alexametrics

Warga di Sleman Tuntut Penutupan Kandang Babi

loading...
Warga di Sleman Tuntut Penutupan Kandang Babi
Warga menunjukkan kandang babi di Pundong V, Tirtoadi, Mlati, Sleman, DIY, Rabu (27/2/2019). Warga Simping menuntut kandang itu ditutup karena menimbulkan penyakit dan pencemaran. Foto/Priyo Setyawan
A+ A-
SLEMAN - Puluhan warga Simping, Sidomoyo, Godean, Sleman, Provinsi DIY mengeruduk kediaman Sutasno, pemilik kandang babi di Pundong V, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Rabu (27/2/2019). Warga menuntut kandang babi itu ditutup.

Tuntutan ini bukan tanpa alasan. Sebab kehadiran ternak babi itu, limbah yang dihasilkan bukan hanya menyebabkan pencemaran lingkungan, namun juga masalah kesehatan. (Baca Juga: Cemari Lingkungan, Polres Blitar Tutup Peternakan Babi)

“Karena itu kami mendesak kandang babi ini ditutup,” kata warga Simping Artaka, 40 di sela-sela aksi yang dilakukan di kediaman pemilik kandang di Cibuk, Margoluwih, Seyegan.



Artaka menjelaskan, limbah babi itu bukan hanya menimbulkan bau yang tidak sedap dan menyebabkan polusi udara, namun mencemari sumber air, yaitu Sungai Konteng dan irigasi yang berada di dekat kandang itu. Indikasinya warga yang menggunakan air tersebut, baik untuk mencuci pakaian maupun membersihkan diri setelah dari sawah mengalami gatal-gatal di kulitnya.

Warga Simping sendiri ada 130 KK, lokasi yang digunakan untuk kandang babi tersebut merupakan lahan sultan ground (SG), yang berada di pereng sungai Konteng. Karena itu warga juga menduga keberadaan kandang babi tersebut tidak berizin. Ada 20 kandang babi di tempat ini. (Baca Juga: Dampak Virus MSS, Permintaan Ternak Babi Berkurang)

Untuk menyelesaikan tuntutan warga Simping tersebut, pemerintah desa setempat melakukan mediasi dengan pemilik kandang babi Sutasno dan Suparsih. Hasil mediasi disepakati pemilik kadang akan menutup kandang babi itu dalam waktu tiga bulan. Jika tidak ditutup, konsekuensiya akan ada proses hukum.

“Waktu tiga bulan ini sebagai jalan tengah. Sebab warga menginginkan ditutup hari ini. Sedangkan pemilik kadang minta waktu enam bulan. Sehingga diambil tengah-tengahnya tiga bulan,” kata Kasi kesejhateraan Desa Sidomoyo, Godean, Wisnu Hardono.

Pemilik kandang babi, Suparsih mengatakan sebenarnya sudah akan menutup kandang itu setelah dua kali periode. Termasuk mengapa meminta waktu enam bulan, alasannya anak babi itu baru besar enam bulan.

Lokasi kandang babi itu sebelumnya juga merupakan lahan tandus dan tidak tertata, setelah ada kandang babi baru ditata. Suparsih mengaku sudah punya izin. “Untuk membuang limbah kami juga sudah membuat septictank. Ini adalah usaha kami, jika ini ditutup belum mengetahui akan mau usaha apa lagi,” akunya.
(rhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak