alexametrics

Bupati Kobar: WFC Jangan Sampai Menghilangkan Kearifan Lokal

loading...
Bupati Kobar: WFC Jangan Sampai Menghilangkan Kearifan Lokal
Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah memimpin rapat penataan kawasan bantaran sungai Arut dan konsep waterfront city (WFC). Foto/Sigit Dzakwan
A+ A-
KOTAWARINGIN BARAT - Penataan kawasan bantaran sungai Arut melalui konsep waterfront city (WFC) terus digenjot Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng). Sejak 2018, proyek ini telah dimulai di Kelurahan Mendawai Kecamatan Arut Selatan. Tahun ini (2019), penataan kawasan bantaran sungai Arut menjadi modern terus digeber.

Sebagai tindak lanjut pada Selasa (19/2/2019) sore, Bupati Kobar Nurhidayah memimpin pertemuan di ruang rapat Bupati Kobar. Agenda rapat yang juga dihadiri beberapa instansi terkait adalah ekpose rencana pembangunan tahap selanjutnya program waterfront city oleh pihak konsultan. (Baca Juga: Kobar Jadi Tuan Rumah Pelatihan Kader HMI se-Indonesia)

Di dalam pemaparannya, pihak konsultan menyatakan bahwa target pembangunan tahap kedua adalah penyediaan jalan dan pedestrian sepanjang 120 meter. Pembangunan juga akan diarahkan kepada kelengkapan street furniture berupa pagar, pot bunga dan lampu penerangan sebanyak 6 unit.

Selain itu, pada tahap ini sekaligus akan dilengkapi beberapa fasilitas umum, seperti kafe/resto, landmark, river view, dermaga, toilet portable dan bangunan pemadam kebakaran.



Nurhidayah mengungkapkan, jika waterfront city ini berdampak positif bagi perekonomian masyarakat. Proses pembangunan WFC tahap kedua ini juga nantinya memunculkan ruang baru bagi masyarakat untuk mengakses peningkatan di sektor perekonomian.

“Yang paling utama dari pembangunan ini, bagaimana waterfront city ini ke depan mampu mendorong geliat perekonomian masyarakat dari segala lini,” kata orang nomor satu di Kobar ini.
Bupati Kobar: WFC Jangan Sampai Menghilangkan Kearifan Lokal

Upaya pemantapan konsep terus dilakukan. Ini dilakukan dengan harapan waterfront city bisa menjadi salah satu alternatif destinasi baru pariwisata di Kotawaringin Barat.

Nurhidayah berharap pembangunan WFC juga tidak meninggalkan kearifan budaya lokal. “Waterfront City merupakan konsep tata kelola lingkungan daerah tepian air secara modern, namun jangan sampai meninggalkan budaya kearifan lokal kita,” pungkasnya.
(rhs)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak