelar di RS Bhayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri di kawasan Kramat Jati-Jakarta Timur, Kamis (29/8/2024).
"Selain menghadirkan Tim Dokter Ahli RS Bhayangkara yang berkompeten dalam Kasus Perudungan atau Bullying, dalam Seminar yang diikuti ratusan orang tua dan pengasuh serta Guru Sebuah Pondok Pesantren Besar di kawasan Muncul Cibubur-Jakarta Timur ini, juga dihadirkan Perwakilan dari Kementrian PPA dan Kemenag yang memberikan Edukasi terkait Masalah Bullying yang marak terjadi disejumlah daerah di Indonesia," kata Erwinn.
Sebagai tindak lanjut dari seminar tersebut, pihak RS Bhayangkara Tingkat 1 Pusdokkes Polri akan melakukan Program Official Hospital Rumah Sakit dengan mendatangi langsung ke pondok pesantren untuk berinteraksi langsung dengan siswa dan guru berikut pengasuh sekolah dan Ponpes untuk memberikan edukasi langsung dalam rangka mencegah aksi perundungan atau bullying di sekolah atau pesantren.
"Ide dan Gagasan ini muncul karena maraknya aksi perundungan atau bullying di sejumlah sekolah, daerah di Indonesia yang melibatkan siswa sebagai korban dan pelaku perundungan. Untuk itu kita akan melakukan Pendekatan langsung ke siswa, guru, pengasuh ponpes, dan orang tua di sekolah agar tidak terjadi lagi Aksi Bullying yang bisa mempengaruhi sikap dan psikologis siswa, baik sebagai korban atau pelaku," tegas Kombes Erwinn.
Menurut Perwira Menengah Polri yang pernah menjabat sebagai Kabiddokes Polda Jatim ini, aksi perudungan atau bullying ini bisa dicegah dengan memberikan edukasi dan pemahaman terkait Bagaimana caranya mencegah dan mengantisipasi aksi yang bisa mempengaruhi masa depan siswa.
Lihat Juga :