alexametrics

Hari Ini, Pemprov Sulsel-Ehime Teken Kerjasama

loading...
Hari Ini, Pemprov Sulsel-Ehime Teken Kerjasama
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah terus menjajaki hubungan baik dengan pemerintah Jepang, bahkan sejak menjabat bupati dua periode di Bantaeng. Dokumen/SINDOnews
A+ A-
MAKASSAR - Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah terus menjajaki hubungan baik dengan pemerintah Jepang, bahkan sejak menjabat bupati dua periode di Bantaeng. Setelah duduk di posisi orang nomor satu di Sulsel, Nurdin membawa sejumlah kemitraan dengan negeri Sakura ke tingkat lebih luas. Hari ini, Gubernur Ehime bakal menjalin kerjasama dengan Pemprov Sulsel.

Dimulai pada 2018 lalu, Pemprov Sulsel telah menjajaki kerjasama sister provinsi dengan Ehime. Lalu ditindaklanjuti keberangkatan Nurdin ke Jepang dengan memboyong Bupati Luwu Utara dan Jeneponto serta kepala dinas akhir Desember lalu.

Sebagai tindak lanjut, Gubernur Ehime Tokihiro Nakamura melakukan kunjungan balasan di Sulsel. Dia memboyong Presiden Ehime Bank Ltd, Yoshinori Nishikawa beserta 26 delegasi pengusaha asal Jepang.



Dan hari ini, dijadwalkan kedua pihak langsung meneken nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) terkait sister provinsi kedua Negara. Di dalamnya juga telah termasuk kerja sama pengembangan aquaculture atau budidaya perikanan dan ekspor ikan tuna.

Sebelum melakukan kerjasama, Nurdin membawa rombongan gubernur negara sahabat beserta kalangan pengusaha bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden RI, kemarin. Harapannya, kerjasama provinsi antar negara itu mendapat restu pemerintah pusat.

Nurdin mengatakan, rombongan Gubernur Ehime membawa 26 pengusaha lokal Jepang yang bergerak di berbagai bidang, seperti perikanan, pendidikan, kesehatan, pemadam kebakaran, budidaya garam dan lainnya. Mereka akan melakukan kunjungan ke sejumlah pusat pengembangan budidaya ikan tuna di Sulsel.

"Mereka akan melakukan relokasi budidaya pengembangan ikan tuna di Sulsel untuk menutupi kebutuhan pasar dunia. Kita akan melakukan MoU, lalu melihat lokasi rencana pengembangan aquaculture di Sulsel, sehingga bisa dilakukan kajian wilayah mana yang berpotensi besar,” ujarnya.

Melihat potensi aquaculture di Sulsel, sejumlah pengusaha dan mitra lokal telah siap untuk berinvestasi bisnis ekspor ikan tuna. Jepang akan menyiapkan infrastruktur untuk budidaya perikanan hingga pelatihan sumber daya manusia yang terampil.

Nurdin mengatakan, dengan kondisi iklim tropis memungkinkan Sulsel dapat memproduksi 100 kg ikat tuna lebih cepat dibanding Jepang dalam 2 tahun. Lebih lanjut, 1 keramba dapat berisi 100 hingga 150 kg dengan potensi pendapatan yang bisa mencapai Rp27 miliar.

“Pemerintah Ehime Jepang memilih Sulsel untuk pengembangan aquaculture karena potensi produksi tuna kita sangat besar dibandingkan di daerah mereka, selain itu melihat pertumbuhan ekonomi Sulsel yang sangat pesat dan kondisi iklim Sulsel tropis,”sambungnya.

Berdasarkan data Dinas Perikanan dan Kelautan, rata-rata produksi tuna 2016 sebanyak 16,258 ton, pada 2017 produksi tuna sebanyak 7,975 ton dan pada 2018 produksi tuna sebanyak 13,601 ton dengan total 55,485 ton.

Sementara itu, untuk kerja sama sister propinsi akan dilakukan transfer knowledge dan teknologi dengan mengirimkan pegawai Pemprov sebanyak 50 orang ke Jepang dan dikirim bertahap dalam dua gelombang.

“Pegawai yang ke Jepang akan melakukan transfer knowledge dan teknologi. Jepang jadi pilihan, karena mereka itu tidak pernah kedengaran bermasalah dari sisi edukasi dan transfer knowledge-nya,”tuturnya.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Sulkaf S. Latief mengatakan, Pemerintah Provinsi Sulsel melakukan penandatanganan kesepahaman untuk menjadi jembatan bagi pengusaha asal Jepang dengan pengusaha lokal Sulsel. Sebab hari ini akan hadir lebih 20 perusahaan asing yang bergerak di berbagai bidang.

Salah satunya untuk bidang perikanan sudah siap berinvestasi perusahaan perikanan ikan tuna Wajima Project. "Kami pernah ke Wajima Project disana diproduksi ikan tuna dan ikan yellow tail atau buri', sejenis ikan kuwe dan pengolahan ikan (cold storage)," kata Sulkaf dihubungi Koran SINDO.

Rencananya, kerjasama budidaya perikanan nantinya akan ditempatkan di lokasi perairan sekira pulau di perairan Kota Makassar hingga Pangkep. Karena di sektor ekspor itu dibutuhkan ketersediaan ikan segar.

"Kita akan cari di daerah yang tidak terlalu jauh, antara pulau-pulau di Makassar atau paling tidak Pangkep karena butuh kesegaran. Kalau jauh nanti transportasinya lama," pungkasnya.
(nag)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak