alexametrics

BANJIR DAN LONGSOR SENTANI

Ratusan Masih Hilang, Jumlah Pengungsi Terus Bertambah

loading...
Ratusan Masih Hilang, Jumlah Pengungsi Terus Bertambah
Ratusan Masih Hilang, Jumlah Pengungsi Terus Bertambah
A+ A-
JAYAPURA - Korban tewas banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Jayapura, Papua, terus bertambah karena luasnya wilayah yang terdampak bencana. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga siang kemarin tercatat sudah 89 orang meninggal dunia.

Sebanyak 82 korban meninggal akibat banjir bandang di Kabupaten Jayapura dan 7 korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Ampera, Kota Jayapura. Sementara Polda Papua mengungkapkan, hingga sore kemarin sedikitnya 206 orang belum ditemukan. Angka ini diperoleh dari laporan yang diterima polisi dari masyarakat di Pos Induk Tanggap Darurat Sentani dan di Bidang Dokkes Polda Papua.

“Banyak keluarga korban datang melaporkan kehilangan anggota keluarganya. Pos Induk Sentani menerima laporan 75 nama dan Bidang Dokkes menerima laporan 131 nama,” jata Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal di Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura, kemarin.



Mereka yang belum ditemukan antara lain penduduk Kampung Milinik sebanyak 34 orang, BTN Gajah Mada 20 orang, Komplek Perumahan Inauli 7 orang, Kampung Bambar 4 orang, BTN Bintang Timur 2 orang, Sosial 4 orang, Komba 1 orang dan Taruna Sosial 3 orang.

Lokasi terparah terdampak banjir di Kabupaten Jayapura adalah Distrik Sentani Kelurahan Hinekombe, Kelurahan Dobonsolo, Kelurahan Sentani Kota, Kampung Yahim, Kampung Sereh, Distrik Waibu pada Kampung Doyo Baru, Distrik Sentani Barat pada Kampung Kertosari, Distrik Ravenirara pada Kamung Yengu Dosoyo dan Distrik Depapre.

Kamal menyebutkan, dari 69 jenazah yang sudah dievakuasi ke RS Bhayangkara, 33 di antaranya telah teridentifikasi. Sebanyak 31 jenazah telah diserahkan kepada keluaga dan 2 jenazah masih menunggu dijemput keluarga. Sementara itu sebanyak 159 orang luka-luka yaitu 84 orang luka berat dan 75 orang luka ringan. Korban terdampak terdata sebanyak 11.725 kepala keluarga (KK) meliputi Distrik Sentani, Waibu dan Sentani Barat.

Jumlah pengungsi pun kemarin terus bertambah. Banyak masyarakat yang memilih tinggal di pengungsian karena trauma dan takut terjadi banjir bandang susulan. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sedikitnya ada 6.831 orang pengungsi yang tersebar di 15 titik pengungsian.

Dapur umum, pos pelayanan kesehatan dan posko sudah didirikan. Namun masih diperlukan beberapa bantuan kebutuhan dasar dan mendesak seperti MCK, air bersih, permakanan, matras, selimut, pakaian layak, genset, peralatan dapur, psikososial, dan sebagainya.

Data dampak kerugian dan kerusakan juga terus bertambah seiring masuknya data laporan ke posko. Bangunan dan infrastruktur yang rusak berat akibat bencana banjir bandang di Sentani meliputi 350 rumah, 3 jembatan, 8 drainase, 4 jalan, 2 gereja, 1 masjid, 8 sekolah, 104 ruko dan sebuah pasar.

Sebanyak 1.613 personel tim gabungan dari 23 instansi dan lembaga masih melakukan penanganan darurat bencana banjir bandang Sentani. “Para relawan, TNI dan Polri akan disiagakan disetiap titik pengungsian. Anak-anak yang paling terpenting, jangan sampai ada yang sakit di pengungsian,” kata Kepala BNPB Doni Monardo.

Kepala Basarnas Bagus Puruhito menyatakan, pencarian orang hilang akan terus diintensifkan. Kami juga membutuhkan tambahan peralatan berat seperti ekskavator untuk evakuasi dan pencarian korban," jelasnya. Masa tanggap darurat pascabencana banjir bandang Sentani telah ditetapkan selama 14 hari. Bencana besar ini terjadi pada Sabtu (16/3).

Erupsi Bromo

Hampir setiap hari Gunung Bromo mengalami erupsi secara fluktuatif. Namun aktivitas vulkanik belum membahayakan. Erupsi yang terjadi hanya menyemburkan abu vulkanik dan pasir. Bukan kerikil atau lava pijar dari kawah. Meski hampir setiap hari erupsi, status Gunung Bromo tetap Waspada (level II). Masyarakat sekitar dan pengunjung baik wisatawan maupun pendaki dilarang memasuki kawasan dalam radius 1 km dari kawah aktif Gunung Bromo.

Mereka diimbau menggunakan masker dan kacamata untuk menghindari abu vulkanik. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, aktivitas wisata di Gunung Bromo berjalan normal. Sebaran abu vulkanik juga belum mengganggu jalur penerbangan sehingga Bandara Abdul Rachman Saleh Malang tetap beroperasi seperti biasa.

Korban Gempa Lombok


Pemerintah Indonesia memulangkan dua wisatawan korban tewas gempa 5,4 SR yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (17/3) lalu. Keduanya adalah warga negara Malaysia. Korban lain yang juga meninggal dunia adalah WNI. Ketua Tim Tourism Crisis Center (TCC) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Guntur Sakti menyatakan, Kemenpar bersama pemda terus mengkoordinasikan kepulangan dua jenazah wisatawan mancanegara asal Malaysia bernama Tai Siaw Kim (56) dan Lim Sae Wah (56).

Keduanya menjadi korban longsoran air terjun di Tiu Kelep di Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, NTB.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal memastikan, saat ini Lombok dan NTB dalam kondisi aman. Kondisi 3A (atraksi, akses, amenitas) pascagempa juga tidak terkena masalah berarti dan siap untuk kembali menerima wisatawan.

Sementara itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT), salah satu lembaga kemanusiaan terdepan dan terbesar di Indonesia, bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) terus melakukan evakuasi dan mendistribusikan bantuan ke berbagai daerah terdampak bencana. Presiden ACT Ahyudin menyatakan, ACT menggalang bantuan dari para donator dan telah mendistribusikannya agar kebutuhan primer para korban selamat dapat segera terpenuhi.

“Selain evakuasi, saat ini relawan kami di Sentani, Jayapura telah melakukan pendataan dan pembersihan material banjir. Mereka sudah membagikan 1.000 makanan siap santap untuk para korban. Di sisi lain, tim ACT NTB telah memberangkatkan 9 personel rescue ke lokasi longsor dan sejumlah personel untuk siap siaga di kantor ACT DIY,” katanya.

Menurut Ahyudin, pihaknya akan mendirikan Posko Kemanusiaan ACT dan dapur umum di Jayapura, Lombok serta Kabupaten Bantul yang terkena longsor dan banjir pada Minggu (17/3). ”Kami pun sudah menyiapkan relawan medis. Selama masa tanggap darurat, relawan siap siaga dari kemungkinan adanya banjir dan gempa susulan,”
(don)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak