alexametrics

Komunitas 1.000 Guru Berbagi Inspirasi dengan Anak Pedalaman

loading...
Komunitas 1.000 Guru Berbagi Inspirasi dengan Anak Pedalaman
Komunitas 1.000 Guru Berbagi Inspirasi dengan Anak Pedalaman
A+ A-
MURID-MURID SDN Mata Wee Tame, Desa Lolo Wano, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, menyambut antusias berdirinya gedung perpustakaan dan sarana air bersih di sekolah mereka.

Peresmian perpustakaan dilaksanakan pada Kamis (16/8) lalu. Acara ini merupakan bagian dari komitmen PT Fast Food Indonesia (KFC Indonesia) dan Yayasan 1000 Guru Pelita Bangsa (Komunitas 1.000 Guru) terhadap kelanjutan pendidikan anak-anak pedalaman.

Tidak memiliki kondisi yang layak dan minim fasilitas menjadi alasan utama sekolah ini mendapat donasi dan menjadi salah satu sekolah yang masuk dalam Smart Center Project Komunitas 1.000 Guru dan KFC Indonesia.



Smart Center Project 1000 Guru merupakan program peduli pendidikan melalui pemberian makanan bernutrisi ke anak-anak sekolah di pedalaman, salah satunya SD Mata Wee Tame ini. Sampai saat ini sudah ada 35 smart center yang tersebar di Indonesia.

General Manager Marketing KFC Indonesia Hendra Yuniarto mengatakan program ini telah membantu meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak dan guru di pedalaman Indonesia.

“Pemberian makanan pagi atau sarapan berupa telur, susu dan kacang hijau dua kali dalam seminggu yang kami lakukan guna membantu proses belajar mereka,” kata Hendra. SDN Mata Wee Tame merupakan sekolah paralel yang dibangun dari hasil swadaya masyarakat.

“Kegiatan belajar mengajar di SDN (paralel) Mata Wee Tame, dulu, berpindah-pindah. Luasnya wilayah desa dan jarak rumah ke sekolah induk cukup jauh, sekitar 4 kilometer, jadi kendala utama anak-anak di sini tidak dapat sekolah dengan baik,” sebut Kepala Desa Lolo Wano Dominggus Dapa Tabi.

Sempat berpindah-pindah lokasi dari posyandu ke gereja dan gedung darurat, tak menyurutkan semangat anakanak di desa ini untuk bersekolah. “Awal didirikan sekolah ini hanya memiliki 44 murid.

Namun, pada tahun ini dari enam rombongan belajar (rombel), sudah ada 123 anak,” kata penanggung jawab sekolah Enos Mandenas. Diharapkan dengan adanya perpustakaan ini bisa menjadi tempat untuk anak-anak belajar.

Jemi Ngadiono, founder Komunitas 1.000 Guru, mengatakan “Tidak hanya menjadi perpustakaan, tapi gedung ini bisa menjadi ruang belajar baru. Karena selama ini jika hujan turun, anak-anak kabur.

Belum lagi kelas yang tidak nyaman karena aktivitas ruang sebelah terdengar. Semoga perpus takaan ini berguna,” harapnya. Ditambahkan Enos, sekolah di wilayah ini masih membutuhkan perhatian dan dukungan dari semua pihak untuk keberhasilan anak-anak didik.

“Karena untuk mereka melanjutkan ke jenjang selanjutnya berjarak 40 kilometer dari desa ini,” kata Enos. Tak hanya mendirikan perpustakaan dengan koleksi buku komik, novel dan ensiklopedia, donasi ini juga membuat sarana air bersih di area sekolah.

“Karena desa ini belum dialiri listrik, sarana air masih tergantung dengan genset. Dengan adanya aliran air bersih ini, tak hanya membantu sekolah namun juga sudah dipakai puskesmas setempat,” sebut Jemi.

Selain peresmian perpustakaan dan sarana air bersih, diadakan juga perayaan hari kemerdekaan ke-73 dengan melakukan upacara bendera di SD Rapamanu. Sekolah ini terletak di Bukit Rapamanu, Kota Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Setelah upacara bendera, acara diisi dengan berbagai pertunjukan dari siswa SD Rapamanu. Beberapa murid perempuan yang memakai baju adat membawakan Tarian Kadingang, atau tarian selamat datang menyambut tamu.

Dilanjutkan dengan tarian Potong Bebek Angsa dan Sajojo . Sementara, Smart Center Project merupakan program kolaborasi antara KFC Indonesia dan Yayasan 1.000 Guru Pelita Bangsa. Keterlibatan KFC Indonesia ini merupakan bentuk komitmen restoran siap saji ini pada dunia pendidikan di Indonesia, khususnya di pedalaman.
(don)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak