alexametrics

Masjid As Salaf Purwakarta, Rumah Ibadah Tanpa Pengeras Suara

loading...
Masjid As Salaf Purwakarta, Rumah Ibadah Tanpa Pengeras Suara
Masjid As Salaf di Kampung Ciganea, Desa Melargalih, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, tak menggunakan pengeras suara. FOTO/SINDOnews/ASEP SUPIANDI
A+ A-
PURWAKARTA - Masjid As Salaf yang berada di Kampung Ciganea, Desa Mekargalih, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat terbilang cukup unik. Bagaimana tidak, bangunan tanpa kubah dan menara ini tetap mempertahankan wasiat almarhum Kiai Idris Khudori sebagai pendiri dari masjid dan pesantren di wilayah itu, yakni tanpa menggunakan pengeras suara.

Riwayat Masjid As Salaf, menurut Kiai Hasan Basri, selaku penerus Kiai Idris Khudori, masjid tersebut sudah berdiri sejak 1960 lalu. Namun akibat adanya pembangunan Tol Cipularang, masjid pun dipindah ke tempat kini berdiri.

Mekanisme pemindahan tersebut dikenal dalam Agama Islam sebagai tabdil, yaitu mengganti tanah dan bangunan wakaf dengan sesuatu yang nilainya sesuai. Syaratnya, tanah dan bangunan pengganti itu harus difungsikan dengan fungsi sama.



"Sejak 1960, keadaannya tidak menggunakan pengeras suara untuk semua kegiatan. Ya, baik azan maupun pengajian. Ini berdasarkan wasiat Kiai Idris Khudori," tutur Kiai Hasan.

Semasa hidup, Kiai Idris Khudori sering menyampaikan kepada para santri tentang sebuah nilai ibadah. Menurut dia, ibadah harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak mengganggu lingkungan sekitar. "Tujuannya agar tenang dan lebih khidmat. Jadi, tidak ada anggota masyarakat yang terganggu," katanya.

Sementara itu, Ketua DPD Golkar Jabar yang juga mantan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi yang berkesempatan beritikaf di Masjid As Salaf, berpendapat, masjid tersebut merupakan simbol cara para ulama menyampaikan dakwah Islam. Kekuatan ulama terdahulu terletak pada kekuatan kalimat dakwah, bukan kekuatan pengeras suara.

"Pesan agama yang disampaikan ulama itu penuh kelembutan dan ketenangan. Beliau (Kiai Idris Khudori) tidak menjadikan panjang pendeknya kalimat sebagai perhatian utama. Sebab, kekuatan kalimat yang disampaikan itu paling penting," kata Dedi di lokasi masjid, Senin (27/8/2018).

Ketenangan tersebut, lanjut dia, menjadi teladan bagi jamaah dan masyarakat sekitar masjid. Karena ceramah kiai mengena ke dalam sanubari tanpa perantara piranti lain. "Ucapannya memang tidak keras tetapi amat jelas masuk ke dalam hati. Hari ini, fenomenanya terbalik, telinga kita mendengar tetapi tidak masuk ke dalam hati," katanya.

Dedi pernah menawarkan bantuan saat masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta untuk renovasi masjid. Akan tetapi, bantuan itu selalu ditolak secara halus oleh Kiai Idris Khudori selaku pemilik. "Kalau untuk masjid, almarhum selalu menolak halus. Jadi saat itu bantuannya dialihkan ke pesantren beliau," kata Dedi.
(amm)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak