alexametrics

Cerita Pagi

Misteri Salakanegara, Kerajaan Tertua di Nusantara

loading...
Misteri Salakanegara, Kerajaan Tertua di Nusantara
Salakanegara diyakini oleh sebagian masyarakat adalah sebagai kerajaan tertua di nusantara jauh sebelum Kerajaan Kutai. Foto/IndoCropCircles.com
A+ A-
Salakanegara diyakini oleh sebagian masyarakat adalah sebagai kerajaan tertua di nusantara jauh sebelum Kerajaan Kutai. Dimana sebelumnya menurut berbagai literatur dan buku sejarah Kerajaan Kutai ditetapkan sebagai kerajaan tertua dan pertama di Nusantara. Hal ini berdasarkan adanya bukti adanya beberapa arca dan naskah Wangsekerta (sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Kuno yang berasal dari Cirebon).

Dimana pada naskah tersebut disebutkan bahwa Kerajaan Salakanegara didirikan pada 130 Masehi oleh Dewawarman dengan beribukota di Rajatapura (sekarang masuk wilayah Teluk Lada, Pandeglang, Banten). Konon, Kota Rajatapura inilah yang disebut Argyre oleh Claudius Ptolemaeus, seorang ahli geografi, astronom, dan astrolog Romawi.

Claudius Ptolemaeus menyebutkan sebuah negeri bernama Argyrè yang terletak di wilayah Timur Jauh. Negeri ini terletak di ujung barat Pulau Iabodio yang selalu dikaitkan dengan Yawadwipa yang kemudian diasumsikan sebagai Jawa. Argyrè sendiri berarti perak yang kemudian ”diterjemahkan” oleh para ahli sebagai Merak.

Sementara seorang sejarawan Sunda, Dr Edi S. Ekajati, memperkirakan bahwa letak ibukota Kerajaan Salakanegara adalah Kota Merak sekarang. Dalam bahasa Sunda, Merak artinya 'membuat perak'.

Sedangkan sebuah berita China yang berasal dari tahun 132 M menyebutkan wilayah Ye-tiao yang sering diartikan sebagai Yawadwipa dengan rajanya Pien yang merupakan lafal China dari bahasa Sansakerta Dewawarman.

Salakanegara adalah Kerajaan Hindu yang mempunyai beberapa kerajaan kecil sebagai bawahan. Kerajaan-kerajaan itu tersebar di Provinsi Banten sekarang Jawa Barat, Selat Sunda hingga ke Provinsi Lampung yaitu, Pertama, Kerajaan Agnynusa yang terletak di Pulau Krakatau, Selat Sunda, atau tepat di kaki Gunung Krakatau.

Kedua, Kerajaan Aghrabinta di Pulau Panaitan, yang berada di Selat Sunda dengan ibukotanya adalah Aghrabintapura. Hal ini berdasarkan data arkeologi dari Pulau Panaitan yang ditemukan arca Siwa, Ganesha dan Lingga Semu/Lingga Patok. Sekarang arca itu disimpan di Museum Negeri Sri Badhuga, Bandung, dengan nomor inventaris 306.2981.

Ketiga, Kerajaan Nusamandala yang berkedudukan di Pulau Sangiang. Dimana pulau ini juga masih berada di Selat Sunda, tepatnya di sebelah barat lepas pantai Kota Cilegon.

Keempat, Kerajaan Hujung Kulo yang berkedudukan di Ujung Kulon, Pandeglang, Banten. Berdasarkan buku 'Sejarah Jawa Barat' (Yuganing Rajakawasa) karya Drs Yoseph Iskandar, bahwa raja daerah Kerajaan Hujung Kulon yang pertama adalah Senapati Bahadura Harigana Jayasakti, adiknya Dewawarman I.

Kelima, Kerajaan Tanjung Kidul (daerah Pelabuhanratu, Sukabumi). Tanjung Kidul adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu yang didirikan di Selatan Jawa Barat, hingga Cianjur sekarang. Rajanya ialah Swetalimansakti, adik dari Senapati Bahadura dan Dewawarman I.

Dari kerajaan-kerajaan yang ada dibawah kendalinya tersebut, itu artinya seluruh Selat Sunda berhasil dikuasai Dewawarman I ini, sehingga ia digelari “Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara” atau “Raja Penguasa Gerbang Lautan” (Yogaswara, 1978:38).

Selain itu Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda, hal dikarenakan wilayah peradaban Salakanagara sama persis dengan wilayah peradaban orang Sunda selama berabad-abad. Dan yang memperkuat lagi adalah kesamaan kosakata antara Sunda dan Salakanagara.

Disamping itu ditemukan bukti lain berupa Jam Sunda atau Jam Salakanagara, suatu cara penyebutan Waktu/Jam yang juga berbahasa Sunda.

Konon Kerajaan Salakanagara berdiri hanya selama 232 tahun, tepatnya dari tahun 130 Masehi hingga tahun 362 Masehi. Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman VIII atau Prabu Darmawirya Dewawarman terakhir hingga tahun 363 Masehi.

Pada masa kekuasaan Dewawarman VIII, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.
halaman ke-1 dari 3
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak