alexametrics

Karhutla di Sumatera Meluas, 22 Diduga Pelaku Ditangkap

loading...
Karhutla di Sumatera Meluas, 22 Diduga Pelaku Ditangkap
Karhutla di Sumatera Meluas, 22 Diduga Pelaku Ditangkap
A+ A-
BATAM - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian wilayah Sumatera semakin tebal. Tak hanya membahayakan kesehatan manusia, ketebalan asap pun masih membahayakan keselamatan penerbangan. Kemarin, dua pesawat yang seharusnya mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasiem II Pekanbaru terpaksa dialihkan ke Bandara Hang Nadim Batam akibat jarak pandang yang sangat pendek.

Direktur Badan Usaha Bandar Udara Internasional Hang Nadim Batam Suwarso mengungkapkan, jarak pandang bagi pilot di sekitar Pekanbaru hanya sekitar 500 meter sehingga tidak memungkinkan pilot untuk mendaratkan pesawatnya di Bandara Sultan Syarif Kasiem II. Kedua pesawat yang pendaratannya dialihkan ke Bandara Hang Nadim adalah Lion Air JT-276 rute Yogyakarta-Pekanbaru yang tiba di Batam pukul 10.35 WIB dan Batik Air rute Jakarta-Pekanbaru yang mendarat di Batam pukul 10.14 WIB.

“Lion Air akhirnya diberangkatkan ke Pekanbaru pada pukul 12.53 WIB sementara Batik Air berangkat ke Pekanbaru pada pukul 12.10 WIB,” sebut Suwarso. Dia juga mengungkapkan, pesawat lainnya yakni Lion Air JT 235 harus berputar-putar agak lama di atas Pekanbaru padahal seharusnya sudah mendarat sejak pukul 14.50 WIB.
Asap pekat dan udara buruk bagi kesehatan akibat karhutla juga masih menyelimuti sejumlah daerah di Sumatera Selatan.



Berdasarkan pantauan, kabut asap pekat menyelimuti Kota Palembang hingga matahari dari permukaan daratan tampak berwarna kemerahan seperti bulan. Kualitas udara di Kota Palembang pun masih tergolong kategori tidak sehat terutama pada dini hari dan pagi. Alat Air Quality Monitoring System (AQMS) di Simpang Lima DPRD Sumsel menunjukkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Palembang sebesar 135 PM10.

“Artinya, ISPU di Palembang dalam kategori tidak sehat,” kata Kepala Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, Ansori. Sementara itu, titik api karhutla masih terjadi di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin. Bahkan berdasarkan data hotspot (titik panas) dari Satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), ada sekitar 587 titik. Sebanyak 251 titik panas berada di OKI dan 159 lainnya di Musi Banyuasin.

Pemadaman melalui darat maupun udara di Musi Banyuasin dilakukan dengan mengerahkan tujuh helikopter dan teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan pesawat Hercules yang memiliki daya jangkau jauh. "Untuk daerah lain, kami maksimalkan pemadaman dari tim satgas darat," ujar Ansori.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Bambang Beni Setiadji mengatakan, angin permukaan dari arah Timur–Tenggara membawa asap akibat karhutla masuk ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya. Delapan penerbangan di bandara tersebut mengalami delay.

"Asap mengurangi jarak pandang, perih di mata, mengganggu pernapasan dan matahari terlihat berwarna oranye atau merah pada pagi dan sore hari,” jelas Bambang. Di sebagian Provinsi Jambi, karhutla membuat langit menjadi gelap gulita. Suasana siang hari tampak gelap seperti malam. Di Desa Puding, Kecamatan Kumpeh Ilir, Kabupaten Muaro Jambi, misalnya. Pekatnya kabut membuat cahaya matahari yang tertutup asap berwarna kemerahan.

Jarak pandang sangat terbatas, pengendara harus ekstra hati-hati dan mengandalkan sorotan lampu penerangan untuk mengemudi pada siang hari. Kepala BPBD Jambi M Zakir mengungkapkan, kebakaran lahan di Puding sudah terjadi satu pekan terakhir. "Kami berharap bisa turun hujan sehingga kebakaran lahan bisa teratasi," tuturnya.

Dandim 0415/Batanghari Letkol Inf J Hadiyanto, efek merah di Desa Puding akan terlihat menjelang magrib karena pengaruh matahari terbenam dan posisi berada di belakang lahan terbakar. “Sehingga nyala api menimbulkan warna merah," terangnya. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Addi Setiadi mengatakan, masyarakat tidak perlu panik dengan fenomena alam seperti itu. “Itu terjadi akibat menumpuknya kabut asap. Sinar matahari tertahan dan tidak langsung ke permukaan tanah,” terang Addi.

Penangkapan Pelaku

Tim gabungan Satgas Karhutla Jambi menangkap 22 orang yang diduga sebagai pelaku pembakar hutan dan lahan di areal konsesi PT REKI di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari. Para pekaku ini diduga akan membuka lahan perkebunan dengan cara dibakar. "Mereka adalah warga pendatang," ujar Kapolres Batanghari M Santoso.

Petugas juga menyita sejumlah barang bukti di antaranya bibit tanaman kelapa sawit, beberapa unit mesin chainsaw, kayu bekas terbakar dan 4 derigen plastik bekas berisi minyak. Penangkapan orang yang diduga terlibat pembakaran sengaja hutan dan lahan juga terjadi di Balangan, Kalimantan Selatan. Satuan Tugas Penegakan Hukum (Satgas Gakkum) Polres Balangan, menangkap seorang petani yang diduga melakukan pembakaran pada Sabtu (21/9) berinisial SR.

Dia ditangkap di Sungai Hanyar Desa Batumandi, Kabupaten Balangan. Kapolda Kalsel, Irjen Yazid Fanani mengatakan, penangkapan terhadap SR dilakukan saat jajaran kepolisian sedang melakukan pemadaman. SR dijerat dengan Pasal 108 Juncto Pasal 69 ayat (1) huruf H UU No 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Pasal 187 ayat (1) KUHP.

Karhutla juga membuat hampir seluruh wilayah di Sumatera Utara diselimuti kabut asap sepanjang hari kemarin. Kepala Balai Besar BMKG Wilayah I Medan, Edison Kurniawan, mengatakan, titik panas berada di Kecamatan Panai Tengah Kabupaten Labuhanbatu dan di Kecamatan Kwaluh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara.

Ketua DPR Bambang Soesatyo mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membentuk gugus tugas khusus di setiap daerah dengan tugas pokok dan fungsi menerapkan upaya dan langkah-langkah preventif mencegah karhutla. Kekuatan gugus tugas, kata Bamsoet, akan sangat ideal jika bersumber dari sinergi antara aparatur sipil pusat dan daerah, TNI/Polri serta masyarakat adat dan BMKG.

Menurut dia, potensi karhutla yang nyaris menjadi rutinitas di Indonesia seharusnya bisa ditekan dengan upaya-upaya preventif yang efektif. Upaya dan langkah-langkah preventif bisa direalisasikan jika ada kemauan baik dan kesungguhan dari semua pihak. “Kalau peduli, pemerintah daerah bisa menggerakan semua potensi setempat, termasuk masyarakat adat, untuk mencegah aksi pembakaran atau pengrusakan hutan,” kata Bambang.

Selain mencegah pengrusakan atau pembakaran oleh manusia, sangat penting bagi gugus tugas berkoordinasi dengan BMKG untuk mengetahui kecenderungan cuaca, khususnya dalam periode musim kering atau panas. "Dimana saja wilayah yang memerlukan penguatan gugus tugas seperti itu bisa dipetakan berdasarkan catatan historis kasus karhutla dan perilaku serta kecenderungan masyarakat setempat," pungkasnya.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak