alexametrics

UMKM Eks Lokalisasi Dolly Dapat Bantuan Pakis ITS

loading...
UMKM Eks Lokalisasi Dolly Dapat Bantuan Pakis ITS
Mahasiswa Departemen Teknik Mesin Industri ITS menciptakan Pelorod Batik Semi Otomatis (Pakis ) yang diberikan ke UMKM yang ada di eks Lokalisasi Dolly. Foto/SINDOnews/Aan Haryono.
A+ A-
SURABAYA - Eks lokalisasi Dolly masih memunculkan pamor di Surabaya. Kali ini, pamor yang dihadirkan berupa produktifitas batik tulis yang terus diminati masyarakat.

Nah, untuk mempercepat laju produksi batik tulis, pada usaha mikro kecil menengah (UMKM) di kawasan eks lokalisasi Dolly, mahasiswa Departemen Teknik Mesin Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan sebuah mesin pelorod batik.

Mesin yang diberi nama Pelorod Batik Semi Otomatis (Pakis) ini diciptakan empat mahasiswa yakni Sandi Putra Rachmadi, Laraz Bidari, Duviky Erison dan Hilda Dwi Anggraini.



Mereka menciptakan mesin tersebut didasari atas hasil produksi batik tulis UKM Jarak Arum yang masih cukup rendah. Produktivitas batik tulis yang dihasilkan UMKM tersebut masih 20 kain per bulan dengan penghasilan sebulan Rp5 juta.

“Terlihat bahwa dalam jangka waktu tiga tahun dengan hasil yang diperoleh, maka produktivitas batik tulis di UMKM tersebut terhitung masih rendah,” ujar Sandi, Rabu (18/7/2018).

Hasil produksi yang masih rendah tersebut disebabkan oleh proses pembuatan batik yang sebagian besar masih menggunakan cara tradisional. Khususnya pada proses pelunturan malam kain atau yang biasa disebut proses pelorodan.

Cara tradisional yang dipakai dalam proses pelorodan malam pada UMKM ini dilakukan dengan merebus kain satu per satu yang telah dipola dan dikunci dengan malam ke dalam air mendidih yang telah diberi soda abu di dalam kuali.Kemudian diaduk dan diangkat menggunakan kayu beberapa saat, lalu dicelupkan kembali ke dalam kuali.Selanjutnya menuju proses pengangkatan dan pencelupan kain dilakukan berulang-ulang sampai malam luntur, lalu diangkat kembali menggunakan kayu.Setelah diangkat, kain tersebut diperiksa apabila masih ada malam yang menempel. Bila masih ada, maka dilakukan proses pengerikan malam menggunakan pisau tumpul.
Menurut Sandi, hal itu sangat tidak efisien ditinjau dari segi waktu pada proses pelorodan yang membutuhkan waktu tujuh menit setiap kainnya. “Di samping itu, sisi keselamatan pekerja dari bahaya percikan air panas saat proses pelorodan malam juga perlu dipertimbangkan,” ungkapnya.

Makanya, ia dan timnya berinisiatif membuat Pakis yang dapat mempermudah proses pelorodan malam pada pembuatan kain batik tulis tersebut. Mesin ini dapat memproses maksimal empat kain batik sekaligus dalam sekali kerja. “Ini akan lebih efisien dibandingkan dengan menggunakan cara tradisional,” ucapnya.

Sandi juga menjelaskan, mesin pelorod semi otomatis ini juga dilengkapi dengan water heater. Komponen utama mesin pelorod malam kain batik ini adalah motor listrik, gearbox, belt dan pulley, palang penumpu, dan bak penampung air panas.

Untuk prinsip kerja mesin, katanya, dilakukan dengan merebus kain batik ke dalam kuali dan memutar dengan putaran searah dan berlawanan arah jarum jam menggunakan motor listrik, seperti prinsip kerja pada mesin cuci. Kemudian kain dapat diangkat dengan menggunakan tuas untuk mengetahui hasil dari pelorodan.

Selain itu, mesin ini juga sudah dilengkapi timer yang nantinya mesin dapat mati sendiri ketika proses pelorodan sudah selesai. “Hal ini dapat meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja bagi para pekerja saat proses produksi, dan kami harapkan hal ini dapat meningkatkan hasil produksi UMKM tersebut,” jelasnya.

Mesin yang diproduksi dengan menelan biaya sebesar Rp8 juta tersebut, kini sudah dihibahkan dan digunakan oleh UMKM Jarak Arum di kawasan eks lokalisasi Dolly untuk produksi kain batik tulis mereka.

Sandi dan rekan-rekannya berharap dengan terobosan yang mereka lakukan ini dapat membantu UMKM tersebut, sehingga hasil penjualan batik tulis mereka kian meningkat untuk ke depannya.
(vhs)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak