alexametrics

Anak-Anak Pemulung Ini Bisa Mendapatkan Pendidikan Layak

loading...
Anak-Anak Pemulung Ini Bisa Mendapatkan Pendidikan Layak
Seorang guru pengajar inklusif di SDN 245 Keputih, Surabaya, Jawa Timur sedang mendampingi dua siswa berkebutuhan khusus. FOTO/SINDOnews/ANTON CHRISBIYANTO
A+ A-
SURABAYA - Hari sudah menjelang siang, namun suasana ceria masih belum hilang di SDN 245 Keputih, Surabaya, Jawa Timur. Siswa-siswa sekolah dasar di kawasan bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Keputih itu sedang mendapatkan pelajaran keterampilan di luar kelas.

Meskipun cuaca panas, anak-anak belia itu tetap semangat mengikuti pelajaran. Terik matahari tak membuat anak-anak menjauh dari halaman sekolah, mereka tampak antusias mengikuti pelajaran.

Kebanyakan mereka berasal dari kalangan ekonomi bawah. Orang tuanya berprofesi sebagai pemulung sampah, bahkan ada yang bekerja serabutan hanya untuk menyambung hidup. "Di sini semua boleh bersekolah. Kami membuka akses seluas-luasnya agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak," ujar Kepala SDN 245 Keputih Puryanto kepada SINDOnews.

Di sekolah itu, ada prioritas bagi anak-anak yang keluarganya tinggal di kawasan Keputih. Lokasinya yang dekat dengan permukiman, membuat anak-anak di kawasan itu mudah menjangkau sekolah tanpa perlu menggunakan sarana transportasi umum. "Mereka ini dari kalangan bawah banyak yang orang tuanya pemulung sampah. Buku dan fasilitas kami sediakan, dan tidak ada biaya apapun," tegas Puryanto.

Tak hanya anak dengan kondisi normal, anak-anak berkebutuhan khusus dan anak yang terlambat belajar pun mendapatkan hak yang sama untuk mengenyam pendidikan di SDN 245 Keputih. Tercatat, tahun ajaran 2018, ada 58 anak berkebutuhan khusus yang mengenyam pendidikan di sekolah dasar itu. "Kami terus memberikan motivasi dan inspirasi kepada anak-anak ini," ungkap Puryanto.

Tak hanya memotivasi agar anak-anak rajin sekolah, juga agar anak-anak mampu menerapkan pola hidup sehat. Puryanto mengatakan, untuk mengajari anak-anak menerapkan pola hidup sehat, pihak sekolah meminta agar para siswa membawa bekal makanan dan minuman dari rumah. Juga melakukan rutinitas sarapan pagi.

"Dulu upacara banyak yang pingsan karena tidak sarapan. Karena itu kami menggelar sarapan bersama setiap bulan dengan membawa bekal sendiri," ujarnya.

Febriyanto, Guru SDN 245 Keputih yang menangani anak berkebutuhan khusus mengungkapkan, ada ketentuan mengenai anak berkebutuhan khusus yang bisa diterima, yakni yang memiliki IQ rata-rata 70-90. "Selebihnya kami sarankan ke Sekolah Luar Biasa," tuturnya.

Namun, banyak orang tua yang keberatan dan tetap menginginkan anaknya bersekolah di SDN 245 Keputih. "Tetap kami terima dengan pendampingan khusus, terutama anak autis. Yang terpenting adalah bahwa anak-anak ini bisa bersosialisasi dan tidak merasa mendapat diskriminasi," katanya.

Terbatasnya tenaga pengajar tak menghalangi para guru untuk memberikan pendidikan yang setara kepada para murid apapun kondisinya. "Ada yang autis, tuna grahita, tuna rungu, semua kami perhatikan," kata Mifta, Guru SDN 245 Keputih yang sudah lima tahun memberikan pendidikan inklusif.

Untuk anak-anak berkebutuhan khusus, dilakukan terapi perilaku sehingga bisa mengendalikan diri saat bersosialisasi dengan anak-anak normal. "Saat sedang tantrum (marah) di situ challenge-nya bagi saya. Bagaimana anak bisa kembali tenang, terkadang prosesnya hingga 3 jam," tutur Mifta.

Bagi Mifta dan guru lainnya, mendapatkan akses pendidikan adalah hak setiap anak, sehingga apapun kondisinya, anak tetap harus mendapatkan akses tanpa diskriminasi.

Tak hanya di Sekolah Dasar Negeri, di Madrasah Ibtidaiyah (MI) pun anak-anak sudah bisa mendapatkan akses pendidikan yang sama. Teti, Wakil Kepala Madrasah Ibtidaiyah Persatuan Umat Islam (PUI) Panyingkiran, Muktisari, Ciamis kepada SINDOnews beberapa waktu lalu mengatakan, pendidikan bukan lagi menjadi masalah di desa ini, karena setiap anak bisa mengenyam pendidikan. Saat ini jumlah murid mencapai 114 anak dengan jumlah pengajar 10 guru, terdiri dari 3 guru PNS dan 7 guru honorer.

Kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknya juga tinggi. "Jadi, tidak ada anak yang tidak bersekolah, meskipun mereka dari keluarga tidak mampu. Para orang tua murid juga menyekolahkan anaknya ke jenjang berikutnya, ke SMP atau pun Tsanawiyah," ungkapnya.

Padahal beberapa tahun silam, orang tua umumnya hanya memasukkan anaknya ke pesantren. Kalau pun sekolah, hanya sampai MI. Untuk anak lelaki mereka langsung bekerja.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak