alexametrics

Cerita Pagi

Mahalnya Kopi Saat Zaman Penjajahan hingga Seharga Terali Penjara

loading...
Mahalnya Kopi Saat Zaman Penjajahan hingga Seharga Terali Penjara
Cerita sejarah perdagangan kopi di masa penjajahan kolonial Belanda tidaklah secerah saat ini.Foto/SINDOnews/Dok
A+ A-
MINUM kopi kini telah menjadi budaya banyak kalangan. Lantaran telah membudaya itu, kini tumbuh subur warung-warung kopi, mulai kelas bawah hingga sekelas kafe.

Kopi juga telah menjadi magnet bagi pelaku ekonomi untuk mengais untung. Beragam kopi bisa dinikmati di negeri ini.

Lantaran memang, Nusantara yang kaya akan ragam tanaman kopi.Sebut saja kopi gayo dari Aceh ; Arabika Kintamani, Bali ; Arabika Toraja ; Arabika Java Ijen Raung ; Liberika Rangsang Meranti, Riau ; Arabika Flores Bajawa dan Robusta Temanggung. Jenis-jenis kopi ini bahkan telah mendunia.



Tak hanya itu saja, ada ratusan jenis kopi yang bermunculan dari masing-masing daerah. Seakan menjadi kekuatan lokal, kopi-kopi baru itu menjadi identitas. Diakui, kopi menjadi komoditas yang mampu menggerakkan banyak kalangan, mulai dari petani hingga pelaku usaha.

Namun dibalik itu, cerita sejarah perdagangan kopi di masa penjajahan kolonial tidaklah secerah saat ini. Seperti yang dikisahkan Ayuhanafiq, penyusur sejarah asal Mojokerto. Di zaman penjajahan, menurutnya, ternyata orang Jawa tidak bisa bebas minum kopi.

Meski tanaman kopi itu ada di sekitarnya namun hanya pihak-pihak tertentu yang bisa menjualnya. Jika tidak hati-hati minum kopi bisa masuk terali besi.

Merunut sejarah, kata Ayuhanafiq, pada suatu hari di desa yang ada di bagian selatan Mojokerto, beberapa orang penduduk pribumi ditangkap. Mereka kemudian dikeler menuju rumah controller (pengawas kecamatan) guna diperiksa. Setelah dicurigai adanya tindak kejahatan, maka penduduk itu dikirimkan ke wilayah perkotaan Mojokerto untuk disidangkan.

Bersidanglah para anggota Landraad (pengadilan pribumi) Kabupaten Mojokerto. Dua orang wanita tua dan dua pria dihadapkan pada dewan hakim. Penduduk desa itu didakwa telah memperdagangkan kopi secara ilegal. Di rumahnya telah ditemukan kopi yang dipetik dari kebunnya dan dijual pada orang lain.

Dalam sidang itu, tiga orang yang menyimpan dan menjual sekurangnya 13 kati biji kopi divonis bersalah dan dijatuhi hukuman kerja paksa selama satu bulan. Sedangkan seorang lainnya dibebaskan sebab biji kopi yang dipetiknya sudah digoreng dan ditumbuk jadi kopi bubuk.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak