alexametrics

Kurang Populer, Ternyata Begini Peran Perawat Komunitas di Pedesaan

loading...
Kurang Populer, Ternyata Begini Peran Perawat Komunitas di Pedesaan
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo memukul gong untuk membuka kongres nasional IPKKI di Hotel Harris, Jalan Ki Mangunsarkoro, Semarang, Jumat (30/8). Foto/SINDOnews/Taufik Budi
A+ A-
SEMARANG - Perawat komunitas masih kurang populer di telinga masyarakat Indonesia. Namun, perawat komunitas ternyata memiliki peran penting untuk meningkatkan kesehatan sekaligus mencegah penyebaran penyakit di pedesaan.

"Sebenarnya perawat komunitas itu kunci dalam pencapaian dari indikator pelayanan kesehatan," kata Sekretaris Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI), Wiwin Wiarsih, di sela kongres nasional IPKKI di Hotel Harris, Jalan Ki Mangunsarkoro, Semarang, Jumat (30/8/2019).

"Pendekatan promotif preventif menjadi hal utama sehingga tidak lagi menjadi beban angka kesakitan yang tinggi," tambahnya.



Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo, menyatakan, idealnya terdapat 85 perawat setiap 100 ribu penduduk. Jumlah tersebut sudah hampir tercapai di Jawa Tengah, sehingga diharapkan bisa meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

"Di Jawa Tengah kebutuhan perawat idealnya kita untuk tahap pertama ini memang sudah ideal karena target untuk tahap pertama itu ada 85 perawat setiap 100 ribu penduduk, dan ini sudah tercapai atau hampir tercapai kurang sedikit lagi," kata Yulianto.

"Kalau kebutuhan bidan itu 45 per 100 ribu penduduk, ini juga hampir tercapai, yang masih banyak belum tercapai ini seperti sanitarian kesehatan lingkungan, ahli gizi ini masih kurang banyak," imbuh dia.

Yulianto juga mengatakan, banyaknya jumlah perawat merupakan modal utama untuk pembangunan kesehatan termasuk menekan angka kematian ibu dan anak. Dengan perawat komunitas maka bisa mengubah pendekatan kesehatan dari hospital based menjadi community based.

"Problem kita ini masalah perilaku program kesehatan itu masalah perilaku, dan yang kedua adalah kesehatan lingkungan termasuk gizi, sehingga pendekatan komunitas menjadi suatu kebutuhan," terangnya.

"Sekarang kita punya modal besar jumlah perawat yang banyak bagaimana kita memanfaatkan ini dalam pembangunan kesehatan. Ini harus dimanfaatkan secara cepat diposisikan fungsinya secara baik dan ini perawat komunitas ini menjadi salah satu solusi dan upaya yang tepat," tandasnya.
(pur)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak