alexametrics

Cerita Pagi

Nungneng, Alat Musik Tabagsel yang Terlupakan

loading...
Nungneng, Alat Musik Tabagsel yang Terlupakan
Alat musik Nungneng ketika tampil pada acara puncak perayaan hari jadi Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, baru-baru ini. Foto/Zia Nasution
A+ A-
Keberagaman suku dan adat istiadat merupakan salah satu identitas Indonesia di mata dunia. Tak cuma keindahan alamnya, Indonesia juga menyimpan kekayaan seni dan budaya.

Seperti di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), Sumatera Utara, selama ini hanya dikenal dengan keberadaan alat seni Gordang Sembilan. Namun, ternyata ada satu alat musik yang sudah dikenal masyarakat di wilayah itu sejak ratusan tahun lalu dan kini nyaris terlupakan.

Adalah Nungneng, nama alat musik tersebut. Konon, menurut informasi yang didapatkan penulis dari masyarakat, Nungneng merupakan cikal bakal lahirnya alat musik yang saat ini dikenal (Gordang Sembilan). Bukan tanpa alasan, sebab di dalam alat yang terbuat dari bambu itu terdapat bagian-bagian musik yang dipakai gordang seperti, mok-mok, obung dan senar. Khusus di wilayah Mandailing, alat musik ini dikenal dengan sebutan Gondang Bulu.



Nungneng disebut juga Tanggelong, yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari tali atau dawai. Tetapi cara memainkanya dengan cara dipukulkan pada suatu benda.

Tak mudah untuk membuat alat musik Nungneng ini. Setidaknya butuh waktu berbulan-bulan untuk merangkainya. Fokus dan ketelitian dalam pembuatan alat musik itu sangat diperlukan. Sebab, apabila terjadi sedikit kesalahan, maka hasilnya akan menjadi sia-sia.

Senar, bagian alat musik Nungneng yang tersulit untuk diracik. Senar berasal dari kulit bambu, sehingga diperlukan kelihaian dan ketelitian dalam mengupas dan membentuknya. Bambu yang akan dijadikan Nungneng harus bambu tua karena tidak mudah pecah.

”Kalau ada retak sedikit aja, maka suaranya akan berbeda, sehingga dibutuhkan bambu yang tua,”tutur Arjul Parluhutan Harahap, salah seorang pembuat alat musik Nungneng kepada SINDOnews ketika ditemui pada acara puncak perayaan HUT Pemko Padangsidimpuan ke-17, baru-baru ini.

Dia mengungkapkan, bambu tersebut tidak bisa dijemur langsung dibawah matahari. Sebab, batang bambu akan pecah. ”Penjemurannya harus di tempat yang sejuk, agar tidak pecah,” imbuhnya.

Butuh waktu tiga sampai empat hari agar proses penjemuran bambu itu. Kesabaran dari seorang pembuat Nungneng juga dibutuhkan. Alasannya, ketika proses pembuatan, emosi harus dijaga, sehingga tidak ada yang salah. Sebagai pembuat Nungneng, dia mengucapkan terima kasih kepada panitia kegiatan HUT Pemkot Padangsidimpuan.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak