alexametrics

Metode Sungkup Hasilkan Panen Cabai Melimpah di Saat Cuaca Ekstrem

loading...
Metode Sungkup Hasilkan Panen Cabai Melimpah di Saat Cuaca Ekstrem
Di Banyumas Jawa Tengah, cuaca ekstrim kini justru sudah akrab dengan petani cabai di sebuah desa yang menggunakan metode tanam Sungkup.Foto/iNews TV/Saladin
A+ A-
BANYUMAS - Biasanya cuaca ekstrim seperti curah hujan yang tinggi menjadi momok bagi sejumlah petani untuk menaman tanaman cabai. Namun di Banyumas Jawa Tengah, cuaca ekstrim kini justru sudah akrab dengan petani cabai di sebuah desa yang menggunakan metode tanam Sungkup. Metode Sungkup ini sendiri merupakan hasil riset petani setempat yang bisa menghasilkan keuntungan cabai berlipat ganda bagi mereka,disaat cuaca ekstrim yang menghambat aktifitas musim tanam cabai petani lainnya.

Petani cabai di Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas kini bisa tersenyum cerah. Pasalnya, cuaca ekstrim yang semula menjadi momok bagi sejumlah petani tanaman cabai, kini justru tidak lagi dihiraukan. Sebelumnya, saat cuaca ekstrim, para petani di Desa Gandatapa ini tidak mau bercocok tanam cabai. Hal ini karena hampir dipastikan tanaman cabai mereka akan rusak dan buah cabai akan busuk.

Namun setelah adanya Metode Sungkup yang dikembangkan sejumlah petani di Desa Gandatapa ini, kini cuaca ekstrim menjadi sahabat mereka. Teknologi menanam cabai dengan Metode Sungkup ini memang bisa dikatakan baru. Kalau selama ini petani cabai setempat menanam dengan menunggu cuaca aman, kini mereka justru melawan arus.



Menurut Giyanto, petani yang mengembangkan metode ini mengatakan, ia kini tidak lagi bergantung pada cuaca saat menanam tanaman cabai ini. Saat cuaca ekstrimpun, Giyanto dibantu sejumlah petani penggarap tetap melakukan aktivitas tanam cabai.

“Biasanya saat cuaca ekstrim atau cuaca buruk dengan curah hujan yang lebat, petani tidak menanam, kini mereka justru menanam cabai dengan menggunakan Metode Sungkup ini. Kelebihan metode ini adalah dari sisi produski bisa menghasilkan panen dua kali lipat. Tak hanya itu, kualitas hasil panen cabai juga lebih bagus karena terjaga dari serangan hama dan penyakit. Metode ini jiuga membuat pertumbuhan tanaman lebih maksimal dan lebih tinggi serta menghasilkan buah cabai lebih banyak," jelas Giyanto di lokasi kebun cabainya.

Selain itu dalam Metode Sungkup ini populasi tanaman bisa dirapatkan, dimana biasanya perhektare semula berisi 16 ribu tanaman cabai, kini mereka bisa dalam skala hektare bisa lebih banyak karena populasinya bisa dua kali lipat menjadi 32 ribu batang tanaman cabai.

Sebelum menggunakan Metode Sungkup, hasil panen cabai hanya pada kisaran 8-9 ton per hektare, kini hasil panen naik menjadi 16 hingga 17 ton per hektare. Dengan metode sungkup, tanaman cabai ini juga lebih cepat panen, dimana dalam satu tahun, petani bisa memanen cabai hingga 20 kali, dengan usia tanaman siap panen rata-rata 84 hari.

“Metode Sungkup ini juga mempunyai keuntungan jarak tanam bisa lebih rapat dengan ukuran 20 sentimeter dengan model zig-zag. Padahal biasanya mereka menanam dengan jarak 60 sentimeter model zig zag kanan kiri dan membuat tanaman cabai lebih sedikit jumlahnya. Metode tanam ini juga mempunyai keunggulan satu lubang bisa ditanami dua pohon yaitu satu variateas cabai besar, dan satu varietas cabai keriting. Jadi petani bisa panen dua tahap dengan cabai yang berbeda,” papar Giyanto.

Metode Sungkup sendiri adalah hasil riset petani Desa Gandatapa dengan petani lainnya. Awalnya mereka membuat penutup tanaman cabai yang mirip payung ini dengan plastik dan menggunakan kerangka bambu. Namun bambu yang terkena air tidak kuat dan mudah rapuh, akhirnya mereka mendesain dengan kerangka besi, dan bisa dipakai hingga puluhan tahun. Hanya saja kelemahan metode sungkup ini jika musim kemarau, air tidak bisa masuk karena tertahan plastik yang menutupi tanaman ini, sehingga saat kemarau plastik diganti dengan paranet atau sejenis jaring plastik.

Sementara Kepala BI Perwakilan Kantor Purwokerto, Agus Chusaini, mengatakan, tujuan dari klaster cabai yang menjadi binaan Bank Indoensia ini untuk membantu meningkatkan taraf hidup petani cabai dan menjaga harga cabai di pasaran tetap stabil.

“Kami memang menyarankan agar penanaman cabai tidak bebarengan dengan wilayah lain, supaya panennya tidak bareng. Karena selama ini harga cabai fluktuasinya khan luar biasa, naik turunnya harga sangat cepat. Alhamdulillah pada panen perdana ini hasilnya sangat bagus meningkat dua kali lipat dari sebelum menggunakan sungkup,” ujar Agus.

Bupati Banyumas, Achmad Husein yang berada di lokasi panen cabai ini mengatakan, hasil panen dengan Metode Sungkup sangat bagus. Husein meminta kepada Kepala Dinas Pertanian Banyumas agar metode ini bisa diterapkan dan dikembangkan di semua kecamatan.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak