alexametrics

Kodam: Selain Menyekap, OPM Juga Memperkosa Korban di Mapenduma

loading...
Kodam: Selain Menyekap, OPM Juga Memperkosa Korban di Mapenduma
Kodam XVII/Cenderawasih menyebut bahwa Kelompok Kriminalitas Separatis Bersenjata (KKSB) atau sering disebut Organisasi Papua Merdeka (OPM) selain menyekap juga memperkosa korbannya di Mapenduma. Ilustrasi/SINDOnews
A+ A-
JAYAPURA - Kodam XVII/Cenderawasih menyebut bahwa Kelompok Kriminalitas Separatis Bersenjata (KKSB) atau sering disebut Organisasi Papua Merdeka (OPM) selain menyekap juga memperkosa korbannya di Mapenduma. "Sesuai dengan laporan yang kami terima dari jajaran bahwa betul telah terjadi penyekapan terhadap para guru dan tenaga medis yang bertugas di Mapenduma oleh KKSB sejak tanggal 3 Oktober hingga 17 Oktober 2018," Kata Kapendam XVII/Cenderawasih Kol Inf Muhammad Aidi kepada SINDOnews, Senin (22/10/2018).

Salah seorang korban berinisial MT memberikan keterangan terkait kejadian penyekapan dan pemerkosaan terhadap Tenaga Guru dan Tenaga Kesehatan di Distrik Mapenduma Kabupaten Nduga, Papua.

MT menjelaskan bahwa mereka adalah rombongan pertama yang masuk ke Distrik Mapenduma pada Rabu 3 Oktober 2018 bersama-sama dengan tiga rekan lainya antara lain: EL (guru SD) Suku Flores, LY (guru SMP) Suku Toraja dan FN (guru SMP) Suku Paniai. Mereka ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Nduga untuk memberikan pelayanan pendidikan di Distrik Mapenduma.

"Pada saat mereka tiba di Bandara Mapenduma MT bersama tiga rekannya disambut dan dikepung oleh Pok KKSB lengkap dengan senjata api berbagai jenis. Setelah pesawat jenis Caravan yang ditumpangi sdri MT dan rekan-rekanya meninggalkan Bandara Mapenduma, Pimpinan dari KKSB mengambil alih pasukan. Mereka mengumpulkan dan melakukan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap MT dan kawan-kawannya. Mereka menyita HP dan KTP. Kami tidak tahu persis berapa jumlah mereka tapi kami perkirakan diatas 20 orang," kata Kapendam.

Setelah dikumpulkan dan dilakukan pemeriksaan MT bersama rekanya diarahkan oleh Kepala Sekolah untuk tinggal di perumahan guru. MT menempati sebuah rumah bersama dua orang temannya. Pimpinan KKSB menyampaikan bahwa tenaga guru dan tenaga kesehatan tidak boleh keluar rumah sebelum acara KKSB di distrik Mapenduma selesai. Tidak diketahui acara apa yang dimaksud.

MT menyampaikan bahwa sekitar 1 minggu (lupa hari dan tanggalnya) semenjak mereka disekap. Suatu malam sekitar pukul 00.30 WIT telah datang ke tempat tinggal MT anggota KKSB sebanyak tujuh orang yang tidak dikenal dengan cara mencongkel jendela belakang rumah dan masuk kedalam rumah yang ditempati MT dan dua orang rekannya.

Anggota KKSB berjumlah tujuh orang masuk ke rumah, mereka langsung memadamkan listrik rumah dan pada saat itu dalam kondisi hujan deras.

MT dan teman-temannya sudah berupaya berteriak dan meminta pertolongan karena merasa takut, namun tidak ada yang mendengar. Kami diancam dengan todongan senjata dan diperkosa secara bergilir oleh lima orang dari tujuh anggota KKSB tersebut.

Menurut MT, sekitar Pukul 03.30 WIT Anggota KKSB baru meninggalkan rumah. Pada pagi harinya MT melaporkan kepada kepala sekolah apa yang telah dialami semalam bersama temannya di rumah guru tempat mereka disekap.

"Setelah kejadian tersebut para guru dan tenaga kesehatan dikumpulkan dan diungsikan ke perumahan puskesmas distrik Mapenduma. Dimana ditempat tersebut sudah ada yang lain dengan rincian Guru SMP sejumlah 6 orang, Guru SD sejumlah 3 orang, dan Tenaga Kesehatan perempuan sejumlah 4 orang sedangkan Saya bertiga dengan teman. Jadi jumlah seluruhnya 16 orang," MT menuturkan.

Setelah berselang 1 minggu tepatnya pada hari Kamis tanggal 18 Oktober para tenaga guru dan tenaga kesehatan dipulangkan menuju Wamena dengan dikawal oleh KKSB lengkap dengan senjatanya sampai ke Bandara Mapenduma.

Sebelum mereka naik pesawat pimpinan KKSB mengancam akan membunuh semua tenaga guru dan tenaga kesehatan apabila ada yang melapor ke pihak Aparat Keamanan.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak