alexametrics

Gunung Merapi Muntahkan Lava Pijar dan Awan Panas Sejauh 1,5 Km

loading...
Gunung Merapi Muntahkan Lava Pijar dan Awan Panas Sejauh 1,5 Km
Gunung Merapi kembali bergolak dengan menyemburkan lava pijar hingga 10 kali dan awan panas sejauh 1,5 kilometer menuju arah Kali Gendol. Dokumen/SINDOnews
A+ A-
SEMARANG - Gunung Merapi kembali bergolak dengan menyemburkan lava pijar hingga 10 kali dan awan panas sejauh 1,5 kilometer menuju arah Kali Gendol. Selain itu juga terpantau asap solfatara setinggi 50 meter di atas puncak gunung.

Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis informasi tentang aktivitas Gunung Merapi pada Rabu 27 Maret. Periode pengamatan dilakukan pada pukul 00-24.00 WIB.

"Visual asap solfatara warna putih intensitas sedang dengan ketinggian 50 meter di atas puncak. Guguran lava terjadi teramati sebanyak 10 kali arah dominan ke tenggara atau Kali Gendol jarak luncur maksimal 900 meter," tutur petugas BPPTKG, dilansir dari akun Twitter @BPPTKG, Kamis (28/3/2019).



"Awan panas guguran teramati sebanyak satu kali arah tenggara atau Kali Gendol jarak luncur 1.500 meter atau satu kilometer," tambahnya.

Sementara aktivitas kegempaan tercatat hingga 45 kali. Rinciannya adalah kegempaan 2 awan panas guguran, 34 guguran, 4 hembusan, 3 low frekuensi, 2 hybrid/fase banyak. Meski demikian, status Merapi masih berada pada level II atau Waspada.

"Masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) III diimbau untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa, serta selalu mengikuti informasi aktivitas Merapi. Radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk," tukasnya.

"Pemerintah daerah dan masyarakat agar mengantisipasi bahaya abu vulkanik. Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi," pungkasnya.
(nag)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak