alexametrics

Karhutla Terus Terjadi, Asap Kian Pekat di Palembang

loading...
Karhutla Terus Terjadi, Asap Kian Pekat di Palembang
Kebakaran hutan dan lahan semakin sulit dikendalikan, terbukti kabut asap terus terjadi dan semakin pekat. SINDOnews/Berli
A+ A-
PALEMBANG - Kebakaran hutan dan lahan semakin sulit dikendalikan, terbukti kabut asap terus terjadi dan semakin pekat. Bahkan seorang bayi asal Banyuasin meninggal dunia diduga karena terpapar asap Karhutla.

Bayi malang tersebut meninggal di RS Ar Rasyid Palembang tempatnya dirawat sebelum meninggal dunia Minggu (15/9/2019) malam.

BPBD Sumsel mencatat, hingga kini total lahan yang terbakar di Sumsel sepanjang tahun 2019 mencapai 3.514 hektar. Hingga hari ini Karhutla terus terjadi dan begitu ramai di media sosial. Seperti di Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara disebutkan sudah beberapa hari kebakaran lahan belum berhasil dipadamkan.



Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori mengakui jika karhutla terus terjadi dan meluas di Sumsel. "Hal ini dikarenakan sulitnya akses untuk menuju lokasi Karhutla sehingga menyulitkan untuk dilakukan pemadaman melalui darat oleh tim satgas darat," ujarnya, Senin (16/9/2019).

Dijelaskannya, dari total lahan 3.514 hektar yang terbakar, yang berhasil dipadamkan tim satgas darat hanya 312 hektar. Meskipun begitu, pemadaman juga dilakukan melalui udara dengan mengerahkan helikopter bom air. "Tujuh helikopter terus diterjunkan untuk melakukan pemadaman," katanya.

Sementara titik api, terbanyak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yakni sebanyak 188 titik, Kabupaten Ogan Ilir (OI) sebanyak 53 titik dan Kabupaten Muba sebanyak 51 titik. "Saat ini, total hotspot selama tahun 2019 sudah mencapai 5.277 titik. Dengan hotspot terbanyak di Bulan September yakni mencapai 3.402 titik," katanya.

Sementara pantauan di lapangan, kabut asap terus terjadi dan bertambah pekat malam hingga pagi hari. Selain mengurangi jarak pandang dan membuat mata perih, bau asap cukup menyengat dan tercium hingga di dalam ruangan atau rumah.Terutama di kawasan pinggiran kota dan sungai, seperti di Jakabaring hingga Kertapati, Soekarno Hatta, Talang Keramat dan Alang-alang Lebar, Kalidoni dan pinggiran Sungai Ogan dan Musi. (Baca: Innalillahi, Kabut Asap Renggut Nyawa Bayi di Palembang).

Kabut asap terlihat berkurang ketika di siang atau tengah hari, dan mulai pekat di sore hari sehingga warga Palembang tidak dapat melihat matahari terbenam maupun terbit.
(nag)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak