alexametrics

Pulau Kemaro, Legenda Cinta Pangeran Cina dan Putri Sriwijaya

loading...
A+ A-
PALEMBANG - Pulau Kemaro, atau yang lebih sering disebut Pulau Kemarau merupakan sebuah daratan yang berada ditengah-tengah aliran Sungai Musi, Palembang.

Selain daratan yang terkenal karena memiliki Pagoda setinggi 9 lantai, di pulau dengan luas sekitar 32 hektar tersebut juga terkenal dengan adanya Kelenteng Hok Cing Bio serta keberadaan pohon cinta.

Konon berdasarkan cerita yang beredar jika pasangan berfoto di pohon cinta itu hubungan asmaranya akan langgeng.

Dibalik keindahaannya, Juru Kunci Pulau Kemaro, Bun Hao menceritakan jika Pulau Kemaro juga menyimpan banyak misteri terkait asal usul pulau tersebut.

Diceritakannya, di daerah Sumatra Selatan, terdapatlah seorang raja yang bertahta di Kerajaan Sriwijaya.

Raja tersebut mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Siti Fatimah. Selain cantik, juga dikenal memilki sifat yang baik.

Sopan-santun dan tutur bahasanya yang lembut mencerminkan sifat seorang putri raja. Dari kecantikan dan keelokan sifatnya mengundang banyak decak kagum para pemuda di Negeri Palembang saat itu.

Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena kedua orang tuanya menginginkan ia menikah dengan putra raja yang kaya raya.

Suatu hari, datanglah seorang putra raja dari Negeri Cina bernama Tan Bun Ann untuk berdagang di Palembang.

Putra Raja Cina itu berniat untuk tinggal beberapa lama di negeri itu, karena ia ingin mengembangkan usahanya.

Sebagai seorang pendatang, Tan Bun Ann datang menghadap kepada Raja Sriwijaya untuk memberitahukan maksud kedatangannya ke negeri itu.

Ketika meminta izin berdagang inilah, dua anak manusia yang berbeda etnis, Tan Bun An dan Siti Fatimah bertemu dan jatuh cinta.

Merekapun menjalin kasih dan berniat untuk ke pelaminan. Untuk menunjukkan keseriusaannya, Tan Bun An mengajak sang pujaan hati Siti Fatimah ke negeri Cina untuk menemui orang tua Tan Bun An.

Setelah beberapa waktu, mereka kembali ke Palembang bersama tujuh buah guci pemberian orang tua Tan Bun An yang berisikan emas.

Sesampainya mereka di muara Sungai Musi, Tan Bun An ingin mengecek hadiah emas yang diberikan didalam guci-guci tersebut.

Namun, Tan Bun An kaget bukan kepalang ketika melihat kedalam guci bukanlah emas namun hanya sayuran sawi.

Tanpa aba-aba, Tan Bun An lantas kecewa dan membuang satu persatu guci ke dalam sungai. Namun saat hendak mengangkat guci terakhir mungkin karena keberatan sehingga membuat guci tersebut jatuh dan pecah.

Dan alangkah terkejutnya Tan Bun An ketika melihat tumpukan kepingan emas dibalik sayur-sayur tersebut.

Akhirnya, Tan Bun An terjun ke Sungai Musi mengejar guci-guci berisi emas tersebut. Saat ia tak kembali, pengawalnya menyusul terjun, tetapi juga tak terlihat lagi.

Dirundung resah, Fatimah, putri Palembang itu menyusul kekasihnya terjun ke Sungai Musi dan tak pernah terlihat lagi.

Beberapa waktu kemudian, dari tempat sejoli itu terjun muncul pulau kecil yang tak tenggelam saat Musi pasang sekalipun.

Warga kemudian menamakannya Pulau Kemaro (Kemarau) karena selalu jauh dari jangkauan pasang Musi.

Inilah legenda asal mula Pulau Kemaro itu. Hingga kini, Kelenteng Hok Cing Bio di Pulau Kemaro menjadi salah satu tujuan wisata di Palembang.

Tak hanya legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah yang menjadi daya tarik Pulau Kemaro, tetapi juga kelenteng tua Hok Cing Bio yang diyakini dibangun ratusan tahun lalu.

Keberadaan Pulau Kemaro tidak lepas dari legenda terbuangnya harta Tan Bun An di perairan Sungai Musi.

Bahkan untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat sekitar Palembang kerap datang ke pulau yang dianggap keramat ini.

Pulau Kemaro berjarak sekitar 10 km dari pusat Kota Palembang. Untuk mengunjungi Pulau Kemaro, masyarakat biasanya menggunakan ketek atau perahu boots sewaan di dermaga yang ada di sekitaran Jembatan Ampera.

Sebagai salah satu destinasi wisata sejarah Kota Palembang, Pulau Kemaro dilengkapi dengan berbagai situs yang melengkapi legenda Pulau Kemaro.

Situs tersebut antara lain seperti pagoda, makam penunggu pulau, kelenteng, tempat pembakaran uang kertas, dan pohon cinta.

Diantara berbagai situs tersebut, bangunan pagoda menjadi ikon Pulau Kemaro. Pada sisi-sisi lantai dasar bangunan pagoda terdapat cerita yang menggambarkan legenda Pulau Kemaro.

Dari atas pagoda pengunjung juga bisa menyaksikan seputaran Pulau Kemaro yang dikelilingi oleh Sungai Musi. Sayangnya tidak semua pengunjung boleh memasuki pagoda.

Pada bagian yang lain terdapat kelenteng, tidak setiap orang diberi izin untuk masuk ke tempat ibadah ini, pasalnya kelenteng ini hanya digunakan bagi mereka yang ingin beribadah saja.

Bersebelahan dengan kelenteng, terdapat bangunan yang diyakini sebagai makam penunggu Pulau Kemaro. Pada versi cerita yang lain, ketiga makam tersebut diyakini sebagai makam Tan Bun An, Siti Fatimah, dan pengawalnya.

Tiap akhir pekan Pulau Kemaro kerap menjadi destinasi wisata bagi para pelajar di Palembang.

Selain letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota, menyambangi pulau ini menjadi liburan yang asik dan murah-meriah.

Pasalanya selain bisa mendapatkan informasi mengenai legenda Pulau Kemaro, pengunjung juga bisa langsung menapak tilas perjalanan Tan Bun An dengan menyusuri Sungai Musi menggunakan speedbot.
(boy)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak