alexametrics

Cerita Pagi

Kesederhanaan Tokoh Partai Masyumi Prawoto Mangkusasmito

loading...
Kesederhanaan Tokoh Partai Masyumi Prawoto Mangkusasmito
Prawoto Mangkusasmito. Foto/Istimewa/Wikipedia
A+ A-
Prawoto Mangkusasmito, orang yang terakhir menjabat ketua umum Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dikenal sebagai sosok sederhana. Kesaksian tentang hal itu dibeberkan sejumlah pihak.

Putri sulung Prawoto, Sri Syamsiar Prawoto Issom mengisahkan, menjelang pembubaran Partai Masyumi, suatu hari dia diminta bapaknya untuk menisik kerah baju koko putih. Dia pun bertanya untuk apa. Prawoto menjawab, untuk ke Istana.

Keesokan harinya, Presiden Soekarno memanggil pimpinan Partai Masyumi, hadir kala itu Ketua Umum dan Sekjen Masyumi Prawoto dan M Yunan Nasution dan dari Partai Sosialis Indonesia (PSI) hadir Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrotomo, dan seorang lainnya.

"Semua yang hadir di Istana saat itu mengenakan setelan resmi jas, dasi, dan bersepatu, kecuali Pak Prawoto yang hadir sederhana dengan sarung, baju koko tua, berpeci, dan bersandal kulit," ujar Sri Syamsiar, dikutip dari buku Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito Ketua Umum (Terakhir) Partai Masyumi, Penyusun SU Bajasut, Editor (Edisi Revisi) Lukman Hakiem, diterbitkan Penerbit Buku Kompas.

Dalam buku yang sama, aktivis Islam AM Fatwa menyebut bahwa bersarung bukan hal aneh bagi Prawoto. Menurut Fatwa, pada tahun 1961, Prawoto datang menemui dirinya di Kampus IAIN (kini UIN Syarif Hidayatullah Ciputat). Dengan memakai sarung sambil menjinjing sandal karena jalan berlumpur, Prawoto masuk ke Kampung Utan untuk mencari dirinya.

Tan Eng Kie, seorang wartawan pun bersaksi tentang kesederhanaan tokoh yang wafat pada 24 Juli 1970 saat mengunjungi petani di Desa Tegumuruh, Banyuwangi, Jawa Timur ini.

Menurut Tan Eng Kie dalam Pos Indonesia, Agustus 1970, Prawoto bukanlah seorang politikus yang menggunakan politik untuk mencari duit. Prawoto berjuang untuk negara dan rakyat Indonesia. Kesempatan untuk menjadi komisaris perusahaan banyak jika Prawoto mau.

Mara Karma dalam Kiblat, Agustus I, 1970 menyebut, kesederhanaan Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Wilopo (3 April 1952-30 Juli 1953) ini terlihat dari prinsip perjuangan politik yang dijalankannya. Kalau tiba saatnya, dia tidak segan-segan, apalagi takut-takut, untuk menuntut kekurangan hak yang patut diterimanya. Tapi, dia juga tidak menuntut hal-hal yang banyak, yang tidak merupakan haknya. Menurutnya, falsafah kesederahaan Prawoto adalah tahu batas-batas arti minimal dan tahu pula batas-batas arti maksimal.

Menurut Mara Karma, umat Islam Indonesia membutuhkan banyak pemimpin seperti Prawoto: sederhana, jujur, dan rapat dengan yang dipimpin. (Baca juga: Jejak Tokoh Masyumi Prawoto Mangkusasmito).



Sumber: Alam Pikiran dan Jejak Perjuangan Prawoto Mangkusasmito Ketua Umum (Terakhir) Partai Masyumi, Penyusun SU Bajasut, Editor (Edisi Revisi) Lukman Hakiem, diterbitkan Penerbit Buku Kompas.
(zik)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak