alexametrics

Asap Kebakaran Gunung Sindoro-Sumbing Tak Ganggu Penerbangan

loading...
Asap Kebakaran Gunung Sindoro-Sumbing Tak Ganggu Penerbangan
Asap kebakaran hutan dan lahan di Gunung Sindoro dan Sumbing belum mengganggu penerbangan dan masyarakat sekitar. FOTO/iNews/TAUFIk BUDI
A+ A-
WONOSOBO - Kebakaran yang melanda kawasan hutan dan lahan di Gunung Sumbing dan Sindoro masih belum bisa diatasi. Meski demikian, asap yang ditimbulkan belum mengganggu penerbangan maupun aktivitas warga sekitar.

"Asap sampai hari ini belum menggangu penerbangan dan masyarakat, karena yang terbakar hanya semak-semak," kata Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sarwa Pramana, Minggu (16/9/2018).

Dia mengatakan, luas lahan yang dilalap api hingga saat ini sudah mencapai 800 hektare dengan kerugian sekitar Rp160 juta. Api hanya membakar semak belukar dan tidak merambat ke daerah permukiman warga. (Baca juga: Helikopter Gagal Padamkan Api, BPBD Jateng Kerahkan Pawang Hujan)

"Kerugian sampai hari ini enggak lebih dari Rp160 juta, itu kata dari Perhutani. Jadi (kebakaran) tidak kena ke pohon produktif. Belum sampai di daerah permukiman dan pertanian," katanya.

Menurut Sarwa, ribuan petugas gabungan masih diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan pemadaman. Dua gunung yang berlokasi di Magelang, Temanggung, dan Wonosobo itu membutuhkan upaya bersama agar bisa segera menjinakkan api.

"Untuk Temanggung ada 700 personel, kalau Wonosobo sekitar 200-300 orang. TNI-Polri dilibatkan dalam upaya pemadaman. Kalau anggaran dari pihak Perhutani sanggup membiayai, di samping ada juga dari pemerintah daerah. Anggaran saya tidak bilang karena itu punya Perhutani, sebagian punya pemerintah daerah dan dinas sosial masing-masing daerah," katanya. (Baca juga: Hutan di Gunung Sindoro Kebakaran, Semua Jalur Pendakian Ditutup)
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak