alexametrics

Warga Kali Manggis Minta Pemkab Temanggung Segera Salurkan Bantuan Air Bersih

loading...
Warga Kali Manggis Minta Pemkab Temanggung Segera Salurkan Bantuan Air Bersih
Warga Kali Manggis, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah mengambil air di sumber air yang berada di Desa Ngoho, Sumowono, Kabupaten Semarang, Minggu (24/6/2018). Foto/SINDOnews/Angga Rosa
A+ A-
TEMANGGUNG - Warga Desa Kali Manggis, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temangggung, Jawa Tengah sejak tiga bulan lalu mengalami krisis air bersih. Mereka sangat mengharapkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung dan pihak lain lantaran kesulitan mendapatkan air bersih.

Untuk mendapatkan air bersih, mereka harus ngangsu (mengambil air) di sumber air yang belum mengering yang berada di daerah perbatasan Kabupaten Temanggung dengan Kabupaten Semarang. Itu pun harus antre sejak pagi hari.

Apabila membutuhkan air bersih dalam waktu cepat, warga terpaksa harus membeli air di daerah Kaloran dengan harga Rp15.000 per jeriken kapasitas 20 liter atau Rp300.000 per tangki kapasitas 5.000 liter.

"Kondisi ini (kesulitan air bersih) sudah berlangsung selama tiga bulan. Setiap hari, saya harus bolak-balik ngangsu air ke sumber air paling tidak 10 jeriken. Warga minta Pemkab Temanggung segera menyalurkan bantuan air bersih," kata Warsiti (39), warga Kali Manggis, Minggu (24/6/2018).



Warga juga berharap, Pemkab Temanggung bisa memberikan solusi kepada warga untuk mengatasi krisis air bersih setiap musim kemarau seperti membuat sumur dalam dan tempat penampungan air bersih.

Warga Kali Manggis, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah mengambil air di sumber air yang berada di Desa Ngoho, Sumowono, Kabupaten Semarang, Minggu (24/6/2018). Foto/SINDOnews/Angga Rosa
Warga lain, Darmi (43) menuturkan, selama musim kemarau yang telah berlangsung sekitar tiga bulan, warga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk ngangsu atau membeli air bersih yang jaraknya cukup jauh dari rumah.

"Tempat untuk ngangsu air atau membeli air cukup jauh. Agar cepat, ngangsu air pakai motor. Itu membutuhkan biaya untuk membeli BBM (bahan bakar minyak)," ucapnya.

Tak hanya itu, selama krisis air bersih, warga juga harus menghemat pemakaian air. Mereka hanya menggunakan air untuk minum, memasak, dan mencuci piring. "Mandi dan mencuci baju saya lakukan di sungai. Ini untuk menghemat air bersih," pungkasnya.
(zik)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak