alexametrics

Pengungsi Korban Gempa Halmahera Selatan Kesulitan Air Bersih

loading...
Pengungsi Korban Gempa Halmahera Selatan Kesulitan Air Bersih
Korban gempa bumi berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) di Halmahera Selatan, Maluku Utara belum semuanya berani pulang ke rumah dan memilih tinggal di pengungsian. Foto/MDMC
A+ A-
TERNATE - Korban gempa bumi berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) di Halmahera Selatan, Maluku Utara belum semuanya berani pulang ke rumah dan memilih tinggal di pengungsian.

Warga masih takut pulang karena rumah mereka mengalami rusak berat dan khawatir akan roboh jika terus menerus digoyang gempa susulan.

Didik Kurniyawan, ketua pos komando tanggap darurat Ternate Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama LazisMu mengatakan, pihaknya telah mengirimkan 4 orang tim asistensi untuk mendata info terkait kebutuhan dan potensi di lokasi bencana.



Hasilnya, kebutuhan pengungsi korban gempa Halmahera yang paling mendesak saat ini ialah makanan dan minuman, tempat pengungsian sementara, seperti terpal, alat mandi dan air bersih.
Pengungsi Korban Gempa Halmahera Selatan Kesulitan Air Bersih

Didik mengungkapkan, di salah satu desa, yaitu Desa Dowora, Tidore Timur, Kota Tidore tidak memiliki sumber air bersih utk dikonsumsi. Dalam kondisi normal mereka harus mengambil air di Halmahera, lantaran sumber air yang mereka miliki hanya air danau yang tidak layak dan sedikit payau.

Langkah pendataan sedikit mengalami kelambatan karena sulitnya akses menuju lokasi, seperti di Kec. Gane yang rata–rata merupakan wilayah pesisir dengan tingkat kerusakan yang bermacam–macam akibat gempa. Sehingga masih banyak jalan yang sulit untuk dijangkau “Karena lokasi bencana berbeda–beda tempat, ada yang di pulau ada yang di pesisir,” kata Didik dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews.

Kesulitan mengakses lokasi terdampak gempa juga dirasakan tim asistensi. Pada Selasa 16 Juli 2019, tim asistensi menuju ke lokasi bencana harus memilih menggunakan transportasi laut.

Untuk menuju lokasi ada 3 pilihan jalur, yaitu jalur laut, udara, dan darat. “Karena letak geografis agak jauh jadi kami gunakan laut. Kalau darat bisa 12 jam, sedangkan laut hanya sekitar 8 jam,” ungkap Didik.
Pengungsi Korban Gempa Halmahera Selatan Kesulitan Air Bersih

Melihat kesulitan dalam pengaksesan jalan tersebut, maka MDMC Maluku Utara selain membuat pemetaan wilayah mereka juga mengupayakan SDM terkait relawan, tim medis, dan SAR untuk diturunkan ke lokasi gempa yang terjadi Selasa, 16 Juli 2019.

Mereka juga menghimpun dan mengkoordinasikan penggalangan dana dengan Ortom Muhammadiyah, Lembaga Pemerintah, seperti BDBD, mahasiswa dan warga setempat untuk ikut serta mebantu menggalang dana

“Bahkan siswa–siswa sekolah berbondong–bondong ikut menggalang dana. Kami gerakkan penggalangan dana banyak–banyak. Jika hasil asesment sudah ada dan memungkinkan kita untuk membuka pos pelayanan maka kami sudah siap,” tuturnya.
(shf)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak