alexametrics

Pendekatan Antisipasi Hoaks Terus Dilakukan Pascagempa Maluku

loading...
Pendekatan Antisipasi Hoaks Terus Dilakukan Pascagempa Maluku
Pemerintah bersama BNPB, TNI, Polri terus melakukan pendekatan kepada warga untuk tidak terpancing hoaks pascagempa Maluku 6,5 Magnitudo pada 26 September 2019. Dok/SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Pemerintah bersama BNPB, TNI, Polri terus melakukan pendekatan kepada warga untuk tidak terpancing hoaks pascagempa Maluku 6,5 Magnitudo pada 26 September 2019. Tim gabungan masih terus mengimbau warga untuk kembali ke rumah dan tidak terpengruh hoaks ada gempa susulan dan tsunami.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengatakan, Tim Reaksi Cepat BNPB (TRC) bersama camat, kepala desa, babinsa, dan babinkamtibmas di Kabupaten Seram Bagian Barat telah memberikan penjelasan kepada warga sejak beberapa hari lalu. Sebab, ketika hoaks tentang gempa dan tsunami dalam waktu dekat, membuat warga memilih mengungsi secara tersebar di dataran yang lebih tinggi.

“Sebagian warga masih percaya hoaks tersebut, sehingga ada yang mengungsi ke bukit secara tersebar dan sulit dijangkau personel gabungan. Kondisi tersebut justru menyebabkan kualitas kesehatan warga menurun seiring turunnya hujan,” kata Agus dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Rabu (2/10/2019).



Dari upaya yang dilakukan, sejumlah warga yang mengungsi memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Hal tersebut dilihat dari berkurangnya jumlah penyintas hingga 72.000 jiwa sejak Selasa 1 Oktober 2019 malam.

Kepala Sub Direktorat Peringatan Dini BNPB Abdul Muhari, Peneliti Badan Geologi Cipta dan perwakilan BPBD Provinsi Maluku memberikan keterangan secara langsung melalui TVRI Ambon, Rabu (2/10/2019). Muhari menyampaikan mengenai karakterter dan historis gempa di Ambon sehingga masyakarat memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa.

“Berdasarkan informasi BMKG pada 1 Oktober 2019, total gempa susulan berjumlah 782 dan gempa yang dirasakan 82 kali. Dilihat dari gempa susulan yang terjadi, frekuensi cenderung turun,” katanya.

Data sementara per 1 Oktober 2019 mencatat total penyintas berjumlah 115.290 jiwa. Jumlah penyintas terbesar terdapat di Kabupaten Seram Bagian Barat dengan jumlah 36.391 jiwa, Maluku Tengah 50.250, dan Kota Ambon 28.649.

Sementara itu, total rumah rusak berjumlah 6.184 unit dengan rincian di wilayah Maluku Tengah rumah rusak berat 1.635 unit, rusak sedang 956 unit, dan rusak ringan 2.120 unit. Rumah rusak di wilayah Seram Bagian Barat sebanyak 259 unit rusak berat, 681 unit rusak ringan, sedangkan di wilayah Kota Ambon 96 unit rusak berat, 145 unit rusak sedang, dan 292 unit rusak ringan.

Hingga kini, masing-masing wilayah yang terdampak gempa terus melakukan upaya penanganan darurat bencana. Masa tanggap darurat sementara ini akan berakhir pada 9 Oktober 2019.
(wib)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak