alexametrics

2 Kilometer Jalan Nasional di Pangandaran Hancur Dihantam Ombak

loading...
2 Kilometer Jalan Nasional di Pangandaran Hancur Dihantam Ombak
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum saat meninjau lokasi jalan terdampak abrasi. Foto/SINDOnews/Syamsul Maarif
A+ A-
PANGANDARAN - Jalan nasional sepanjang 2 Kilometer di pesisir Pantai Pangandaran, Jawa Barat hancur dihantam ombak atau abrasi sehingga hampir memutus akses jalan.

"Jarak antara bibir pantai ke jalur jalan tersebut kurang lebih 20 meter," kata Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum saat meninjau lokasi Jum'at, (13/9/2019).

Uu menambahkan, kondisi tersebut sudah sangat memprihatinkan dan mengancam keselamatan pengguna jalan.



"Harus segera dilakukan penanganan yang profesional agar pengguna jalan merasa nyaman," tambahnya.

Wagub menjelaskan, jalan terdampak abrasi tersebut merupakan akses jalan utama yang dilalui warga Kabupaten Pangandaran dan Tasikmalaya.

"Penanganannya harus menggunakan teknologi canggih, kalau ditangani secara manual tidak akan kuat lama," paparnya.

Uu menargetkan, penanganan jalur terdampak abrasi bisa dilakukan tahun depan.

"Tahun ini kami targetkan penyelesaian detail enggineering desain (DED)," jelasnya.

Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam BAPPEDA Jawa Barat, Indra Sofyan menjelaskan, kewenangan mulai mulut laut sampai 100 meter ke darat merupakan kewenangan PSDA Provinsi Jawa Barat.

Sedangkan sempadan jalan kewenangannya ada di Kementerian Pekerjaan Umum. "Kami akan cari penyebabnya abrasi itu dari apa, dalam hal ini PSDA Provinsi harus memasang dulu pemecah ombak," katanya.

Indra menjelaskan, pemecah ombak untuk mengurangi kencangnya ombak, upaya ini sudah dilakukan di pantai barat Pangandaran.

"Abrasi ini semakin parah dari empat tahun terakhir dan sering terjadi air laut naik ke jalan saat kondisi pasang," tambahnya.
(shf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak