alexametrics

Kodam Tolak Konsep Neles Tebay soal Gencatan Senjata dengan OPM

loading...
Kodam Tolak Konsep Neles Tebay soal Gencatan Senjata dengan OPM
Kodam XVII/Cenderawasih menolak konsep gencatan senjata dengan OPM atau Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) yang ditawarkan Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) Dr Neles Tebay. Ilustrasi OPM
A+ A-
JAYAPURA - Kodam XVII/Cenderawasih menolak konsep gencatan senjata dengan OPM atau Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) yang ditawarkan Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) Dr Neles Tebay. Dimana sebelumnya Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) ini mengatakan bahwa untuk menghentikan konflik di Papua maka diperlukan gencatan senjata antara TNI/Polri dengan TPN atau KKSB. Sehingga Neles Tebay minta agar TNI/Polri dan KKSB sama-sama meletakkan senjata agar bisa berdamai dan saling berangkulan.

"Ini cara berpikir yang sangat keliru. Bagaimana mungkin Negara dalam hal ini TNI/Polri dituntut melaksanakan gencatan senjata dengan pemberontak yang telah melakukan serangkaian aksi kekerasan," kata Kapendam XVII/Cenderawasih Kol Inf Muhammad Aidi dalam pernyataan tertulis yang dikirimkan ke SINDOnews, Kamis (11/10/2018).

Menurut perwira menengah penyandang brevet Komando ini, saat KKSB melaksanakan serangkaian aksi kekerasan seperti penyanderaan ribuan warga sipil di Tembagapura, pembakaran fasilitas umum, puluhan rumah warga di Banti Kompleks, penganiayaan dan pemerkosaan terhadap guru sukarelawan di Arwanop, penembakan pesawat sipil dan pembantaian terhadap warga bahkan anak kecil di Nduga, pembantaian terhadap pekerja jalan di Mugi, serta penembakan terhadap aparat keamanan TNI/Polri di Puncak Jaya Neles Tebay kok tidak pernah bersuara.

"Giliran sekarang aparat keamanan sedang melaksanakan penegakkan hukum guna menjamin kepastian dan kewibawaan hukum di Negara berdaulat NKRI ini tiba-tiba Neles Tebay muncul minta aparat keamanan meletakkan senjata," timpal Aidi.

Aidi menegaskan, sifat-sifat Negara menurut Prof Miriam Budiardjo seorang pakar ilmu politik Indonesia dan mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang menjelaskan Pertama, bahwa negara negara mempunyai sifat memaksa dalam arti mempunyai kekuasaan untuk memakai kekerasan fisik secara legal agar peraturan perundang-undangan ditaati. Sehingga penertiban dalam masyarakat tercapai dan timbulnya anarki dapat dicegah. Sarana untuk melakukan hal itu antara lain polisi, tentara, dan lembaga pengadilan.

Kedua, negara mempunyai sifat monopoli dalam menetapkan tujuan bersama dari masyarakat. Dalam hal ini negara dapat menyatakan, bahwa suatu aliran kepercayaan atau aliran politik, organisasi tertentu dilarang hidup dan disebarluaskan, oleh karena dianggap bertentangan dengan tujuan masyarakat dan Negara dan berpotensi merongrong kedaulatan Negara.

Ketiga, semua peraturan perundang-udangan berlaku untuk semua orang tanpa kecuali. Termasuk mereka yang menolak NKRI tapi hidup di wilayah NKRI. Keadaan demikian memang perlu, sebab kalau seseorang dibiarkan berada di luar lingkup aktivitas negara, maka usaha negara ke arah tercapainya masyarakat yang dicita-citakan akan gagal.

"Bila memahami kutipan tersebut, maka TNI/Polri selaku alat Negara yang sah menurut UU wajib dipersenjatai. Tetapi sekelompok orang mengangkat senjata secara illegal, apalagi untuk melakukan perlawanan atau pemberontakan serta tindakan kekerasan terhadap Negara yang berdaulat tidak dibenarkan oleh hukum manapun di seluruh dunia," timpal Aidi

Menurut Kapendam, tidak ada satupun Negara di seluruh dunia yang tinggal diam atau membiarkan bila di negaranya terjadi tindakan kekerasan, pemberontakan atau perlawanan terhadap Negara. Termasuk di Negara Vanuatu dan Solomon yang suka koar-koar mendukung pemberontak di Indonesia.

"Bila Neles Tebay menginginkan konflik vertikal di Papua berakhir harusnya dia mengimbau saudara-saudara kita yang masih berseberangan menyerahkan diri dan senjatanya kepada pihak berwajib, karena perbuatan dan tindakan mereka nyata-nyata melanggar hukum," ujar Aidi.

Kehadiran TNI/Polri, lanjut Aidi, bukan untuk memusuhi rakyat sebagaimana yang diuraikan oleh Neles Tebay dalam rilisnya, justru merekalah (KKSB) yang menyatakan permusuhan dan melakukan perlawanaka terhadap Negara yang berdaulat.

"Bahkan beberapa waktu yang lalu KKSB viralkan lewat youtube dan medsos lainnya bahwa KKSB menyatakan perang terbuka kepada TNI/Polri. Jadi jangan dibolak-balik kondisinya," kata Aidi.

Soal perdamaian dengan KKSB, ungkap dia, TNI/Polri selalu membuka tangan selebar-lebarnya bila mereka dengan kesadaran sendiri menyerahkan diri berikut senjatanya kepada pihak yang berwajib.

"Kami jamin keamanan dan keselamatannya. Sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara kita yang sudah sadar dari mimpi-mimpi buruknya, di beberapa wilayah mereka telah menyerahkan diri beserta senjatanya bergabung ke NKRI seperti pada bulan Maret 2017 di Kab Puncak pok TPN/OPM pimpinnan Utarenggen Telenggen beserta 155 orang simpatisannya. Kemudian pada bulan Desember di wilayah Tingginambut Puncak Jaya kelompok TPN/OPM pimpinan Wanis Tabuni saudara kandung Goliat Tabuni bersama 277 simpatisannya juga turun gunung dan mereka banyak yang sudah bekerja sebagai Satpol PP yang difasilitasi oleh Pemda, serta pada bulan Agustus 2017 di wilayah Yapen Waropen kelompok TPN/OPM pimpinan Corinus bersama 377 militan dan simpatisannya serta menyerahkan 30 pucuk senjata api dan campuran serta sejumlah munisi dan menyatakan kesetiaannya kepada NKRI," papar Aidi.

Namun di sisi lain telah terjadi perang antarwarga di Oxibil Pegunungan Bintang, di Wamena, Tolikara, Kwamki Mimika dan lain-lain. Kok Neles Tebay tidak membahas itu, tidak mendorong mereka untuk melaksanakan genjatan senjata?.

"Kalau peduli tentang perdamaian sebagaimana telah mengklaim dirinya sebagai koordinator Jaringan Damai Papua (JDP), harusnya Neles Tebay mengurus itu, damaikan mereka jangan malah diam. Selaku koordinator JDP apa yg telah dilakukan Tebay untuk mendamaikan perang suku dan konflik antar warga di Papua," tandas Kapendam.
(sms)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak