alexametrics

Polres Sorong Kota Antisipasi Gerakan Radikal Agama Jelang Natal

loading...
Polres Sorong Kota Antisipasi Gerakan Radikal Agama Jelang Natal
Polres Sorong Kota, Papua Barat, mengantisipasi adanya gerakan radikal yang membawa isu agama. Foto/Hasan Kurniawan
A+ A-
SORONG - Polres Sorong Kota, Papua Barat, mengantisipasi adanya gerakan radikal yang membawa isu agama, dengan sasaran mengganggu kerukunan umat beragama.

Waka Polres Sorong Kota Kompol Hengki Kristanto Abadi mengatakan, gerakan radikal yang mengangkat isu agama di wilayah Sorong ini menjadi antensi penting yang harus diantisipasi oleh jajarannya.

"Populasi Muslim dan Kristen sama-sama 50% di sini. Sehingga jika terjadi polarisasi agama ini akan sangat berbahaya," kata Hengki, Rabu pagi (12/12/2018).



Dijelaskan dia, gerakan radikal di wilayah Sorong, bisa dipetakan ke dalam dua golongan besar. Selain yang membawa isu agama, juga ada yang berbasis ideologis.

"Ada beberapa tipe gerakan radikal di Sorong Kota ini. Pertama yang berbasis ideologi politik, sama dengan di Manokwari, dan kedua isu agama. Tetapi kita fokus pada yang kedua, isu agama," jelasnya.

Awalnya, sambung Hengki, wilayah Sorong terdiri dari beberapa daerah saja. Namun, saat ini telah dimekarkan menjadi wilayah Sorong Selatan, kabupaten, Raja Ampat, dan kota.

"Selain gerakan radikal, kami juga fokus terhadap pemberantasan narkoba dan kasus kriminal lainnya. Di sini peredaran sabu ada, tapi yang terbanyak ganja, karena dibawa dari Papua Nugini," ungkapnya.

Selama 2018, sedikitnya ada 35% kasus narkotika, dan ganja 40 kasus. Sedikitnya kasus sabu di Sorong, diakibatkan mahalnya harga sabu dibanding di Jawa.

"Di sini, satu gram sabu bisa dijual hingga Rp5 juta. Jadi sangat mahal. Kalau ganja, memang disuplai langsung dari Papua Nugini. Ini yang menjadi fokus perhatian kami dari Polres Sorong Kota," tukasnya.
(rhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak